Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘kelas x’ Category

BAB I

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI

A. Surat Al-Mu’min Ayat 67, Al-Baqarah Ayat 30, Aż-Żāriyāt Ayat 56; Al-An‘ām Ayat 162 – 163, dan Al-Bayyinah Ayat 5

B. Pengayaan Materi tentang Ilmu Tajwid

C. Pengayaan Materi tentang Ilmu Al-Qur’an

Diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi sudah menimbulkan pertanyaan dari para malaikat. Sejarah membuktikan bahwa pernyataan malaikat itu benar adanya. Manusia tidak pernah berhenti membuat kerusuhan dan menumpahkan darah.

Sebagai orang yang beriman, kita harus berdakwah dan mengajak semua manusia ke dalam kebaikan. Hal itu merupakan tugas kita semua dalam mewujudkan agama Islam sebagai rahmatan lil-‘ālamin.

Kompetensi Dasar

1. Siswa mampu membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang kejadian manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

2. Siswa mampu membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang prinsip beribadah serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu mendeskripsikan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu

1. Membaca dan mengidentifikasi tajwid dalam Surat Al-Mu’min Ayat 67;

2. Menyimpulkan kandungan Surat Al-Mu’min Ayat 67 tentang proses kejadian manusia;

3. Menyimpulkan kandungan Surat Al-baqarah Ayat 30 tentang peranan manusia sebagai khalifah di bumi;

4. menyimpulkan kandungan Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56 yang berkaitan dengan tugas manusia sebagi makhluk;

5. menunjukkan perilaku sebagi hamba Allah swt;

6. menyimpulkan kandungan Surat Al-An‘ām Ayat 162-163 dan Al-Bayyinah Ayat 5 tentang keikhlasan dalam beribadah;

7. menunjukkan perilaku ikhlas dalam beribadah.

Tadarus

1. Surat Al-Mu’min ayat 67

Dia lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari (setitis) air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging; kemudian Ia mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian kamu (dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; kemudian kamu (dipanjangkan umur) hingga sampai menjadi tua. Dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan sebelum itu. (Allah melakukan kejadian yang demikian) supaya kamu sampai ke masa yang ditentukan (untuk menerima balasan); dan supaya kamu memahami (hikmat-hikmat kejadian itu dan kekuasaan Tuhan).

2. Surat Al-Mu’minūn Ayat 12 – 14

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari pati (yang berasal) dari tanah;

Kemudian Kami jadikan “pati” itu (setitis) air benih pada penetapan yang kukuh;

Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku. lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging; kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang; kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk dia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya. Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik-baik Pencipta.

3. Surat Al-Baqarah Ayat 30

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.

Mukadimah

Al-Qur’an adalah kalam Allah swt yang merupakan mukjizat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup.

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Hadis berikut ini menerangkan tentang keutamaan – keutamaan membaca Al-Qur’an.

Artinya :

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an (kelak) akan bersama duta-duta Allah swt. (malaikat) yang mulia lagi baik-baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tergagap-gagap (karena belum pandai) dan sangat payah membacanya, ia akan memperoleh dua pahala. (H.R. Bukhari – Muslim)

Membaca Al-Qur’an ada dua macam cara, yaitu tilāwah lafziyyah dan tilāwah hukmiyyah.

1. Tilāwah lafziyyah adalah membaca Al-Qur’an ayat demi ayat, surat demi surat dan juz demi juz. Cara membaca seperti ini sudah membudaya di kalangan kaum muslimin. Pada bulan suci Ramadhan, ayat – ayat suci al-Qur’an dibaca di musala, di masjid, di rumah, dan tempat – tempat lainnya.

2. Tilāwah Hukmiyyah adalah cara membaca Al-Qur’an diiikuti dengan mempelajari dan memahami kalimat demi kalimat, merenungkan kandungannya, serta mengamalkannya. Cara membaca seperti ni harus kita galakkan sehingga umat Islam tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengerti kandungan ayat – ayat Al-Qur’an.

Kedua cara membaca Al-Qur’an tersebut apabila diamalkan oleh kaum muslimin akan mendapat pahala dan keutamaan.

A. Surat Al-Mu’min Ayat 67, Surat Al-Baqarah Ayat 30, Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56, Surat Al-an‘ām Ayat 162 – 163, dan Surat Al-Bayyinah Ayat 5

Pembahasan beberapa surat dan ayat berikut ini meliputi kegiatan menyimak dan membaca, mengartikan per lafal, terjemahan lengkap, penerapan ilmu tajwid, serta ini sari.

1. Surat Al-Mu’min ayat 67

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca

b. Mengartikan Per Lafal

Lafal

Arti

 

Dialah (Allah)

yang menciptakan kamu

dari tanah

kemudian

dari setetes air mani

dari segumpal darah

melahirkan kamu

sebagai seorang anak

supaya kamu sampai

kepada kedewasaan kamu

dan supaya kamu sampai ke masa tua dan di antara kamu

ada yang diwafatkan

sebelum itu

dan supaya sampai

kepada ajal

yang ditentukan

dan supaya kamu

memahaminya

c. Terjemahan Lengkap

d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal

Hukum Bacaan

Alasan

 

ikhfa’

idgām bigunnah

izhār

ikhfā

gunnah

qalqalah

idgām bigunnah

Nun mati bertemu huruf ta

Nun mati bertemu huruf nun

Nun mati bertemu huruf ‘ain

Tanwin bertemu huruf sa

Huruf mim dalam keadaan tasydid

Huruf ba dalam keadaan sukun

Tanwin bertemu huruf mim

e. Inti Sari

Dari pembahasan tentang Al-Qur’an Surat Al-Mu’min Ayat 76 di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Allah swt menciptakan manusia dari tanah. Makna ayat tersebut menurut para mufasir adalah bahwa Allah swt menjadikan manusia dari sari pati yang berasal dari tanah. Seorang bapak dan seorang ibu mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuh – tumbuhan dan binatang. Tumbuh – tumbuhan hidup dengan mengambil unsur – unsur yang terdapt dalam tanah. Binatang ternak lalu memakan tumbuh – tumbuhan tersebut. Sari pati makanan yang dimakan bapak menjadi sel sperma, sedangkan sari pati makanan yang dimakan ibu menjadi sel telur. Sel sperma dan sel telur tersebut bertemu dalam rahim sehingga terjadi pembuahan. Peristiwa itu merupakan awal dari proses terciptanya manusia.

2. Allah swt menjelaskan bahwa manusia yang diciptakan-Nya akan mengalami tiga tahap kehidupan, yaitu

a. Masa kanak – kanak (tiflān);

b. Masa dewasa (asyuddakum);

c. Masa tua (syuyūkhan)

3. Di antara manusia ada yang meninggal pada masa kanak – kanak, ada yang meninggal pada masa dewasa, dan ada pula yang meninggal setelah berusia lanjut. Ketentuan mengenai kapan seseorang meninggal berada di tangan Allah swt semata

4. Proses kejadian manusia ini merupakan bahan renungan dan pemikiran bagi manusia sehingga mereka mau beriman kepada Allah swt, pencipta seluruh makhluk ini.

Dalam Surat Al-Mu’minūn Ayat 12, Allah swt, menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang berasal dari sari pati tanah atau sulālatin min clip_image002 Penegasan Al – Qur’an tersebut diperkuat oleh ilmu biologi.

Menurut ilmu biologi, manuisa, hewan, dan tumbuh – tumbuhan berasal dari tanah. Hal itu telah dibuktikan dengan meneliti abu bekas pembakaran makhluk – makhluk hidup tersebut. Setelah diteliti, ternyata abu bekas pembakaran manusia, hewan, dan tumbuh – tumbuhan mengandung unsur yang sama. Ke semua unsur tersebut terdapat dalam tanah. Unsur – unsur tersebut, antara lain oksigen (O2), hidrogen (H2), belerang (S), zat arang (C), kalium (K), natrium (Na), iodin (I), asam arang (CO2), dan air (H2O).

Dari beberapa ayat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia diciptakan dalam beberapa tahap. Beberapa tahap tersebut adalah sebagai berikut :

1) Sulālatin min clip_image004 adalah sari pati tanah yang didapatkan melalui makan yang dikonsumsi oleh manusia, baik berupa hewan maupun tumbuh – tumbuhan.

2) Nutfah adalah sel sperma yang dijadikan Allah swt dari sari pati tanah.

3) clip_image006qarārin clip_image008adalah tempat yang kukuh atau rahim. Sel sperma yang terbuat dari sari pati tanah tersebut, kemudian diletakkan di dalam rahim sehingga terjadi pembuahan.

4) ‘Alaqah adalah embrio yang merupakan hasil pembuahan dan berwujud gumpalan darah. Embrio ini terbentuk dari hari kesembilan sampai hari kesebelah setelah pembuahan.

5) Mudgah adalah segumpal daging yang terbentuk dari ‘alaqah.

6) Izām adalah mudgah yang telah diberikan tulang atau kerangka oleh Allah swt.

7) Khalaqan akhara adalah makhluk dalam bentuk yang lain atau manusia yang baru.

2. Surat Al – Baqarah Ayat 30

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca

b. Mengartikan Per Lafal

Lafal

Arti

 

ingatlah ketika

berkata

Tuhanmu

pada malaikat

sesungguhnya aku

hendak menjadikan

di muka bumi

seorang khalifah

mereka berkata

mengapa Engkau menjadikan

di bumi

orang

yang akan membuat kerusakan

di atas bumi

yang mengalirkan

darah

padahal kami

senantiasa bertasbih

dengan memuji Engkau

dari menyucikan Engkau

Tuhan berfirman

sesungguhnya Aku lebih tahu

sesuatu / apa

yang tidak kamu ketahui

c. Terjemahan Lengkap

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al – Baqarah : 30).

d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal

Hukum Bacaan

Alasan

 

gunnah

ikhfā’

qalqalah

idgām bigunnah

mad wājib muttasil

mad jā’iz munfasil

Nun bertasydid

Tanwin bertemu huruf fa

Huruf jim dalam keadaan sukun

Nun mati bertemu huruf ya

Seterlah huruf mad ada hamzah dalam satu lafal

Setelah huruf mad ada hamzah tidak dalam satu lafal

e. Inti Sari

Para malaikat terkejut ketika diberi tahu bahwa Allah swt akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Mereka bertanya kepada Allah swt mengapa Adam yang akan diangkat menjadi khalifah, padahal Adam dan keturunannya adalah makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Sebaliknya, para malaikat menganggap bahwa dirinya lebih pantas memangku jabatan ersebut sebab mereka senantiasa memuji dan menyucikan Allah swt sepanjang hidup mereka.

Allah swt tidak membenarkan anggapan para malaikat tersebut. Allah swt melakukan segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan hikmah–Nya. Allah swt mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat dan semua makhluk – Nya.

Khalifah adalah seseorang yang menjadikan pengganti atau seseorang yang diberi wewenang untuk bertindak atau berbuat sesuai dengan ketentuan – ketentuan dari yang memberi wewenang. Adapun yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam adalah kedudukannya sebagai wakil Allah swt di muka bumi. Ia berkewajiban melaksanakan perintah – perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang ada padanya. Hal itulah yang memunculkan ungkapan bahwa manusia adalah khalifatullah di bumi.

3. Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca

b. Mengartikan Per Lafal

Lafal

Arti

 

dan tidak

Aku ciptakan

Jin

dan manusia

kecuali

untuk beribadah kepada-Ku

c. Terjemahan Lengkap

Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S. Aż-Żāriyāt : 56)

d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal

Hukum Bacaan

Alasan

 

mad clip_image010

qalqalah

izhār

ikhfā’

Huruf mad alif berada setealh fathah

Huruf qaf dalam keadaan sukun

Alif lam bertemu huruf jim

Nun mati bertemu sin

e. Inti Sari

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah swt tidaklah menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah-Nya. Jin dan manusia dijadikan Allah swt untuk tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya. Hal itu diwujudkan dengna menaati semua peraturan Allah swt serta menerima segala takdir-Nya. Ayat tersebut juga menguatkan perintah kepada manusia untuk selalu berzikir dan beribadah kepada Allah swt.

4. Surat Al-An‘ām Ayat 162 – 163

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca

b. Mengartikan Per Lafal

Lafal

Arti

 

katakanlah

sesungguhnya

salatku

ibadahku

hidupku

matiku

hanyalah untuk Allah

Tuhan semesta alam

tidak ada sekutu

bagi-Nya

dan demikian itulah

yang diperintahkan kepadaku

dan aku

orang yang pertama

menyerahkan diri

c. Terjemahan Lengkap

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikia itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama – tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S Al- An‘ām : 162 – 163)

d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal

Hukum Bacaan

Alasan

 

gunnah

mad clip_image010[1]

clip_image012

izhār

mad ‘āridi lis-sukūn

Nun dalam keadaan tasydid

Huruf mad ya berada setealh harakat kasrah

Lam jalalah berada setelah harakat kasrah

Alif lam bertemu dengan ‘ain

Huruf mad ya bertemu sukun karena wakaf atau berhenti

e. Inti Sari

Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya mengatakan bahwa salatnya, ibadahnya, hidupnya, dan matinya adalah semata – mata untuk Tuhan semesta alam. Selain itu, dua ayat ini juga mengandung ajaran Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang harus disampaikan kepada umatnya. Ajaran itu berisi cara hidup seorang muslim di dunia ini. Semua amal ibadah harus dilaksanakan dengan tekun, ikhlas, tanpa pamrih, dan sepenuh hati karena Allah swt.

Seorang muslim harus yakin kepada kodrat dan iradat Allah swt. Hal itu disebabkan Allah swt adalah zat yang menentukan hidup dan mati seseorang. Oleh karena itu, seorang muslim tidak perlu takut mati dalam berjihad di jalan Allah swt. Seorang muslim juga tidak boleh takut kehilangan kedudukannya dalam menyampaikan dakwah Islam.

5. Surat Al-Bayyinah Ayat 5

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca

b. Mengartikan Per Lafal

Lafal

Arti

 

dan tidak

mereka disuruh

kecuali

supaya menyembah Allah

dengan memurnikan

ketaatan kepada-Nya

dalam menjalankan agama

dengan lurus

dan supaya mereka mendirikan

salat

dan menunaikan

zakat

dan yang demikian itulah

agama yang lurus

c. Terjemahan Lengkap

Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memeurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan slaat dan menunaikan zakat dan yang demikia itulah agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah : 5)

d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal

Hukum Bacaan

Alasan

 

mad jā’iz munfasil

clip_image014

mad clip_image010[2]

idgām syamsiyyah

mad wājid muttasil

izhār qamariyyah

Huruf mad bertemu hamzah di lain lafal

Lam jalalh berada setelah harakat damah

Huruf mad ya berada setelah harakat kasrah

Alif lam bertemu dengan huruf dal

Huruf mad betemu dengan hamzah dalam satu lafal

Alif lam betemu huruf qaf

e. Inti Sari

Dalam ayat tersebut Allah swt menegaskan bahwa manuisa tidak diperintah, kecuali untuk beribadah kepada allah swt. Perintah yang ditujukan kepada manusia adalah untuk memberikan jalan kepada manusia dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai hal itu, manusia harus berbakti kepada Allah swt dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas lahir dan batin. Hal itu dilakukan dengan cara menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah swt.

Ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata – mata mengharap rida Allah swt. Orang yang mempunyai sifat ikhlas disebut mukhlis.

Apabila dalam beribadah ada motif selain karena Allah swt semata, ibadah tersebut akan diwarnai oleh sikap ria, sumah, sombong, angkuh, dan ujub.

Beberapa keutamaan sikap ikhlas adalah sebagai berikut :

1) Ikhlas merupakan syarat mutlak diterima atau tidaknya suatu ibadah.

2) Orang yang ikhlas akan senantiasa menjalankan ibadah dengan semangat, aik dilihat orang maupun tidak. Hal itu disebabkan ia beribadah bukan untuk mengharap pujian dan sanjungan orang lain.

3) Orang yang ikhlas akan senantiasa sabar, tabah, teguh pendirian, dna tidak kecil hati. Ia akan tetap melakukan kebaikan walaupun banyak orang yang mencemooh dan mencelanya.

4) Orang yang ikhlas tidak akan sombong pada saat mendapat pujian dan sangjungan dari orang lain.

5) Keikhlasan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati serta menjauhkan diri dari godaan iblis. Iblis tidak akan mampu menggoda dan menyesatkan orang yang ikhlas.

B. Pengayaan Materi tentang Ilmu Tajwid

Pengayaan materi tentang ilmu tajwid dalam bab ini akan membahas masalah makhraj huruf hijaiah. Pembahasan materi tersebut selengkapnya dikemukakan dalam uraian berikut ini.

1. Makhraj

Makhraj ialah tempat keluarnya bunyi huruf – huruf Arab pada lisan atau mulut manusia. Masing – masing huruf mempunyai makhraj atau tempat keluarnya masing – masing. Dalam ilmu tajwid, makhraj ada lima macam. Lima macam makhraj tersebut adalah sebagai berikut.

No.

Makhraj

Arti

1.

2.

3.

4.

5.

 

Lubang tenggorokan dan mulut

Tenggorokan

Lidah

Kedua bibir

Pangkal hidung

Kelima makhraj tersebut kemudian dirinci lagi menjadi tujuh belas makhraj. Tujuh belas makhraj tersebut adalah sebagai berikut :

No.

Makhraj

Huruf Hijaiah

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

Rongga tenggorakan

Pangkal tenggorokan

Tengah tenggorokan

Ujung tenggorokan

Pangkal lidah dekat anak lidah dengan langit-langit yang lurus di atasnya

Pangkal lidah dengan langit-langit yang lurus di atasnya, agak keluar sedikit dari makhraj qaf

Lidah bagian tengah dengan langit-langit yang lurus di atasnya

Salah satu tepi lidah dengan geraham atas

Lidah bagian depan sebelah makhraj dad dengan gusi atas

Ujung lidah dengan gusi atas agak keluar sedikit dari makhraj lam adalah makhraj nun yang bukan idgām atau ikhfā’

Ujung lidah agak ke dalam sedikit, lebih dalam daripada makhraj nun

Ujung lidah dengan pangkal dua gigi yang atas

Ujung lidah dengan rongga antara gigi atas dan gigi bawah, dan dekat dengan gigi atas

Ujung lidah dengan ujung dua buah gigi yang atas

Bagian tengah dari bibir bawah dengan ujung dua buah gigi yang atas

Kedua bibir atas dan bawah, untuk mim dan ba harus rapat, sedangkan wau agak merenggang

Pangkal lidah

Huruf gunnah (dengung)

2. Qalqalah

Qalqalah adalah membunyikan huruf mati dengan suara memantul dari makhraj hurufnya. Huruf qalqalah ada lima. Kelima huruf qalqalah tersebut dalah sebagai berikut :

1.

Bacaan qalqalah ada dua macam. Dua macam bacaan qalqalah tersebut adalah qalqalah sugra dan qalqalah kubra.

a. Qalqalah sugra ialah jika huruf qalqalah mendapat harakat sukun ditengah suku kata. Pantualn dari qalqalah sugra itu tidak terlalu sangat atau hanya sedikit.

No.

Lafal

Sebab Terjadinya

Cara Membacanya

1.

2.

 

Huruf qaf dalam keadaan sukun di tengah kalimat

Huruf ta dalam keadaan sukun di tengah kalimat

Suara huruf qaf dipantulkan sedikit

Suara huruf ta dipantulkan sedikit

b. Qalqalah kubra ialah jika huruf qalqalah mendapatkan harakat sukun di akhir kata atau karena wakaf (berhenti). Pantulan qalqalah kubra lebih besar daripada qalqalah sugra, terutama jika berada sesudah huruf mad dan lebih besar lagi apabila huruf qalqalah bertasydid.

No.

Lafal

Sebab Terjadinya

Cara Membacanya

1.

2.

 

Huruf qaf sukun di akhir kalimat / karena wakaf

Huruf ba sukun karena wakaf dan sesudah mad

Suara huruf qaf dipantulkan agak kuat

Suara huruf ba dipantulkan kuat

3. Gunnah

Gunnah adalah membaca dengan dengung karena tasydid. Hurufnya ada dua, yaitu mim dan nun. Contoh :

No.

Lafal

Sebab Terjadinya

Cara Membacanya

1.

2.

 

Huruf nun ditasydid

Huruf mim ditasydid

Dibaca dengan dengung

Deibaca dengan dengung

C. Pengayaan Materi tentang Ilmu Al-Qur’an

Pengayaan materi tentang ilmu Al-Qur’an dalam bab ini akan membahas kedudukan dan kandungan Al-Qur’an. Pembahasan selengkapnya akan dikemukakan dalam uraian berikut ini.

1. Kandungan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat manusia. Hal itu dikarenakan isi Al-Qur’an telah mengandung kesempurnaan tentang :

a. pokok – pokok akidah;

b. petunjuk – petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dua dan akhirat;

c. pembenaran terhadap kitab – kitab terdahulu;

d. penghapusan syariat – syariat sebelumnya.

Al-Qur’an merupakan koreksi terhadap kesalahan kitab – kitab yang terdahulu. Kesalahan kitab – kitab tersebut disebabkan oleh tercampurnya isi kitab tersebut dengan karangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

2. Kandungan Al-Qur’an

Al-Qur’an mencakup semua aspek kehidupan umat manusia, baik di dunia maupun akhirat.

Aspek – aspek tersebut adalah sebagai berikut :

a. Akidah

Akidah ialah kepercayaan atau keimanan. Rukun iman meliputi enam hal, yaitu iman kepada Allah swt, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab – kitab Allah swt, iman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada kada dan kadar. Akidah menjadi garis pemisah yang jelas antra iman dan kafir.

b. Akhlak

Al-Qur’an mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa berhias dengan akhlakul mahmudah atau akhlak yang utama serta menjauhi akhlakul mazmumah atau akhlak yang tercela.

c. Kisah – kisah

Al-Qur’an memuat banyak kisah. Kisah – kisah tersebut tentu bukan sekadar cerita tanpa tujuan, tetapi untuk dijadikan pelajaran.

d. Wa‘du dan clip_image016

Wa‘du adalah janji baik yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang beriman dan beramal saleh. Slaah satu contoh janji baik tersebut adalah Surat An-Nūr Ayat 55. Adapun clip_image018 adalah ancaman atau janji buruh yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang tidak beriman dan durhaka. Salah satu contoh janji buruk tersebut adalah Surat An-Nahl Ayat 112.

e. clip_image020 dan clip_image022

clip_image020[1] adalah gambaran yang menyenangkan yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang beriman. Contohnya adalah gambaran kehidpan orang – orang yang tinggal di surga, seperti yang terdapat dalam surat Al-Gāsyiyah Ayat 8 – 16.

Adapun clip_image025 adalah gambaran yang menakutkan yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang tidak beriman dan durhaka. Contohnya adalah gambaran kehidupan orang – orang yang tinggal di neraka, seperti yang terdapat dalam surat Al-Gasyiyah Ayat 2 – 7.

f. Hukum Amaliah

Hukum amaliah adalah hukum yang menyangkut hubungan lahiriah antara manusia dan Allah swt antara manusia dan sesamanya, serta antra manusia dan alam sekitarnya. Hukum amaliah mencakup hukum ibadah, hukum manakahat, hukum mawaris, hukum muamalah, hukum jinayah, serta hukum perang dan damai.

clip_image026

A. Asal Usul Manusia dan Tugasnya

1. Surat Al-Mu’min Ayat 67

a. Allah swt, menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Tanah menyediakan unsur – unsur yang dibutuhkan tumbuhan untuk hidup. Binatang kemudian memakan tumbuhan itu. Dari hewan dan tumbuhan itulah manusia mendaptakan makannya. Dari sari pati makanan yang dikonsumsi manusia itu, Allah swt menciptakan sel sperma yang menjadi cikal bakal manusia yang baru.

b. Manusia akan mengalami tiga masa, yaitu masa kanak – kanak, masa dewasa, dan masa tua. Manusia akan sampai kepada kematiannya pada salah satu di antara ketiga masa tersebut.

2. Surat Al-Baqarah Ayat 30

a. Allah swt memberi tahu para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kemudian, malaikat bertanya mengapa Allah swt menciptakan manusia dan menugaskannya sebagai khalifah di muka bumi, padahal manusia adalah makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Namun, Allah swt menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat.

b. Khalifah di muka bumi adalah kedudukan manusia sebagai wakil Allah swt. Sebagi khalifah, manuisa bertugas menjalankan perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang ada padanya.

3. Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56

a. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah swt tidaklah menjadikan jin dan manuisa melainkan untuk mengenal-Nya dan supaya menyembah-Nya.

b. Allah swt menjadikan jin dan manusia supaya tunduk dan mernedahkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, semua makhluk, baik jin maupun manusia, wajib tunduk kepada peraturan Allah swt, merendahkan driri terhadap kehendak-Nya, serta menerima segala takdir-Nya.

4. Surat Al-An‘ām Ayat 162 – 163

a. Ayat ini memmerintahkan manusia untuk menyatakan bahwa salat, ibadah, hidup, dan matinya adalah semata – mata untuk Allah swt, Tuhan semesta alam.

b. Kedua ayat tersebut menjelaskan bagaimana seharusnya manusia hidup di alam ini. Semua ibadah harus dilaksanakan dengan tekun, sepenuh hati, ikhlas, dna tanpa pamrih, karena Allah swt.

5. Surat Al-Bayyinah Ayat 5

a. Allah swt menjelaskan dalam ayat tersebut bahwa manusia tidak diperintah, kecuali untuk beribadah kepada-Nya.

b. Semua perintah Allah swt yang ditujukan kepada manusia adalah untuk kebaikan mereka, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Peintah itu adalah ikhlas lahir dna batin serta menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah swt.

c. Ikhlas adalah beramal dengan tulus hati dan semata – mata mengharap rida Allah swt. Orang yang mempunyai sifat ikhlas dikenal dengan sebutan mukhlis.

clip_image027

Septi adalah seorang remaja yang kurang bisa bergaul. Ia mempunyai kebiasaan mengurung diri dan jarang bermain dengan teman – teman sebayanya. Ketika berada di sekolah, ia sering menyendiri walaupun teman – temannya selalu mengajaknya bersenda gurau pada jam–jam istirahat. Septi merasa malu dan tidak percaya diri bila harus bergaul dengan mereka. Septi merasa bahwa dirinya tidak secantik teman – temannya.

Padahal, menurut teman-temannya, wajah Septi lumayan cantik dan tidak kalah dengan teman lainnya. Sementara itu, Hilman memiliki sifat yang sebaliknya. Ia sangat percaya diri, bahkan cenderung sombong. Ia merasa

bahwa dirinyalah yang paling tampan di antara teman – temannya. Kerap kali ia mengejek dan meremehkan mereka.

Sifat Septi dan Hilman tentu saja tidak menyenangkan teman – temannya. Ahmad yang menjadi ketua kelas akhirnya membahas persoalan tersebut dengan Pak samsul, wali kelas I. Mereka sepakat untuk memberikan bimbingan tambahan kepada keduanya. Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya Septi dan Hilman bisa menyadari kekeliruannya. Mereka bahkan berhasil mendapatkan peringkat kelas dengan nilai yang bagus.

clip_image028

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Menurut Q.S. Al-Mi’min Ayat 67, manusia diciptakan Allah swt dari ….

a. tanah d. sel telur

b. spermatozoa e. segumpal darah

c. segumpal daging

2. Selain Q.S. Al-Mu’min Ayat 67, surat lainyang menjelaskan proses kejadian manusia adalah Surat ….

a. Al-Baqarah Ayat 30 d. Al-An‘ām Ayat 162 – 163

b. Al-Mu’min Ayat 12 – 14 e. Al-Bayyinah Ayat 5

c. Aż-Żāriyāt Ayat 56

3. Allah swt menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di bumi. Manusia bertugas mengelola bumi untuk kemakmurannya. Istilah ini dikenal dengan nama ….

a. khalafah d. wahyullah

b. khalifah e. insan kamil

c. wakilullah

4. Malaikat menyatkan bahwa setelah ditempatkan di bumi, manusia akan ….

a. selalu bertasbih kepada-Nya d. selalu beribadah

b. selalu menyucikan-Nya e. membuat kerusakan dan mengalirkan darah

c. selalu berbuat baik

5.

Potongan ayat tersebut menjelaskan bahwa ….

a. sesungguhnya Allah Maha Menguasai segala sesuatu

b. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu ketahui

c. sesungguhnya Allah lebih tahu apa yang tidak kamu ketahui

d. sesungguhnya Allah Mahaadil dan Mahabijaksana

e. sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat

6. Menurut Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 56, tujuan Allah swt menciptakan jin dan manusia adalah ….

a. untuk menunjukkan kekuasaan-Nya d. untuk meramaikan alam ini

b. untuk beribadah kepada-Nya e. untuk saling menolong

c. untuk memperbanyak keturunan

7.

Kalimat yang bergaris bawah pada ayat tersebut mempunyai arti ….

a. tidak Aku ciptakan d. jin

b. kecuali e. manusia

c. untuk beribadah kepada-Ku

8. Berikut ini yang bukan termasuk kandungan Q.S Al-An‘ām Ayat 162 – 163 adalah ….

a. sesungguhnya salatku adalah milik Allah d. sesungguhnya hidupku adalah milik Allah

b. sesungguhnya musibahku adalah milik Allah e. sesungguhnya matiku adalah milik Allah

c. sesungguhnya ibadahku adalah milik Allah

9.

Potongan ayat tersebut mempunyai hukum bacaan ….

a. mad clip_image030 d. idgām bigunnah

b. gunnah e. idgām bilāgunnah

c. izhār

10. Menurut Q.S. l-Bayyinah ayat 5, Allah swt tidak memerintahkan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya dengan ….

a. khusyuk d. tekun

b. sungguh – sungguh e. serius

c. ikhlas

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat !

1. Kemukakan tahapan kejadian manusia menurut Q.S. Al-Mu’minūn Ayat 12 – 13 !

2. Mengapa para malaikat mempertanyakan rencana Allah swt menjadikan manusia sebagai khalifah ?

3. Apa yang dimaksud dengan “sebagai khalifah”?

4. Kemukakan kandungan dari Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 56 !

5. Deskripsikan orang yang senantiasa bersikap ikhlas dalam hidup ini !

clip_image031

1. Diskusikan proses kejadian manusia menurut Al-Qur’an dan menurut ilmu biologi !

2. Diskusikan apakah benar kekhawatiran para malaikat bahwa manusia kana melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi menjadi kenyataan !

3. Diskusikan mengapa manusia harus ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt ! Terangkan pada sebab dan akibatnya !

4. Bacalah Q.S Al-An‘ām Ayat 162 – 163, kemudian hafalkan dan hayati kandungannya !

5. Carilah hukum bacaan yang kamu ketahui dari Q.S Aż-Żāriyāt Ayat 56 dan Q.S Al-Bayyinah Ayat 5 beserta alasannya dengan menggunakan format berikut !

Lafal

Hukum Bacaan

Cara Membacanya

     

Hikmah

Sesungguhnya orang pandai itu adalah orang yang pandai dari sisi perbuatannya. Bukanlah kepandaian itu diukur dengan kepandaian kata dan bicaranya.

Read Full Post »

IMAN KEPADA ALLAH

BAB II

IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Pengertian

B. Sifat – sifat Allah swt

C. Asmaul Husna

D. Fungsi Beriman kepada Allah swt

Keimanan kepada Allah swt merupakan hal pertama yang diajarkan oleh setiap rasul kepada umatnya. Keimanan kepada Allah swt juga menjadi landasan utama bagi orang yang beriman dalam melaksanakan ibadahnya. Hal itulah yang menentukan apakan seseorang tergolong orang beriman ataukah orang kafir.

Kompetensi Dasar

Siswa mendeskripsikan fungsi keimanan kepada Allah swt untuk kepentingan hidup sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu menerapkan akidah islam dalam kehidupan sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu :

1. Mengidentifikasi sifat – sifat Allah swt;

2. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan sifat – sifat Allah swt dan meneladani asmaul husna dalam kehidupan sehari – hari.

Tadarus

1. Surat Al-Baqarah Ayat 255

2. Surat Al-Ikhas Ayat 1 – 4

3. Surat Āli ‘Imrān Ayat 26 – 27

4. Surat Al-Hasyr Ayat 22 – 24

5. Surat An-Nūr Ayat 35

Mukadimah

Dalam agama Islam, kita mengenal istilah ilmu tauhid. Tauhid secara harfiah berarti mempersatukan, sedangkan menurut istilah agama adalah keyakinan akan keesaan Allah swt, baik zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.

Definisi ilmu tauhid adalah sebagai berikut :

Artinya :

Ilmu yang membahas segala kepercayaan keagamaan dengan menggunakan dalil – dalil yang menyakinkan.

Pembahasan dalam ilmu tauhid harus menggunakan argumentasi yang benar, yaitu dalil. Dalam ilmu tauhid ada dua macam dalil sebagai berikut :

A. Dalil Akli

Dalil akli adalah dalil yang mendasarkan kepada akal pikiran yang sehat dan benar. Dalil akli dapat digunakan untuk memperbincangkan ilmu akidah karena akidah Islam berlaku bagi orang – orang yang berakal dan berpikiran sehat. Oleh karena itu, orang yang akal dan pikirannya tidak sehat tidak wajib mempelajari akidah. Dalam hal ini, segala hal yang berkaitan dengan akidah, harus dikerjakan berdasarkan dalil yang kuat dan tidak hanya sekadar ikut – ikutan. Dalil akli ada tiga macam. Tiga macam dalil akli tersebut adalah sebagai berikut :

1. Wajib akli adalah sesuatu yang ketidakbenarannya tidak bisa diterima oleh akal. Contohnya, 1 + 1 = 2, dan tidak akan pernah selain 2. Apabila hasilnya bukan 2 tentu tidak diterima akal.

2. Mustahil akli adalah sesuatu yang kebenarannya tidak dapat diterima oleh akal sehat. Contohnya, 2 + 5 = 8 karena yang benar 2 + 5 = 7.

3. Jaiz akli adalah sesuatu yang kebenarannya atau ketidakbenarannya dapat diterima oleh akal. Contohnya, anak kambing yang masih berada dalam kandungan induknya akan lahir menjadi anak kambing jantan. Benar atau tidaknya perkataan ini dapat diterima akal. Hal itu disebabkan anak kambing yang masih berada dalam kandungan induknya itu bisa lahir jantan dan bisa pula lahir betina.

B. Dalil Naqli

Akal manusia dapat menghasilkan kemajuan ilmu dan teknologi. Akan tetapi, betapa pun kuatnya daya pikir manusia, ia tidak akan sanggup mengetahui hakikat zat Allah swt yang sebenarnya. Hal itu disebabkan, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menyelidiki hal yang gaib. Untuk mengetahuinya, kita harus melihat wahyu Allah swt. Wahyu Allah swt itulah yang disebut dalil naqli.

Kebenaran dalil naqli ini bersifat qat‘iy (pasti). Kebenarannya mutlak serta berlaku untuk semua ruang dan waktu. Dalil naqli ada dua, yaitu Al-Qur’an dan hadis – hadis Rasullullah saw.

Hal – hal yang tidak dapt dijangkau oleh akal, cuku diyakinkan kebenarannya dengna membaca Al-Qur’an dan hadis tanpa harus membuktikannya dengna akal. Contohnya, ada atau tidaknya hari kiamat, alam barzakh, mahsyar, surga, neraka, dan malaikat.

Iman merupakan kunci keislaman seseorang. Dalam perwujudannya, iman disimbolokan dengan mengucapakan duakalimah syahadat. Dalam pembahasan berikut akan dikemukakan keimanan terhadap Alah swt.

A. Pengertian

Iman secara etimologi berarti percaya. Menurut istilah, iman adalah pembenaran dalam hati, diikrarkan dengn lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Orang yang beriman disebut mukmin (bagi laki – laki), mukminah (bagi perempuan), mukminin (bagi laki – laki banyak), dan mukminah (bagi perempuan banyak).

Adapun yang dimaksud dengan beriman kepada Allah swt adalah percaya dan yakin degna sepenuh hai bahwa Allah swt itu benar – benar ada, dengan segala kesempurnaan dan jauh dari segala sifat kekurangan.

B. Sifat – sifat Allah swt.

Salah satu cara untuk meyakini adalah Allah swt adalah dengan membiasakan diri memahami makna dan menghayati sifat – sifat Allah swt. Tentu saja, tidak hanya sekadar menghafal, tetapi harus memahami dan mengamalkan perintah – perintah Allah swt dan menjauhi larangan – larangan-Nya. Hal itu merupakan pengakuan akan adanya Allah swt dengan segala kesempurnaan_Nya.

Sifat – sifat Allah swt tak terhingga banyaknya. Ulama tauhid menyatakan bahwa sifat utama Allah swt yang wajib diyakin ada 13. Demikian juga, ada 13 sifat mustahil yang menjadi kealikan dari sifat – sifat utama tersebut serta ada satu sifat jaiz bagi Allah swt. Tiga belas sifat Allah swt tersebut adalah sebagai berikut :

1. Wujūd >< ‘Adam

Wujūd berarti ada dan kebalikannya adalah ‘adam yang berarti tidak ada. Keberadaan Allah swt dapt dibuktikan dengan akal. Beberapa hal yang menjadi bukti keberadaan Allah swt adalah sebagai berikut :

Menurut ilmu pengetahuan, alam raya ini terdiri dari ribuan galaksi, jutaan sistem tata surya, miliaran bintang dan planet. Kesemuanya berjalan pada jalurnya dengan teratur, tidak ada yang bertabrakan. Semua itu pasti ada yang menciptakannya, yaitu Allah swt.

Contoh lainnya adalah bumi yang kita diami ini. Di bumi kita ini, hidup berbagai macam binatang dan tumbuhan. Selain itu juga terdapat gunung – gunung yang menjulang tinggi dan lautan yang menghampar luas. Semua itu membentuk suatu jaring kehidupan yang rumit. Tentu hal itu ada yang menciptakannya. Kesemuaanya itu merupakan bukti – bukti yang kuat akan keberadaan Allah swt.

Di pihak lain, tidak ada alasan serta bukti satu pun yang mendukung, baik dari sgi akal pikiran maupun ilmu pengetahuan guna meniadakan Allah swt. Bahkan, penemuan – penemuan dari ilmu pengetahuanmodern justru semakin mendukung keberadaan Allah swt. Penemuan – penemuan tersebu semakin mempertebal keyakinan bahwa ada Sang Pencipta di muka jagad raya ini, yakni Allah ‘azza wajalla.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-An‘ām Ayat 102 ditegaskan bahwa Allah swt adalh pencipta sega sesuatu.

Artinya :

(Yang memiliki sifat – sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuah kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu, sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (Q.S. Al-An‘ām Ayat 102)

2. Qidam >< Hudūs

Qidam berarti tidak berawal. Wujud Allah swt ada sejak semula tanpa didahului oleh sesuatu. Adapun sifat hudūs adalah kebalikannya, yaitu keberadaan-Nya didahului oleh sesuatu. Bukti yang menunjukkan bahwa Allah swt bersifat qidam adalah sebagai berikut :

a. Manakah yang lebih dahulu keberadaan rumah atau manusia yang menempatinya ? Pikiran yang obyektif dan adil pasti akan mengatakan, menusialah yang lebih dahulu ada daripada rumah tersebut. Tidak mungkin pembuatnya didahului oleh yang dibuat.

b. Allah swt adalah pencipta alam semesta dengan segala isinya ini. Tentu saja Allah swt lebih dahulu ada daripada alam yang diciptakan-Nya. Allah swt sudah ada sejak zaman azali, sebelum ada sesuatu apapun, selain dia Allah swt. Berikut ini adalah firman Allah swt dalam Surat Al-Hadid Ayat 3.

Artinya :

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Q.S. Al-Hadid Ayat 3)

3. Baqā’ >< Fanā

Baqā’ berarti kekal selama – lamanya, sedangkan kebalikannya adalah fanā yang berarti kehancuran atau kepunahan.

Dalam ajaran Islam, wujud dibagi menjadi dua, yaitu Allah swt dan alam semesta Allah swt adalah khalik (pencipta), sedangkan alam adalah makhluk (yang diciptakan).

Semua yang ada di alam ini akan musnah, tetapi Allah swt tetap kekal dan abadi selama – lamanya.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini :

Artinya :

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dia Allah tetap kekal zat Tuhanmu yang mempunyai kebesarn dan kemuliaan. (Q.S. Ar – Rahmān : 26 – 27)

4. Mukhālafatu lil-Hawādisi >< Mumāsalatu lil –Hawādisi

Mukhālafatu lil-Hawādisi berarti berbeda dengan benda – benda baru atau makhluk, sedangkan kebalikannya adalah mumāsalatu lil –hawādisi yang berarti serupa dengan benda – benda baru atau makhluk.

Perbedaan itu menyangkut segala – galanya, seperti cara hidup, cara bekerja, cara berbicara dan cara mendengar. Allah swt berbicara, tetapi tidak sama dengan manusia berbicara. Allah swt melihat, tetapi penghilhatannya tidak sama dengan penglihatan manusia. Manusia dapat lupa, salah, mengantuk, dna tidur, sedangkan Allah swt terlepas dari sifat salah, lupa, mengantuk, tidur, serta sifat – sifat lain yang menjadi sifat manusia.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini :

Artinya :

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat

(Q.S Asy – Syūrā : 11)

5. Qiyāmuhu Binafsihi >< ihtiyājun ilā Gairihi

Allah swt mempunyai sifat qiyāmuhu binafsihi yang berarti Allah swt tidak membutuhkan sesuatu untuk wujudnya, seperti ruang, waktu, dan materi. Kebalikannya adalah ihtiyājun ilā gairihi yang berarti membutuhkan sesuatu untuk wujud-Nya.

Dalam proses penciptaan alam semesta, Allah swt tidak membutuhkan bantuan lpihak lain termasuk makhluk yang diciptakannya. Hal itu disebabkan pada saat Allah swt menciptakan alam semesta, belum ada sesuatu selain Allah swt. Allah swt adalah zat yang Mahakuasa dan Mahaperkasa. Oleh karena itu, manuisa akan merasa tenang dan aman apabila meohon pertolongan kepada-Nya sebab Allah swt adlah penolong yang kuat dan berdiri sendiri.

Uraian di atas sesuai dengan firman Allah swt dalam ayat – ayat berikut ini :

Artinya :

Allah menciptakan sgala sesuatu dan dia memelihara sega sesuatu. (Q.S. Az-Zumar : 62)

6. Wahdāniyyah >< Ta‘addud

Wahdāniyyah berarti Allah swt adalah satu, tunggal, atau Maha Esa, sedangkan kebalikannya adalah ta‘addud yang berarti berbilang atau banyak, baik dalam zat-Nya, maupun perbuatan-Nya.

a. Esa dalam zat, artinya zat-Nya tidak tersusun dari beberapa unsur. Apabila zat-Nya tersusun dari beberapa unsur, wujud-Nya akan serupa dengan makhluk dan hal itu adalah mustahil bagi Allah swt.

b. Esa dalam sifat, artinya hanya Allah swt, yang meiliki sifat kesempurnaan dan suci dari sifat kekurangan sehingga makhluknya tidakakan menyerupai sifat – sifat-Nya.

c. Esa dalam perbuatan, artinya tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyamai perbuatan Allah swt, sperti menciptakan makhluk, memberinya rezeki, serta menjaga alam ini.

Allah swt berfirman dalam Surat Al-Ikhlās berikut ini :

Artinya :

Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (Q.S. Al-Ikhlās : 1 – 4)

7. Qudrah >< ‘Ajzun

Qudrah berarti Mahakuasa, sedangkan kebalikannya adalah ‘ajzun yang berarti lemah. Hal – hal yang membuktikan bahwa Allah swt. Mahakuasa adalah penciptaan alam semesta. Allh swt telah menciptakan alam semesta ini terdiri atas manuisa, hewan, tumbuhan, dan benda. Kesemuanya mempunyai aturan yang rapi. Oleh sebab itu, mustahil jika alam semesta in diciptakan oleh zat yang lemah.

Jika manusia mempunyai kekeuasaan terhadap suatu negara, propinsi, daerah, atau kantor tertentu. Sebenarnya kekuasaan itu adalah pemberian Allah swt semata. Kekuasaan itu sementara, tidak mutlak, dan tidak sempurna. Sebaliknya, kekuasaan Allah swt adalah kekeal, mutlak, dan sempurna.

Uraian di atas sesuai dengan firman Allah swt dalam ayat berikut ini :

Artinya :

Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engaku muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Āli ‘Imrān : 26)

8. Irādah >< Karāhah

Irādah berarti berkehendak, sedangkan kebalikannya adalah karāhah yang berarti terpaksa. Sifat irādah biasanya mengiringi sifat qudrah. Maksunya, segala yang telah dan akan dijadikan Allah swt adalah kehendak Allah swt sendiri, tidak ada yang mencampuri atau mempengaruhi-Nya. Allah swt menjadikan sesuatu dengan irādah-Nya, tetapi manusia tidak mengetahui apa kehendak Allah swt dengna hal itu. Oleh karena itu, manusia harus sabar dalam menghadapi musibah atau kenikmatan.

Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah swt pasti akan terjadi. Dengan berfirman ‘Jadilah’ pasti terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Hal itu termaktub dalam firman Allah swt berikut ini :

Artinya :

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah! dan terjadilah ia. (Q.S. Yāsin : 82)

9. ‘Ilmun ><Jahlun

‘Ilmun berarti mengetahui segala sesuatu, sedangkan jahlun berarti bodoh. Allah swt mengetahui segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi. Allah swt mengetahi segala yang ada dalam hati baik yang rahasia maupun terang – terangan. Apabila dibandingkan dengan ilmu Allah swt ilmu manusia tidak lebih dari setitik air di tengah samudra yang mahaluas. Oleh karena itu, orang yang beriman harus senantiasa mencari ilmu dan mengembangkannya demi kebaikan umat manusia.

Allah swt berfirman dalam ayat – ayat berikut ini.

Artinya :

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang – orang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang – orang yang bertobat. (Q.S. Al-Isrā’ : 25)

10. Hayāt >< Mautun

Hayāt berati hidup, sedangkan kebalikannya adalah mautun yang berarti mati. Allah swt adalah zat yang hidup dan mustahil mati. Akan tetapi, sifat hidup Allah swt tidak sama dengan sifat hidup semua makhluk sebab hidup Allah swt itu sempurna dan kekal.

Alam semesta ini pasti diciptakan oleh zat yang hidup. Sesuatu yang mati pasti tidak akan mampu menciptakan sesuatu.

Allah swt berfirman dalam Surat Al-Furān Ayat 58 berikut ini.

Artinya :

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (kekal), Yang Tidak Mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa – dosa hamba-Nya. (Q.S. Al-Furān : 58)

11. Sama‘ >< Summun

Sama‘ berarti mendengar dan summun berarti tuli. Allah swt Maha Mendengar segala macam bunyi dan suara makhluk, baik yang keras maupun yang pelan. Pendengaran-Nya tanpa batas dan alat. Sebaliknya, Allah swt mustahil bersifat tuli. Oleh karena itu, orang yang beriman tidak akan merasa khawatir doa dan permohonannya tidak didengar oleh Allah swt. Hal itu disebabkan Allah swt selalu mendengar ucapan manusia, bahkan bisikan di dalam hatipun Allah swt pasti mendengarnya.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar – dasar Baitullah bersama Ismail (sraya berdoa), “Ya Tuhan kami terimalah kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 127)

12. Basar >< ‘Umyun

Basar berarti melihat segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Allah swt melihat yang terang – terangan dan yang rahasia. Penglihatan Allah tidak dibatasi oleh alat dan waktu. Kebalikannya adalah ‘umyun yang berarti buta Allah swt mustahil buta. Apabila Allah swt buta tentu Dia akan memiliki kekurangan dan sama dengan makhluknya.

Semua makhluk dan benda yang ada di alam ini, tidak bisa lepas dari penglihatan Allah swt. Dengna penglihatan Allah swt pula, semua sistem dan gerak alam semesta ini bisa berjalan rapi dan teratur.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan bumi, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hujar‘at : 18)

13. Kālam >< Bukmun

Kālam berarti berbicara, sedangkan kebalikannya adalah bukmun yang berarti bisu. Karena Allah swt berbicara, Dia dapat berfirman, memberi janji, dan peringatan yang ditujukan kepada makhluk-Nya. Firman – firman-Nya tersusun dengan rapi di dalam kitab suci yang diturunkan kepada rasul – rasul-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa Allah swt mustahil bersifat bisu.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

… Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Q.S. An-Nisā) : 164)

Berikut ini adalah daftar sifat – sifat Allah swt secara lengkap.

No.

Sifat Wajib

Sifat Mustahil

Lafal

Arti

Nama Sifat

Arti

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

ada

terdahulu

kekal

berbeda dengan makhluk-Nya

berdiri sendiri

esa

kuasa

berkehendak

mengetahui

hidup

mendengar

melihat

berfirman

tidak ada

baru

binasa

sma dengan makhluk-Nya

butuh pada yang lain

berbilang

lemah

dipaksa

bodoh

mati

tuli

buta

bisu

C. Asmaul Husna

Beberapa hal mengenai asmaul husna akan diuraikan dalam pembahasan berikut ini.

1. Pengertian

Asmaul husna adalah nama – nama baik dan indah yang merupakan sifat – sifat Allah swt.

2. Keutamaan Membaca Asmaul Husna

Rasulullah saw, menyatakan bahwa barang siapa yang hafal asmaul husna akan masuk ke dalam surga, sebagaimana sabdanya berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, barang siapa yang menghafalnya, ia akan masuk surga (H.R. Bukhari-Muslim)

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A‘rāf Ayat 180 berikut ini.

Artinya :

Hanya milik Allah asmaul husna, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang – orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama – nama-Nya. Nanti mereka kan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-A‘rāf : 180)

3. Jumlah Asmaul Husna

Jumlah asmaul husna ada 99. Di dalam Al-Qur’an, asmaul husna ditulis pada berbagai ayat, sedangakan di dalam hadis disebutkan seluruhnya secara berurutan.

4. Beberapa Asmaul Husna

Sebagai contoh kita akan membahas lima asmaul husna berikut ini.

a. Al-‘Adl

Al-‘Adl berarti adil. Maksudnya, Allah swt adalah zat yang Mahaadil. Keadilan Allah swt terhadap makhluk-Nya meliputi segala hal, baik yang menyangkut urusan keduniaan maupun urusan akhirat.

Allah swt memberi rezeki kepada setiap makhluk asalkan mau berusaha. Demikian pula dalam hal ibadah, Allah swt tidak pernah membedakan cara ibadah antara hamba yang satu dan hamba yang lain. Semua sama, kaya, dan miskin mempunyai kewajiban ibadah yang sama. Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu semua berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaun kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. An-Nahl : 90)

b. Al-Gaffār

Al-Gaffār berarti Maha Pengampun. Allah swt akan mengampuni setiap makhluk-Nya yang mau bertobat dengan cara mengakui dan menyesali kesalahannya serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi. Tobat akan diterima oleh Allah swt selama napas belum sampai di kerongkongan, sebagaimana firman Allah swt berikut ini.

Artinya :

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.(Q.S. Sād : 66)

c. Al-Hakim

Al-Hakim berarti Mahabijaksana. Kebijaksanaan Allah swt mencakup segala hal yang ada di alam semesta ini. Sebagai contoh, Allah swt menciptakan tubuh kita ini dengan bentuk yang sangat indah dan sempurna. Allah swt menciptakan segala benda dan peristiwa di dunia dengan hikmah dan tujuan tertentu. Misalnya, ada suatu peristiwa yang sekilas kita rasakan sebagai sebuah musibah. Akan tetapi, di baliknya ada hikmah yang bisa kita petik atau menjadi pelajaran bagi orang lain.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa dan lagi Mahabijaksana. (Q.S. Āli ‘Imrān : 6)

d. Al-Malik

Al-Malik berarti raja. Maksudnya, Allah swt adalah raja yang sebenarnya. Allah swt merajai segala yang ada di alam semesta. Kekuasaannya merupakan kekuasaan yang sempurna, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Maka Mahatinggi Allah, raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan (yang mempunyai) arsy yang mulia. (Q.S. Al-Mu’minūn : 116)

e. Al-Hasib

Al-Hasib berarti yang membuat perhitungan. Dalam menciptakan alam semesta dengan segala isinya, Allah swt telah memperhitungkannya dengan cermat. Oleh karena itu, tidak ada satu pun ciptaan Allah swt yang sia – sia dan tidak berguna.

Demikian pula amal perbuatan kita di dunia ini. Kita harus memperhitungkannya dengan cermat, baik buruknya dan untung ruginya sehingga amalan kita tidak sia – sia.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Apabila kamu dihormati dengan suatu pengorbanan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (Q.S. An-Nisā’ : 86)

Berikut ini adalah daftar asmaul husna selengkapnya.

No.

Nama

Arti dan Dalil

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

Yang Maha Pemurah

Yang Maha Pengasih

Maharaja

Yang Mahasuci

Mahasejahtera

Yang Maha Terpercaya

Yang Maha Memelihara

Yang Mahaperkasa

Yang Kehendak-Nya

Yang Memiliki Kebesaran

Yang Maha Pencipta

Yang Mengadakan dari Tiada

Yang Membuat Bentuk

Yang Maha Pengampun

Yang Mahaperkasa

Yang Maha Memberi

Yang Maha Memberi Rezeki

Yang Maha Pembuka

Yang Maha Mengetahui

Yang Maha Pengendali

Yang Maha Melapangkan

Yang Maha Merendahkan

Yang Maha Meninggikan

Yang Maha Terhormat

Yang Maha Menghinakan

Yang Maha Mendengarkan

Yang Maha Melihat

Yang Memutuskan Hukum

Yang Mahaadil

Yang Mahalembut

Yang Maha Mengetahui

Yang Maha Penyantun

Yang Mahaagung

Yang Maha Pengampun

Q.S. Al-Fātihāh Ayat 3

Q.S. A-Fātihāh Ayat 3

Q.S. Al-Munūn Ayat 3

Q.S. Al-Jumu‘ah Ayat 3

Q.S. Al-Hasyr Ayat 23

Q.S. Al-Hasyr Ayat 23

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 23

Q.S. Al-Hasyr Ayat 23

Q.S. Al-Hasyr Ayat 23

Q.S. Al-Hasyr Ayat 23

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 23

Q.S. Al-Hasyr Ayat 24

Q.S. Al-Hasyr Ayat 24

Q.S. Baqarah Ayat 235

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 16

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 8

Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 58

Q.S. Sabā’ Ayat 23

Q.S. Al-Baqarah Ayat 29

Q.S. Al-Baqarah Ayat 245

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 26

Hadis Tirmizi

Q.S. An‘ām Ayat 83

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 26

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 26

Q.S. Al-Isrā’ Ayat 1

Q.S. Al-Hadid Ayat 4

Q.S. Al-Mu’min Ayat 40

Q.S. An‘ām Ayat 115

Q.S. Al-Mulk Ayat 14

Q.S. An‘ām Ayat 18

Q.S. Al-Baqarah Ayat 235

Q.S. Asy-Syūrā Ayat 4

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 26

No.

Nama

Arti dan Dalil

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

Yang Menerima Syukur

Yang Mahatinggi

Yang Mahabesar

Yang Maha Penjaga

Yang Maha Pemelihara

Yang Maha Pembuat Perhitungan

Yang Mahaluhur

Yang Mahamulia

Yang Maha Mengawasi

Yang Maha Mengabulkan

Yang Mahaluas

Yang Mahabijaksana

Yang Maha Mengasihi

Yang Mahamulia

Yang Membangkitkan

Yang Maha Menyaksikan

Yang Mahabenar

Yang Maha Memelihara

Yang Mahakuat

Yang Mahakukuh

Yang Maha Melindungi

Yang Maha Terpuji

Yang Maha Menghitung

Yang Maha Memulai

Yang Maha Mengembalikan

Yang Maha Menghidupkan

Yang Maha Mematikan

Yang Mahahidup

Yang Mahamandiri

Yang Maha Menemukan

Yang Mahamulia

Yang Mahatunggal

Yang Maha Esa

Yang Maha Dibutuhkan

Yang Mahakuat

Q.S. Fātir Ayat 30

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 34

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 9

Q.S. Hūd Ayat 57

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 85

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 6

Q.S. Ar-Rahmān Ayat 27

Q.S. An-Naml Ayat 52

Q.S. Al-Ahzāb Ayat 52

Q.S. Hūd Ayat 61

Q.S. Al-Baqarah Ayat 268

Q.S. An‘ām Ayat 18

Q.S. Al-Burūj Ayat 14

Q.S. Al-Burūj Ayat 14

Q.S. Yāsin Ayat 52

Q.S. Al-Mā’idah Ayat 117

Q.S. Tāhā Ayat 117

Q.S. An‘ām Ayat 102

Q.S. Al-Anfāl Ayat 52

Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 58

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 45

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 131

Q.S. Maryam Ayat 94

Q.S. Al-Burūj Ayat 13

Q.S. Ar-Rūm Ayat 27

Q.S. Ar-Rūm Ayat 50

Q.S. Al-Mu’minūn Ayat 68

Q.S. Tāhā Ayat 111

Q.S. Tāhā Ayat 111

Q.S. Ad-Duha Ayat 6 – 8

Q.S. Hud Ayat 73

Q.S. Al-Baqarah Ayat 20

Q.S. Al-Ikhlas Ayat 1

Q.S. Al-Ikhlas Ayat 2

Q.S. Al-Baqarah Ayat 20

No.

Nama

Arti dan Dalil

70.

71.

72.

73.

74.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81.

82.

83.

84.

85.

86.

87.

88.

89.

90.

91.

92.

93.

94.

95.

96.

97.

98.

99.

Yang Maha Berkuasa

Yang Maha Mendahulukan

Yang Maha Mengakhirkan

Yang Maha Permulaan

Yang Mahaakhir

Yang Mahanyata

Yang Mahagaib

Yang Maha Memerintah

Yang Mahatinggi

Yang Mahadermawan

Yang Maha Menerima Tobat

Yang Maha Penyiksa

Yang Maha Pemaaf

Yang Maha Pengasih

Yang Mempunyai Kerajaan

Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan

Yang Mahaadil

Yang Maha Pengumpul

Yang Mahakarya

Yang Maha Mencukupi

Yang Maha Mencegah

Yang Maha Memberi Derita

Yang Maha Memberi Manfaat

Yang Maha Bercahaya

Yang Maha Memberi Petunjuk

Yang Maha Pencipta

Yang Mahakekal

Yang Maha Mewarisi

Yang Mahapandai

Yang Mahasabar

Q.S. Al-Qamar Ayat 42

Q.S. Qaf Ayat 28

Q.S. Ibrahim Ayat 42

Q.S. Al-Hadid Ayat 3

Q.S. Al-Hadid Ayat 3

Q.S. Al-Hādid Ayat 3

Q.S. Al-Hādid Ayat 3

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 11

Q.S. Ar-Ra‘d Ayat 9

Q.S. At-Tūr Ayat 28

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 16

Q.S. As-Sajdah Ayat 22

Q.S. An-Nisā‘ Ayat 99

Q.S. Al-Baqarah Ayat 207

Q.S. Āli ‘Imrān Ayat 26

Q.S. Ar-Rahmān Ayat 27

Q.S. An-Nūr Ayat 47

Q.S. Sabā’ Ayat 26

Q.S. Al-Baqarah Ayat 267

Q.S. An-Najm Ayat 48

Hadis Tirmizi

Q.S. An‘ām Ayat 17

Q.S. Al-Fath Ayat 11

Q.S. An-Nūr Ayat 35

Q.S. Al-Hajj Ayat 54

Q.S. Al-Baqarah Ayat 117

Q.S. Tāhā Ayat 73

Q.S. Al-Hijr Ayat 23

Q.S. Al-Jinn Ayat 10

Hadis Tirmizi

D. Fungsi Beriman kepada Allah swt

Beberapa fungsi beriman kepada Allah swt adalah sebagai berikut :

1. Kita akan menyadari kelemahan kita di hadapan Allah Yang Mahabesar sehingga kita tidak akan bersikap sombong.

2. Kita akan menyadari bahwa diri kita pasti akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan yang kita lakukan. Oleh karen itu, kita harus senantiasa berhati – hati dalam bertindak.

3. Kita akan menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dalam hidup ini berasal dari Allah swt. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Allah swt serta memanfaatkan nikmat tersebut dengan cara yang benar.

4. Kita akan merasakan bahwa diri kita senantiasa dilihat oleh Allah swt. Kita merasa ketika kita melakukan perbuatan yang buruk, Allah swt mengetahuinya sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Dengan demikian, kita akan memiliki perasaan malu ketika berbuat salah.

5. Kita akan menyadari dan segera bertobat apabila melakukan kesalahan dan dosa. Kita segera memohon ampun kepada Allah swt dan berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan dan dosa tersebut.

Ikhtisar

1. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas segala kepercayaan keagamaan dengan menggunakan dalil – dalil yang meyakinkan. Ilmu tauhid juga disebut ilmu kalam atau teologi.

2. Tujuan ilmu tauhid adalah

a. untuk memperoleh kepuasan batin, keselamatan, serta kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

b. supaya terhindar dari pengaruh akidah – akidah yang menyesatkan.

c. supaya terhindar dari paham yang berdasarkan kepada teori kebendaan semata, seperti kapitalisme, komunisme, dan ateisme.

3. Allah swt memiliki tiga macam sifat sebagai berikut.

a. Wajib adalah sifat yang pasti dimiliki Allah swt.

b. Mustahil adalah sifat yang tidak dimiliki Allah swt.

c. Jaiz adalah sifat yang mungkin dimiliki atau tidak dimiliki oleh Allah swt.

4. Kebenaran sifat – sifat Allah swt, baik yang wajib maupun yang mustahil, dapat dibuktikan dengan dalil naqli yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis serta dalil akli yang bersumber pada akal pikiran yang sehat.

5. Asmaul husna adalah nama – nama Allah swt yang baik dan indah. Jumlahnya 99 nama Rasulluluh saw menyatakan bahwa barang siapa yang hafal asmaul husna ia akan masuk surga.

6. Iman kepada Allah swt akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Integrasi Budi Pekerti

Pada suatu hari, Amirulmukminin Khalifah Umar bin Khattab melintas di sebuah jalan. Di sisi jalan itu ada seorang anak yang sedang menggembala kambing. Khalifah mencoba menggodanya. Khalifah berpura – pura ingin membeli seekor kambing yang sedang digembalakannya.

Beliau berkata, “Berapa harga kambing ini? Kebetulan aku sedang membutuhkan seekor kambing. Maukah kau menjual kambingmu itu? Aku akan membayar berapa pun harga yang kau minta.”

Anak gembala itu kelihatan terkejut. Dengan sedikit malu – malu ia menjawab, “Ini bukan kambing saya Tuan. Kambing ini milik majikan saya. Saya hanya gembala yang diupah untuk menggembalakan kambing – kambing ini.”

“Ah! Kupikir itu tidak masalah. Majikanmu tentu tidak akan tahu kalau kau jual kambing ini barang seekor. Kau akan mendapat banyak uang.” Khalifah berusaha merayunya.

“Memang benar Tuan,” anak gembala menjawab, “Majikan saya tidak melihat perbuatan saya. Namun, di mana Allah? Bukankah Allah senantiasa melihat kita? Bukankah Allah selalu mengawasi kita?”

Mendengar jawaban anak gembala itu Khalifah Umar bin Khattab tertegun. Beliau merasa kagum terhadap kualitas keimanan anak itu.

Anak gembala tersebut merupakan contoh orang yang betul – betul mampu merasakan kehadiran Allah. Ia merasa selalu diperhatikan oleh Allah sehingga ia tidak berani berbuat maksiat dan keburukan walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.

Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Iman adalah kepercayaan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Orang yang beriman disebut ….

a. muslim/muslimah d. saim/saimah

b. mukmin/mukminah e. saleh/salimah

c. muhsin/muhsinah

2. Di dalam membicarakan masalah akidah/tauhid dibutuhkan dalil yang berdasarkan akal sehat serta dalil yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Dalil yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadis disebut ….

a. dalil qur’ani d. dalil naqli

b. dalil kitabi e. dalil qat’iy

c. dalil akli

3. Bumi, matahari, bulan, bintang, dan galaksi yang berjalan dengan teratur menunjukkan bahwa semua itu ada zat yang menciptakan dan mengaturnya. Pernyataan tersebut menjadi dalil akli bagi sifat ….

a. ‘adam d. wujūd

b. qidam e. irādah

c. baqā’

4.

Q.S. Ar-Rahmān Ayat 26 – 27 tersebut menjadi dalil naqli bagi sifat ….

a. ‘adam d. wujūd

b. qidam e. irādah

c. baqā’

5. Mustahil pencipta didahului oleh ciptaan-Nya. Hal tersebut menjadi dalil akli bagi sifat ….

a. bukmun d. mukhālafatu lil-hawādisi

b. qiyāmuhu binafsihi e. qudrah

c. ‘umyun

6. Di dalam berdoa, kita tidak perlu mengeraskan suara kita karena Allah swt mempunyai sifat sama‘. Kebalikan dari sifat sama‘ adalah ….

a. hudūs d. bukmun

b. summun e. fanā’

c. ‘umyun

7. Yang harus kita lakukan sehubungan dengan asmaul husna Al-Gaffār adalah ….

a. berbuat adil dan bijaksana kepada sesama

b. merasa kecil di hadapan Allah swt

c. banyak bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya

d. memperbanyak amal saleh senyampang masih hidup

e. banyak memohon ampun atas dosa – dosa yang kita lakukan

8. Nama – nama yang baik dan indah yang merupakan sifat – sifat Allah swt disebut ….

a. sifatullah d. qudratullah

b. asmaullah e. iradatullah

c. asmaul husna

9. Q.S. An-Nisā‘ Ayat 86 tersebut menyebutkan salah satu asmaul husna, yaitu ….

a. al-‘adl d. al-hakim

b. al-gaffār e. al-hasib

c. al-malik

10. Berikut ini adalah beberapa fungsi iman kepada Allah swt, kecuali ….

a. sadar akan kelemahan diri di hadapan Allah Yang Mahabesar

b. sadar bahwa diri kita pasti akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban

c. menyadari bahwa segala sesuatu yang kita nikmati berasal dari Allah swt

d. sadar bahwa kita ada potensi untuk melakukan dosa dan maksiat

e. menyadari bahwa diri kita sendri diawasi oleh Allah swt

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat !

1. Terangkan perbedaan dalil akli dengan dalil naqli !

2. Apa yang dimaksud dengan sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah swt ?

3. Kemukakan sifat – sifat wajib Allah swt !

4. Kemukakan contoh dalil akli bagi sifat mukhālafatu lil-hawādisi!

5. Apa kebalikan dari sifat ‘ilmun, hayat, sama‘, basar, kalām, dan irādah ?

Lembar Portofolio

1. Diskusikan mengenai dalil naqli dan sifat wujūd dan qidam !

2. Tulislah dalil naqli dari sifat wujūd dan qidam!

3. Diskusikan mengapa dalil akli dibutuhkan untuk memahami sifat – sifat Allah swt?

4. Sebutkan dua kalil akli dari sifat Allah swt qiyāmuhu binafsihi!

5. Buatlah kolom yang berisi dalil naqli masing – masing sifat bagi Alalh swt dengan menggunakan format sebagai berikut !

No.

Sifat Wajib

Sifat Mustahil

Dalil Naqli

Keterangan

1.

2.

3.

       

Hikmah

Kenalilah Allah di kala kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu di kala kamu susah.

Read Full Post »

HUKUM ISLAM

BAB III

HUKUM ISLAM

A. Hukum Islam

B. Al-Qur’an

C. Ijtihad

D. Ibadah Salat dan Puasa

Hukum Islam merupakan sekumpulan peraturan Allah swt untuk dikerjakan oleh umat Islam. Peraturan – peraturan itu termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis serta berisikan berbagai perintah dan larangan.

Allah swt menciptakan peraturan – peraturan itu agar kehidupan manusia di dunia bisa tertata dengan baik. Allah swt juga menjanjikan kebahagiaan hidup di akhirat kelak kepada barang siapa yang mampu mengerjakan dan menaati peraturan-Nya.

Kompetensi Dasar

1. Siswa mampu memahami dan mendeskripsikan sumber – sumber hukum Islam dan pembagiaannya.

2. Siswa mampu memahami dan mendeskripsikan salat dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari – hari.

3. Siswa mampu memahami dan mendeskripsikan puasa dan hikmahnya serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu melaksanakan syariat Islam dalam kehidupan sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu :

1. menganalisis kedudukan dan fungsi Al-Qur’an dan hadis;

2. menerangkan macam – macam kualitas hadis;

3. mengidentifikasi bentuk – bentuk dan metode ijtihad;

4. mengidentifikasi pembagian hukum Islam (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram);

5. mengidentifikasi hikmah salat;

6. menunjukkan perilaku yang sesuai dengan tujuan melakukan ibadah salat;

7. mengidentifikasi hikmah puasa;

8. dengan tujuan melakukan ibadah puasa.

Tadarus

1. Surat Al-Mā’idah Ayat 48

2. Surat Al-Hasyr Ayat 19 – 21

3. Surat An-Nisā’ Ayat 59

4. Surat Al-‛Ankabūt Ayat 45

5. Surat Al-Baqarah Ayat 183 – 185

Mukadimah

Ilmu fikih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Berbagai aspek itu menyangkut kehidupan pribadi, hubungan bermasyarakat, dan hubungan dengan Sang Pencipta.

Ulama fikih membagi hukum fikih dalam beberapa bagian berikut ini.

1. Hukum ibadah, yaitu hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah swt, seperti salat, puasa, zakat, dan haji.

2. Hukum ahwāl asy-syakhsiyyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan antara permasalahan keluarga, seperti nikah, talak, dan keturunan.

3. Hukum muamalah, yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan antara sesame manusia dalam masalah harta dan hak – hak lainnya.

4. Hukum jinayah atau ‛uqubah, yaitu hukum yang berkaitan dengan perbuatan pidana.

5. Hukum ahkām al-qadā’, yaitu hukum yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa antara sesame manusia.

6. Hukum al-ahkām as-sultāniyyah atau siyāsah syari‛iyyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan hubungan antara penguasa dan warganya.

7. Hukum siyar atau al-huqūq ad-dauliyyah, yaitu hukum yang mengatur hubungan antarnegara dalam keadaan perang damai.

8. Hukum adab, yaitu hukum yang berkaitan dengan akhlak.

Keselurahan hukum fikih yang disebutkan di atas tidak hanya mengandung makna keduniaan, tetapi juga mengandung makna keakhiratan. Artinya, apapun yang dilakukan seseorang, perhitungannya akan meliputi perhitungan duniawi dan perhitungan ukhrawi. Contohnya, apabila seseorang memakai narkoba, ia tidak hanya menanggung hukuman dari masyarakat pada saat ia hidup di dunia. Akan tetapi, ia juga akan menanggung dosa di akhirat kelak. Hal itu disebabkan, Islam tidak memisahkan persoalan dunia dengan persoalan akhirat.

Di samping sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalani kehidupannay. Dalam kehidupan sehari – hari, manusia pasti berhubungan dengan manusia yang lain.

Di dalam hubungan tersebut diperlukan sebuah sistem yang menjamin agar hubungan itu bisa berjalan dengan baik. Sistem yang dibutuhkan itu adalah sistem hukum. Di dalam agama Islam juga terdapat suatu sistem hukum. Sistem hukum ini akan membawa kebahagiaan hidup bagi manusia yang bisa menjalankannya. Kebahagiaan itu bukan hanya kebahagiaan di dunia, tetapi juga sampai di akhirat.

A. Hukum Islam

Pembahasan mengenai hukum Islam akan diuraikan dalam bahasan berikut ini.

1. Pengertian

Hukum Islam merupakan sekumpulan peraturan Allah swt untuk dikerjakan umat Islam. Peraturan – peraturan itu terdiri atas perintah – perintah serta larangan yang tertulis dalam Al-Qur’an. Hukum Islam dalam bidang ibadah bersifat tetap, artinya tidak dapat dipengaruhi oleh perbedaan waktu dan tempat. Hal itu disebabkan, dalam ibadah tidak boleh ada perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Oleh sebab itu, semua yang diperintahkan Allah swt dan Rasullah saw harus dilaksanakan apa adanya.

Hakikat dari ibadah adalah kepatuhan dan kecintaan yang sempurna kepada Allah swt. Hal itu akan melahirkan beberapa hal berikut ini.

a. Manusia akan memahami bahwa sebagai makhluk, ia mempunyai kewajiban untuk menyembah dan beribadah kepada Allah swt.

b. Manusia akan memahami bahwa setelah kehidupan di dunia, ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di akhirat.

c. Manusia memahami bahwa dirinya menjadi sentral alam ini dan bukan sekadar menjadi pelengkap.

Adapun hukum Islam dalam bidang selain ibadah, seperti muamalah, jinayah, dan adab dapat dipengaruhi oleh adat – istiadat dan situasi sosial masyarakatnya.

2. Sifat Hukum Islam

Hukum Islam memiliki tiga sifat dasar yang tidak berubah – ubah. Tiga sifat dasar itu adalah sebagai berikut :

a. Takāmul, yaitu mampu melayani semua golongan, baik yang menolak maupun menginginkan pembaruan.

b. Wasatiyyah, yaitu keseimbangan dari segi kebendaan dan kejiwaan.

c. Harakah atau dinamis, yaitu memiliki daya hidup dan berkembang sesuai tuntutan zaman.

3. Pembagian Hukum Islam

Hukum Islam ditujukan kepada para mukalaf. Mukalaf adalah orang Islam yang sudah mencapai akil balig dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Hukum Islam dalam ibadah terbagi menjadi lima bagian berikut ini.

a. Wajib, yaitu perbuatan yang harus dikerjakan oleh mukalaf. Apabila mukalaf mengerjakan perbuatan itu, ia akan mendapat pahala, sedangkan apabila meninggalkannya, ia akan mendapat dosa.

Ditinjau, dari segi siapa yang mendapatkan kewajiban untuk melaksanakan perbuatan, wajib dibagi menjadi dua bagian berikut ini.

1. Wajib ain, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh maisng – masing individu mukalaf. Contohnya, salat, puasa, zakat, dan haji.

2. Wajib kifayah, yaitu kewajiban yang harus dikerjakan oleh sekumpulan mukalaf. Maksudnya, apabila sebagian mukalaf telah melaksanakan, yang lain boleh tidak melaksanakannya. Namun, apabila tidak ada seorang mukalaf pun yang melaksanakan kewajiban itu, semua mukalaf mendapatkan dosa. Contohnya adalah penyelenggaraan jenazah orang Islam.

b. Sunah, yaitu perbuatan yang diminta untuk dikerjakan oleh mukalaf tetapi boleh juga ditinggalkan. Perbuatan itu apabila dikerjakan mendapat pahala, tetapi apabila tidak dikerjakan tidak mendapat dosa. Contohnya adalah salat tahajud dan salat sunah rawatib.

c. Haram, yaitu perbuatan yang tidak boleh dikerjakan atau harus ditinggalkan secara tegas oleh mukalaf. Perbuatan itu apabila dikerjakan akan mendapat dosa. Contohnya adalah minum khamar, berzina, dan mencuri.

d. Makruh, yaitu suatu perbuatan yang diminta untuk tidak dikerjakan oleh mukalaf serta dianjurkan untuk ditinggalkan. Contohnya adalah memakan makanan yang berbau, seperti jengkol dan petai.

e. Mubah, yaitu suatu perbuatan yang boleh dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh mukalaf. Perbuatan itu apabila dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak akan mendapat pahala atau dosa. Contohnya adalah memakan belalang.

4. Sumber Hukum Islam

Sumber hukum Islam merupakan pedoman kehidupan orang Islam. Oleh karena itu, ia harus dapat menjawab berbagai persoalan hidup yang dihadapi oleh umat Islam. Menurut kesepakatan para ulama sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad. Ketiganya akan dibahas dalam subbab selanjutnya.

B. Al-Qur’an

Beberapa hal penting yang perlu dipelajari mengenai Al-Qur’an adalah sebagai berikut.

1. Pengertian

Kata Al-Qur’an berasal dari kata kerja qara’a yang berarti membaca dan bentuk masdarnya adalah al-qur’an yang berarti bacaan. Al-Qur’an adalah perkataan Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an terdiri dari 114 surat dan 30 juz.

2. Fungsi Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai wahyu Allah swt menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam.

Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Allah swt berfirman dalam Surat Al-Isrā’ Ayat 9 berikut ini.

¨bÎ) #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# “ωöku‰ ÓÉL¯=Ï9 š†Ïf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x. ÇÒÈ

Artinya :

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang – orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Isrā’ : 9)

3. Kandungan Al-Qur’an

Secara garis besar, isi Al-Qur’an dapat dikelompokkan ke dalam tiga pokok bahasan sebagai berikut.

a. Pembahasan mengenai prinsip – prinsip akidah (keimanan). Prinsip – prinsip akidah itu meliputi iman kepada Allah swt. (Q.S. Al-Baqarah :116), malaikat (Q.S. Āli ‘Imrān : 80), kitab – kitab-Nya (Q.S. Ar-Ra‘d : 38), rasul – rasul-Nya (Q.S. Al-A‘rāf : 35), hari akhir (Q.S. Hūd : 123), serta kada dan kadar (Q.S. An-Nahl : 36).

b. Pembahasan mengenai prinsip – prinsip ibadah. Prinsip – prinsip ibadah itu meliputi kewajiban salat (Q.S. Al-Baqarah : 45), zakat (Q.S. At-Taubah : 60), puasa Ramadan (Q.S. Al-Baqarah : 183), dan haji (Q.S. Al-Hajj : 27).

c. Pembahasan mengenai prinsip – prinsip syariat. Prinsip – prinsip syariat itu meliputi pembahasan tentang manusia (Q.S. Maryam : 37), masyarakat (Q.S. Yūnus : 19), masalah sosial (Q.S. Al-Ah-Ahzāb : 6), masalah ekonomi (Q.S. An-Nisā’ : 29), musyawarah (Q.S. Asy-Syūra : 38), sejarah (Q.S. Al-Anbiyā’ : 95)m hukum perkawinan (Q.S. An-Nūr : 32), hukum waris (Q.S. Al-Baqarah : 180), hukum perjanjian (Q.S. Al-Anfāl : 56), hukum pidana (Q.S. Al-Mā’’idah : 38), hukum perang (Q.S. Al-Hajj : 39), dan hukum antarbangsa (Q.S. Hujurāt : 13).

Tidak ada perselisihan di antara kaum muslimin tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan sumber hukum yang amat kuat untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Di samping kandungannya yang lengkap, yakni mencakup segala aspek kehidupan manusia. Al-Qur’an juga memiliki nilai – nilai universal yang berlaku kapan pun dan di mana pun.

Allah swt berfirman dalam Surat An-Nisā‘ Ayat 105 berikut ini.

!$¯RÎ) !$uZø9t“Rr& y7ø‹s9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3óstGÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# !$oÿÏ3 y71u‘r& ª!$# 4 Ÿwur `ä3s? tûüÏZͬ!$y‚ù=Ïj9 $VJ‹ÅÁyz ÇÊÉÎÈ

Artinya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (Q.S. An-Nisā‘ : 105).

C. Hadis

Beberapa hal penting yang perlu diketahui mengenai hadis adalah sebagai berikut.

1. Pengertian Hadis

Hadis adalah segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Rasulullah saw atau segala berita yang bersumber dari Rasulullah saw.

Hadis dapat dibedakan menjadi tiga macam. Tiga macam hadis tersebut adalah hadis qualiyyah (perkataan Rasulullah saw), fi‘liyyah (perbuatan Rasulullah saw), dan taqririyah (persetujuan Rasulullah saw).

2. Fungsi Hadis

Beberapa fungsi hadis adalah

a. merupakan sumber ajaran serta sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an;

b. merupakan penjelas bagi hukum – hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an;

c. merupakan contoh keteladanan Rasulullah saw dalam memimpin umatnya;

d. menjadi tolok ukur bagi umat Islam dalam meneladani pelaksanaan hukum Islam.

3. Kitab Hadis yang Utama

Beberapa hadis yang dijadikan pedoman oleh kaum muslimin adalah

a. Sahih Bukhari yang disusun oleh Imam Bukhari;

b. Sahih Muslim yang disusun oleh Iman Muslim;

c. Sunan Abu Dawud yang disusun oleh Imam Abu Dawud;

d. Sunan Tirmizi yang disusun oleh Abu Isa Muhammad Tirmizi;

e. Sunan Nasa’i yang disusun oleh Imam Nasa’i;

f. Sunan Ibnu Majah yang disusun oleh Imam Ibnu Majah;

g. Sunan ad-Darimi yang disusun oleh Imam Malik;

h. al-Muwatta’ yang disusun oleh Imam Malik;

i. Musnad Ahmad yang disusun oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

4. Peringkat Kitab Hadis

Ditinjau dari segi kualitasnya, ulama hadis membuat peringkat hadis sebagai berikut.

a. Peringkat pertama adalah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim (sebagian ulama ada yang memasukkan al-Muwatta’ ke dalam peringkat pertama ini).

b. Peringkat kedua adalah Sunan Abu Dawud; Sunan Tirmizi; Sunan Nasa’i; Musnad Ahmad; Al-Muwatta’ (masih dalam taraf wacana perdebatan ulama).

c. Peringkat ketiga adalah kitab hadis yang banyak memuat hadis daif (hadis yang lemah).

d. Peringkat keempat adalah kitab hadis yang ditulis oleh ahli kisah, juru dahwah, dan para sufi.

5. Pengelompokan Kitab Hadis

Ditinjau dari segi kandungannya, kitab hadis dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berikut :

a. kitab hadis yang menghimpun hadis dari kitab – kitab hadis yang tersebut di atas atau kitab – kitab hadis lainnya;

b. kitab hadis yang disusun dengan motivasi yang beragam;

c. kitab hadis yang memuat hadis mutawatir;

d. kitab yang menghimpun hadis maudū‛ (palsu).

6. Jenis – jenis Hadis

Beberapa jenis hadis adalah sebagai berikut.

a. Hadis sahih, yaitu hadis yang benar, sehat, dan selamat dari aib atau cacat.

b. Hadis hasan, yaitu hadis yang tingkatannya di bawah hadis sahih.

c. Hadis daif, yaitu hadis yang lemah, tidak kuat, atau tertolak.

d. Hadis mutawatir ialah hadis yang diriwayatkan banyak orang dan periwayatnya mustahis bersekongkol untuk berdusta.

e. Hadis garib, yaitu hadis yang jarang didapat atau asing.

f. Hadis ahkam, yaitu hadis yang memuat masalah – masalah hukum.

g. Hadis mua‛allaf, yaitu hadis yang cacat.

h. Hadis mu‛allaq, yaitu hadis yang gugur.

i. Hadis maudū‛, yaitu hadis yang mengada – ada, dibuat – buat, atau palsu.

j. Hadis matrūk, yaitu hadis yang lemah atau hadis daif.

D. Ijtihad

1. Pengertian Ijtihad

Ijtihad ialah mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mendaptkan hukum agama dari dalil – dalil syarak (Al-Qur’an dan hadis).

Ijtihad sangat diperlukan untuk memecahkan berbagai persoalan hukum yang belum dijelaskan oleh Al-Qur’an dan hadis secara terinci. Hal itu disebabkan adanya dua macam ayat Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an ada yang muhkamāt (jelas), tetapi ada juga yang mutasyābihāt (samar) yang mungkin belum dijelaskan dalam hadis. Dalam hal itu, ijtihad sangat diperlukan. Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Bagaimana kamu memutuskan perkara apabila dikemukakan masalah kepadamu?” Jawab Mu’az, “Aku memutuskan dengan kitabulah.” “Jika tidak terdapat dalam kitabulah?” tanya Rasulullah saw selanjutnya. “Dengan sunah Rasululluh saw, “ jawab Mu’az. Rasulullah saw bertanya, “Jika tidak terdapat dalam sunah Rasulullah saw?” “Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan berusaha dengan segenap tenaga, “kata Mu’az. Kemudian Rasulullah saw menepuk dada Mu’az seraya bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah saw karena telah membuat keridaan Allah dan Rasul-Nya.”

Artinya :

Apabila seorang hakim hendak mengambil keputusan, lalu ia berijtihad kemudian tepat, ia memperoleh dua pahala. Tetapi jika ia mengambil keputusan dan berijtihad ternyata salah, ia mendapat satu pahala. (H.R. Bukhari-Muslim)

2. Syarat Menjadi Mujtahid

Syarat yang menjadi mujtahid (ahli ijtihad) adalah

a. mengetahui, memahami, dan menguasai ayat – ayat Al-Qur’an dengan baik;

b. mengetahui dan memahami nas – nas hadis dengan baik;

c. mengetahui dan memahami seluk beluk bahasa Arab dengan sempurna dan baik;

d. mengetahui dan memahami pendapat ulama – ulama terdahulu dengan baik;

e. memiliki kemampuan mengambil hukum berdasarkan kias atau analogi dengan baik dan benar.

3. Cara Berijtihad

Dalam melakukan ijtihad para ulama menempuh beberapa cara yang umum dipakai. Beberapa cra tersebut adalah sebagai berikut :

a. Kias, yaitu menyamakan hukum suatu masalah dengan masalah lain yang telah ada kepastian hukumnya di dalam Al-Qur’an. Contohnya, hukum minum bir sama dengan hukum minum khamar karena akibat dari keduanya adalah sama, yaitu memabukkan.

b. Istihsān, yaitu mengecualikan hukum suatu masalah dari masalah – masalah sejenis yang lain serta menetapkan suatu hukum yang lain bagi masalah itu karena adanya alasan yang kuat untuk itu.

c. Al-maslahah al-mursalah, yaitu menetapkan hukum suatu masalah yang tidak ada nasnya dalam Al-Qur’an dan hadis untuk mencapai kebaikan.

d. ‛Urf, yaitu pengambilan hukum berdasarkan kebiasaan umum atau adat istiadat. Adat istiadat bisa berupa perkataan atau perbuatan yang tidak bertentangan dengan akidah Islam.

E. Ibadah Salat dan Puasa

Allah swt telah memerintahkan beberapa amalan yang wajib dikerjakan oleh umat Islam dalam Al-Qur’an dan hadis. Beberapa amalan itu, antara lain salat dan puasa. Berikut ini akan dibahas beberapa hal mengenai salat dan puasa.

1. Salat

Beberapa hal pokok yang perlu diketahui mengeani ibadah salat adalah sebagai berikut :

a. Pengertian Salat

Salat adalah suatu ibadah yang terdiri atas ucapan dan perbuatan – perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratulihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat – syarat tertentu. Salat mempunyai kedudukan yang penting dan merupakan fondasi bagi tegaknya agama Islam.

Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Salat adalah tiang agama, barang siapa yang menegakkannya, berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama. (H.R. al-Baihaqi)

Artinya :

Perbedaan antara mukmin dan kafir adalah meninggalkan salat. (H.R. Ahmad dan Muslim)

Artinya :

Yang pertma kali dihisab dari amalan – amalan seseorang pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, baiklah seluruh amalnya dan jika salatnya rusak, rusaklah seluruh amalnya. (H.R. Tabrani)

b. Perintah Salat

Perintah untuk melakukan salat telah disampaikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an dan ditegaskan lagi oleh Rasulullah saw dalam sunahnya. Salat mulai diwajibkan pada malam Isra Mikraj Nabi Muhammad saw yang terjadi satu tahun sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

Artinya :

Dan dirikanlah salt, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kamu diberi rahmat. (Q.S. An-Nūr : 56)

Artinya :

Peliharalah segala salat(mu) dan (peliharalah) salat wusta. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk. (Q.S. Al-Baqarah : 238)

Artinya :

….Orang – orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur’an) dan mereka selalu memelihara salatnya. (Q.S. Al-An ‛ām : 92)

c. Macam – macam Salat

Secara garis besar salat dibagi menjadi dua macam, yaitu salat wajib dan salat sunah. Beberapa salat wajib adalah sebagai berikut :

1) Salat Subuh, yaitu salat yang dikerjakan pada waktu mulai terbit fajar sampai saat menjelang terbitnya matahari.

2) Salat Zuhur, yaitu salat yang dikerjakan pada waktu tergelincirnya matahari hingga samanya bayangan dengan bendanya.

3) Salat Asar, yaitu salat yang dikerjakan pada waktu bayangan lebih panjang dari bendanya hingga beberapa saat menjelang terbenamnya matahari.

4) Salat Magrib, yaitu salat yang dikerjakan pada waktu mulai terbenamnya matahari hingga hilangnya warna merah di ufuk barat.

5) Salat Isya, yaitu salat yang dikerjakan pada waktu mulai hilangnya warna merah di ufuk barat sampai beberapa saat menjelang terbitnya fajar.

Adapun beberapa salat sunah, antara lain :

1) salat Rawatib;

2) salah Tahajud;

3) salat Istikharah.

Allah swt berfirman dalam ayat – ayat berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang – orang yang beriman. (Q.S. An-Nisā’ : 78)

Artinya :

Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan pula salat) Subuh. Sesungguhnya salah Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Q.S. Al-Isrā’ : 78)

d. Hikmah Salat

Salat merupakan kewajiban orang – orang yang beriman untuk menghadapkan wajah kepada zat yang Mahasuci. Salat yang dilakukan dengan tekun, khusyuk, dan terus menerus dapat menjadi sarana pendidikan rohani yang efektif. Salat akan memperbaiki akhlak orang yang mengerjakannya sehingga dapat memberikan sumbangan yang positif bagi dirinya sendiri, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.

Beberapa hikmah salat adalah sebagai berikut :

1. Salat dapat menyucikan diri, baik jasmani maupun rohani. Hal itu akan memunculkan pribadi yang dapat memancarkan akhlakul karimah, hidup yang penuh dengan amal saleh, serta mampu membentengi diri dari perbuatan yang tidak diridai Allah swt.

Ada orang yang sudah mengerjakan salat, tetapi tetap berbuat keji dan mungkar. Hal itu menjadi pertanda bahwa salatnya hanya sekedar gerakan lahiriah semata. Orang tersebut belum menghayati hakikat makna salatnya.

Allah swt berfirman di dalam Surat Al-‛Ankabūt Ayat 45 berikut ini.

Artinya :

Dirikanlah salat! Sesungguhnya salat itu dapat mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan mungkar. (Q.S. Al-‛Ankabūt : 45)

2. Salat dapat menjadi pendidikan politik, yakni agar manusia cerdas memberi makna kehidupannya. Maukah manusia hidup dalam ketidakteraturan, diombang – ambingkan oleh gelombang kekacauan lahir dan batinnya ? Dalam melaksanakan salat lima waktu, seorang muslim pasti menyadari bahwa waktu itu berjalan terus. Kesadarannya terhadap perjalananwaktu akan menyadarkan dirinya tentang hakikat kehidupan sehingga ia akan berusaha mengelola hidupnya agar menjadi hidup yang teratur dan penuh manfaat.

3. Salat dapat mendidik hidup bermasyarakat, yakni dengan melaksanakan salat berjamaah. Hal ini sangat positif dalam menjalin kebersamaan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Alangkah damainya suatu negeri apabila penduduknya bersedia bekerjasama dan saling menolong dalam kebajikan. Hal itu akan menjauhkan semua orang dari perbuatan dosa dan aniaya.

4. Salat dapat menjaga kebersihan dan kesehatan. Sebelum mengerjakan salat, setiap muslim wajib berwudu dengan air yang suci dan bersih. Di samping itu, salat juga harus dilakukan di tempat yang suci dan bersih. Slat juga harus dikerjakan dengan pakaian yang bersih, rapi, teratur, serta menutup aurat.

Allat swt berfirman dalam ayat berikut.

Artinya :

Dan pakaianmu bersihkanlah. (Q.S. Al-Muddassir : 4)

Artinya :

Kebersihan adalah sebagian dari iman. (H.R. Bukhari – Muslim)

5. Salat membuat manusia menjadi penyabar dan tabah. Salat wajib dilaksanakan pada waktu – waktu yang telah ditentukan. Dalam keadaan apapun umat Islam harus mengerjakan salat. Contohnya, ketika sedang bekerja atau bepergian, umat Islam harus tetap meluangkan waktu untuk mengerjakan salat.

Allat swt berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 153 berikut ini.

Artinya :

Hai orang – orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. (Q.S. Al-Baqarah : 153)

6. Salat merupakan sarana komunikasi keluarga yang efektif. Hal itu terjadi apabila dalam satu keluarga mengerjakan salat berjamaah. Dalam kesempatan ini mereka bisa saling mengingatkan antara satu anggota keluarga dan anggota keluarga yang lain.

Allah swt berfirman dalam Surat Tāhā Ayat 132 berikut ini.

Artinya :

Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (Q.S. Tāhā : 132)

2. Puasa

Beberapa hal pokok yang perlu dipahami mengenai puasa adalah sebagai berikut.

a. Pengertian Puasa

Puasa adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam yang berarti menahan diri dari segala perbuatan yang membatalkan yang dilakukan oleh seorang mukalaf pada siang hari, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Yang dimaksud perbuatan yang membatalkan puasa adalah segala bentuk kebutuhan biologis dan hawa nafsu.

b. Dasar Wajibnya Puasa

Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya tetapi juga diwajibkan kepada nabi – nabi dan umat sebelum Nabi Muhammad saw. Ayat Al-Qur’an dan hadis yang menerangkan kewajiban puasa adalah sebagai berikut.

1) Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 183

Artinya :

Hai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah : 183)

2) Hadis Riwayat Bukhari – Muslim

Artinya :

Islam itu dibangun di atas lima fondasi, yaitu bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan melaksanakan ibadah haji bagi orang – orang yang mampu. (H.R. Bukhari – Muslim)

c. Macam – macam Puasa

Dilihat dari segi hukumnya, puasa dibagi menjadi empat macam puasa berikut ini.

1) Puasa wajib, yaitu puasa yang harus dikerjakan oleh umat Islam. Puasa wajib meliputi puasa Ramadan, puasa kafarat (denda atau tebusan), dan puasa nazar.

2) Puasa haram, yaitu puasa yang tidak boleh dikerjakan oleh umat Islam.

Puasa haram meliputi :

a) puasa sunah yang dilakukan istri tanpa izin suaminya;

b) puasa pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha;

c) puasa pada tiga hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah);

d) puasa dalam keadaan nifas.

3) Puasa sunah, yaitu puasa yang apabila dikerjakan mendapat pahala apabila ditinggalkan tidak berdosa. Puasa sunah yang sering dilakukan oleh umat Islam di antaranya.

a) puasa Nabi Daud, yaitu puasa yang dilakukan berselang seling satu hari (hari ini berpuasa besok tidak);

b) puasa tiga hari (tanggal 13, 14, dan 15) setiap bulan Hijriah;

c) puasa Senin Kamis;

d) puasa enam hari pada bulan Syawal.

4) Puasa makruh, yaitu puasa yang apabila dikerjakan tidak berdosa. Puasa makruh ini ada tiga macam, yaitu

a) puasa yang dilaksanakan pada hari Jumat;

b) puasa wisal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya;

c) puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus menerus.

d. Hikmah Puasa

Orang yang melakukan puasa pasti akan memperoleh beberapa hikmah. Beberapa hikmah tersebut adalah sebagai berikut.

1) Puasa merupakan sara pendidikan bagi manusia agar tetap bertakwa kepada Allah swt, membiasakan diri untuk patuh pada perintah – perintah-Nya, dan menghambakan diri kepada-Nya.

Artinya :

Hai pemuda – pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mampu serta berkeinginan untuk menikah, hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata terhadap orang – orang yang tidak halal dilihatnya dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena dengan berpuasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang. (H.R. Jamaah Ahli Hadis)

2) Puasa merupakan pendidikan bagi jiwa dan membiasakannya untuk tetap tabah dan sabar dalam menghadapi setiap ujian-Nya.

3) Puasa merupakan sarana untuk menumbuhkan kasih sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain.

4) Puasa menanamkan ketakwaan kepada Allah swt dengan jalan melaksanakan segala perintahnya serta menjauhi segala larangannya.

Ikhtisar

A. Hukum Islam

1. Hukum Islam merupakan sekumpulan peraturan Allah swt untuk dikerjakan oleh umat Islam. Peraturan – peraturan itu terdiri atas perintah – perintah serta larangan yang tertulis dalam Al-Qur’an.

2. Hukum Islam memiliki sifat takāmul, yaitu mampu melayani semua golongan, sifat wasatiyyah, yaitu seimbang dalam segi kejiwaan dan kebendaan, serta sifat harakah, yaitu dinamis, memiliki daya hidup, dan berkembang sesuai tuntutan zaman.

3. Hukum Islam terbagi menjadi lima bagian yaitu wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah.

4. Menurut ketetapan para ulama, sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad.

B. Al-Qur’an

  1. Al-Qur’an merupakan perkataan Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an terdiri atas 114 surat dan 30 juz.
  2. Al-Qur’an merupakan sumber yang pertama dan utama dari hukum Islam. Oleh karena itu, Al-Qur’an juga menjadi pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
  3. Secara garis besar Al-Qur’an berisi pembahasan – pembahasan mengenai prinsip – prinsip akidah, prinsip – prinsip ibadah, dan prinsip – prinsip syariat.

C. Hadis

  1. Hadis adalah segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Rasulullah saw atau segala berita yang bersumber dari Rasulullah saw.
  2. Hadis merupakan sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Hadis juga menjadi penjelas bagi hukum – hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an.
  3. Beberapa kitab hadis yang utama adalah Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmizi, Sunan Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
  4. Beberapa jenis hadis antara lain hadis sahih, hadis hasan, hadis daif, hadis mutawatir, hadis garib, dan hadis mu‛allaq.

D. Ijtihad

  1. Ijtihad adalah mencurahkan tenaga dan pikiran, untuk mendapatkan hukum agama dari dalil – dalil syarak, Al-Qur’an dan hadis.
  2. Ijtihad sangat diperlukan untuk mengantisipasi problema hukum yang belum dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an dan hadis.
  3. Syarat – syarat untuk menjadi mujtahid atau orang yang berijtihad adalah harus mengetahui dan memahami ayat – ayat Al-Qur’an dengan baik, mengetahui dan memahami nas – nas hadis dengan baik, serta memiliki kemampuan untuk mengambil hukum berdasarkan kias atau analogi dengan baik.
  4. Ijtihad dapat dilakukan dengan beberapa cara. Beberapa cara tersebut adalah kias, istihsān, al-maslahah al-mursalah, dan ‛urf.

E. Ibadah Salat dan Puasa

  1. Salat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan penting serta merupakan fondasi bagi tegaknya agama Islam. Salat diperintahkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dalam peristiwa Isra Mikraj. Hikmah mengerjakan salat di antaranya adalah dapat menyucikan diri, menjadi sarana pendidikan politik, dan sarana pendidikan bermasyarakat.
  2. Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah dalam Islam dengan menahan diri dari segala yang membatalkan pada siang hari. Puasa juga diperintahkan oleh Allah swt kepada umat – umat terdahulu. Puasa akan membentuk manusia menjadi manusia yang bertakwa, tabah, sabar, serta menumbuhkan rasa persaudaraan dan kasih sayang terhadap orang lain.

Integrasi budi pekerti

Aziz adalah seorang remaja yang duduk di kelas I SMA. Sejak kecil, ia selalu melakukan ibadah puasa. Ia juga selalu melakukan ibadah puasa. Ia juga selalu berangkat ke masjid saat salat Tarawih, tadarus, dan patrol untuk membangunkan warga di kampungnya pada waktu sahur. Di antara tetangganya, Aziz terkenal sebagai seorang anak yang rajin.

Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa ketika siang hari Aziz selalu mengumpulkan makanan untuk berbuka puasa. Banyak sekali makanan yang ia kumpulkan sejak pagi hingga siang hari. Dalam benaknya, ia selalu memikirkan datangnya azan Magrib. Ia seakan ingin menghabiskan semua makanan itu. Benarlah, setelah azan Magrib berkumandang, ia makan dengan lahap bahkan sampai lupa berdoa. Sehabis makan nasi, ia minum es campur, makan pisang goreng, dan semua makanan yang telah dikumpulkannya sejak pagi hari itu. Akibatnya, ia kekenyangan.

Karena terlalu kenyang, akhirnya Aziz berangkat ke masjid pada saat salat Tarawih sudah hampir dimulai. Ia kemudian memilih posisi berdiri di dekat dinding. Dengan demikian, ia bisa salat sambil bersandar. Sebentar – sebentar ia menguap. Apabila imamnya kebetulan membaca surat yang agak panjang, ia menggerutu karena salatnya terlalu lama. Setelah salat Tarawih, Aziz berusaha menghilangkan kantuknya dengan begadang. Setelah jam menunjukkan angka satu, ia mengajak teman – temannya untuk patrol mengelilingi kampung untuk membangunkan warga. Padahal, waktu baru menunjukkan jam satu, saat warga tidur nyenyak karena memang belum waktunya sahur. Kegiatan patrol itu ia lakukan sampai menjelang subur. Karena capek, ia tertidur pulas. Ia bangun setelah matahari sudah tinggi, padahal ia belum melaksanakan salat Subuh.

latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah swt seperti salat, zakat, puasa, dan haji disebut hukum ….

a. muamalah d. jinayah

b. ibadah e. adab

c. ahwāl asy-syakhisiyyah

2. Berikut ini adalah salah satu fungsi hadis, kecuali ….

a. merupakan hukum Islam yang pertama dan utama

b. sebagai penjelas terhadap hukum yang ada dalam Al-Qur’an yang bersifat global

c. sebagai contoh keteladanan Rasulullah saw

d. sebagai tolok ukur bagi umat Islam dalam melaksanakan hukum Islam

e. menetapkan hukum yang belum termuat dalam Al-Qur’an

3. Hadis yang benar – benar selamat dari cacat dan aib disebut ….

a. hadis garib d. hadis mutawatir

b. hadis daif e. hadis hasan

c. hadis sahih

4. Mencurahkan segenap kemampuan untuk menetapkan hukum yang belum ada di dalam Al-Qur’an dan hadis dengan menggunakan akal sehat dan jernih disebut ….

a. ijmak d. sunah

b. kias e. ijtihad

c. mujtahid

5. Menurut penggalan hadis tersebut, seseorang yang akan mengambil keputusan hukum disarankan untuk melakukan ….

a. ijmak d. ijtihad

b. hisab e. mubah

c. rukyat

6. Menurut hukum Islam, suatu perbuatan yang apabila dikerjakan atau ditinggalkan pelakunya tidak mendapat pahala atau dosa disebut ….

a. wajib d. makruh

b. sunah e. mubah

c. haram

7.

Berdasarkan Q.S An-Nisā Ayat 103 tersebut, hikmah salat adalah ….

a. mencegah perbuatan keji dan mungkar

b. menjaga kebersihan dan kesehatan jasmani dan rohani

c. mempererat ukhuwah islamiah

d. gambaran kepemimpinan dalam Islam

e. menanamkan sikap disiplin waktu

8. …..

a. d.

b. e.

c.

9. Perintah puasa di dalam Al-Qur’an, antara lain terdapat pada Surat ….

a. Tāhā Ayat 122 d. An-Nisā’ Ayat 103

b. Al-Baqarah Ayat 183 e. Nūh Ayat 5

c. Al-‛Ankabūt Ayat 45

10. Ibadah puasa mengandung banyak hikmah yang sangat bermanfaat bagi yang melakukannya. Berikut ini beberapa hikmah puasa, kecuali ….

a. merupakan sarana pendidikan bagi manusia agar bertakwa kepada Allah swt

b. mendidik jiwa manusia agar tabah dan sabar

c. dapat menurunkan berat badan sehingga menjadi seimbang

d. merupakan sarana menumbuhkan kasih sayang

e. menanamkan ketakwaan

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat !

  1. Kemukakan beberapa contoh hukum muamalah !
  2. Kemukakan beberapa kitab hadis utama !
  3. Kemukakan beberapa persyaratan menjadi mujtahid !
  4. Apa perbedaan antara wajib ain dan wajib kifayah ? Kemukakan contohnya !
  5. Kemukakan keutamaan salat dibandingkan dengan ibadah yang lain !

Lembar Portofolio

  1. Cari dan tuliskan beberapa hadis Nabi Muhammad saw yang mempunyai derajad sahih !
  2. Carilah beberapa nama ulama mujtahid (ahli ijtihad) yang terkenal !
  3. Carilah contoh dari masing – masing hukum Islam dengan menggunakan format berikut !

Wajib

Sunah

Haram

Makruh

Mubah

         
  1. Diskusikan mengapa banyak orang yang salat, tetapi tidak memperoleh hikmahnya ?
  2. Tuliskan sebuah ayat beserta terjemahannya yang menjelaskan dasar hukum puasa !

Hikmah

Dan bekerja keraslah karena sesungguhnya nikmat itu (ada) dalam bekerja keras (berpayah – payah).

Read Full Post »

SIFAT-SIFAT TERPUJI

BAB IV SIFAT – SIFAT TERPUJI

A. Husnuzan terhadap Allah swt

B. Gigih dalam Bekerja

C. Berinisiatif

D. Rela Berkorban

E. Ikhlas

F. Sikap terhadap Sesama Makhluk selain Manusia

Husnuzan merupakan modal awal dalam mencapai keberhasilan sebuah usaha. Allah swt telah berfirman bahwa sikap Allah swt adalah seperti persangkaan manusia kepada-Nya. Apabila manusia mempunyai persangkaan yang baik kepada-Nya, Allah swt juga akan membalasnya dengan takdir yang baik pula.

Husnuzan akan membuat manusia mempunyai sikap tawaduk serta rasa percaya diri yang tinggi dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Kompetensi Dasar

Siswa membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu menerapkan akidah Islam dalam kehidupan sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu.

1. Mengidentifikasi hikmah husnuzan kepada Allah swt;

2. Menunjukkan sikap husnuzan kepada Allah swt;

3. Mengidentifikasi hikmah berperilaku gigih, berinisiatif, dan rela berkorban;

4. Mengidentifikasi hikmah berperilaku baik terhadap lingkungan;

5. Menunjukkan sikap terpuji terhadap tumbuh – tumbuhan, hewan, dan lingkungan alam.

Tadarus

1. Surat Al-Hujurāt Ayat 12

ƒt»¯’r‰škp$ #$!©%Ïïût äu#BtZãq#( #$_ôGt^Ï7çq#( .xWύŽZ# BiÏ`z #$9à©`dÇ )Îcž /tè÷Ùu #$9à©`dÇ )ÎOøOÒ ( ruwŸ Brgp¡¡¡Ýq#( ruwŸ ƒtóøGt= /­è÷Òà3äN /tè÷Ò³$ 4 &r†ätÏ= &rnt‰ß2àOó &rb ƒt’ù2à@Ÿ 9ssóNz &rzÅŠmÏ BtŠøG\$ ùs3sÌd÷FçJßqnç 4 ru#$?¨)àq#( #$!© 4 )Îb¨ #$!© ?sq§#>Ò ‘§mÏìL× ÈËÊÇ

2. Surat Ar-Ra‘d Ayat 11

9smç¼ Bãèy)eÉ7t»M× BiÏ`. /tü÷ûÈ ƒt‰yƒ÷mÏ ruBÏ`ô zy=ùÿÏmϾ †støÿxàÝqRtmç¼ BÏ`ô &rBøÌ #$!« 3 )Îcž #$!© wŸ ƒãótiÉŽç Bt$ /Î)sqöQB myL®Ó4 ƒãótiÉŽçr#( Bt$ /Î’rRÿà¦ÅkÍNö 3 ru)ÎŒs#! &r‘u#Šy #$!ª /Î)sqöQ5 ™ßqþä[# ùsxŸ BttŠ¨ 9smç¼ 4 ruBt$ 9sgßO BiÏ` ŠßrRÏmϾ BÏ` ru#A@ ÈÊÊÇ

3. Surat Sād Ayat 77 – 83

%s$At ùs$$z÷ãló BÏ]÷kp$ ùs*ÎR¯7y ‘u_ÅìL× ÈÐÐÇ ru)Îb¨ ãt=n‹ø7y 9sè÷ZuLÉÓû )Î<n’4 ƒtqöQÏ #$9‰dÏïûÈ ÈÑÐÇ %s$At ‘u>bÉ ùs’rRàύöTÎ’þ )Î<n’4 ƒtqöQÏ ƒã7öèyWèqbt ÈÒÐÇ %s$At ùs*ÎR¯7y BÏ`z #$9øJßZàsÌïût ÈÉÑÇ )Î<n’4 ƒtqöQÏ #$9øqu%øMÏ #$9øJyè÷=èqQÏ ÈÊÑÇ %s$At ùs6ÎèÏ“¨?Ï7y {_îøqȃtZ¨gßNö &rdøHuèÏüût ÈËÑÇ )Îwž ãÏ7t$Šy8x BÏY÷gßNã #$9øJßÜø=nÁÅüúš ÈÌÑÇ

4. Surat Luqmān Ayat 20 – 21

&r9sOó ?str÷#( &rb¨ #$!© ™y‚¤t 9s3äN B¨$ ûÎ’ #$9¡¡Jy»quºNÏ ruBt$ ûÎ’ #${F‘öÚÇ ru&r™ó7t÷x æt=n‹ø3äNö RÏèyJymç¼ ßs»g΍toZ ru/t$ÛÏZupZ 3 ruBÏ`z #$9Z¨$¨Ä Bt` †ägp»‰ÏAã ûΆ #$!« /ÎótöŽÎ æÏ=ùO5 ruwŸ dè‰W“ ruwŸ .ÏGt»=5 B•ZύŽ9 ÈÉËÇ ru)ÎŒs# %ÏŠ@Ÿ 9sgßNã #$?®7Îèãq#( Bt$! &rR“tAt #$!ª %s$9äq#( /t@ö RtK®7Îìß Bt$ ru`y‰ôRt$ ãt=n‹ømÏ äu#/t$!äuRt$! 4 &rru9sqö 2Ÿ%bt #$9±¤‹øÜs»`ß ƒt‰ôããqdèNö )Î<n’4 ãt‹x#>É #$9¡¡èύŽÎ ÈÊËÇ

5. Surat Al-Hijr Ayat 19 – 22

ru#${F‘öÚu Bt‰yŠ÷Rt»gy$ ru&r9ø)sŠøZu$ ùÏŠgy$ ‘uruº›ÅÓz ru&rR/;uF÷Zu$ ùÏŽkp$ BÏ` .ä@eÈ «xÓóä& B¨qö—ãrb5 ÈÒÊÇ ru_yèy=ùZu$ 9s3ä/ö ùÏŽkp$ Btèy»ŠÍ·| ruBt` 9©¡óêäL÷ 9smç¼ /΍tº—Î%Ïüût ÈÉËÇ ru)Îb BiÏ` «xÓóä> )Îwž ãÏY‰yRt$ zy“t#!¬ÍYãmç¼ ruBt$ Rç\t”iÍ!è&ã¼ÿ )Îwž /Î)s‰y‘9 B¨è÷=èqQ5 ÈÊËÇ ru&r‘ö™y=ùZu$ #$9h̃t»xy 9squº%Ïxy ùs’rR“t9øZu$ BÏ`z #$9¡¡Jy$!äÏ Bt$!ä[ ùs'r™ó)sŠøYo»3äJßqnç ruBt$! &rRFçOó 9smç¼ 2¿ƒs»“ÌRÏüût ÈËËÇ

Mukadimah

Iman al-Gazali mengungkapkan bahwa akhlak merupakan keadaan yang melekat pada jiwa manusia serta melahirkan perbuatan – perbuatan secara spontan, tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan. Akhlak disebut juga perangai atau budi pekerti. Suatu perbuatan disebut akhlak apabila memenuhi dua syarat berikut ini :

1. Perbuatan itu dilakukan berulang – ulang.

2. Perbuatan itu dilakukan dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti terlebih dahulu sehingga hal itu benar – benar merupakan suatu kebiasaan.

Akhlak bersumber kepada dua macam norma berikut ini.

1. Norma Keagamaan

Norma keagamaan adalah norma yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan mengambil tuntunan yang telah diberikan Allah swt dan Rasulullah saw dalam Al-Qur’an dan hadis.

Dengan demikian, akhlak ini mempunyai dua macam sanksi apabila dilanggar. Yang pertama adalah sanksi yang dating dari Tuhan (bersifat gaib) dan yang kedua adalah sanksi yang dating dari masyarakat (sesama manusia).

2. Norma Sekuler

Norma sekuler adalah norma yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan berpedoman kepada olah pikir dan pengalaman manusia. Dengan demikian, akhlak ini hanya mempunyai satu macam sanksi, yaitu sanksi yang datang dari masyarakat (sesama manusia) semata – mata.

Akhlak merupakan suatu upaya manusia untuk mempertahankan hidupnya. Akhlak pula yang membedakan manusia dengan binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa disertai pendidikan akhlak yang baik, tidak akan bisa mempertahankan kehidupan manusia. Hal itu, justru akan menyebabkan kepunahan dan kebinasaan.

A. Husnuzan terhadap Allah swt

Dalam kehidupan sehari – hari manusia akan berinteraksi dengan sesamanya dalam suatu pergaulan. Hal itu disebabkan manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Untuk mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis perlu dipupuk sikap berbaik sangka antara sesama manusia.

Sikap husnuzan terhadap Allah swt akan menenteramkan jiwa serta memantapkan keimanan manusia. Sikap itu akan melahirkan sikap tawaduk dan tawakal. Sikap husnuzan terhadap semua ketentuan Allah swt merupakan cerminan watak dan karakter manusia sebagai hamba yang beriman.

Oleh karena itu, manusia harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah atas takdir Allah swt. Manusia harus yakin bahwa kehidupan ini mutlak sepenuhnya di bawah kontrol Allah swt. Dengan demikian, sikap husnuzan terhadap Allah swt akan membawa ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman hidup manusia.

Allah berfirman dalam Surat An-Najm Ayat 39 – 41 berikut ini.

ru&rb 9©Šø§} 9Ï~MS¡|»`Ç )Îwž Bt$ ™yëtÓ4 ÈÒÌÇ ru&rb¨ ™yè÷Šumç¼ ™yqô$t ƒãt“3 ÈÉÍÇ OèN§ †ägø“t1mç #$9øfy“t#!äu #${Fr÷ûn’4 ÈÊÍÇ

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (Q.S An-Najm : 39 – 41)

B. Gigih dalam Bekerja

Gigih dalam bekerja berarti bekerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. Bahkan, hal itu senantiasa dikaitkan dengan prinsip ibadah kepada Allah swt sehingga tetap berpegang pada ketentuan syariat Islam. Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kalian akan hidup selamanya, namun beribadahlah kalian seolah – olah esok akan mati segera. (H.R. Ibnu Majah).

Hidup pada zaman modern ini penuh dengan persaingan. Persaingan itu ada yang sehat dan ada yang tidak sehat. Apabila manusia tidak gigih dalam bekerja, ia akan rugi. Di lain pihak, orang yang tekun dan gigih dalam bekerja akan memperoleh kemajuan dan keberhasilan yang mereka idamkan.

Keberhasilan tidak bisa dicapai dengan mudah. Keberhasilan akan tercapai apabila seseorang mau berjuang, rajin, tidak mudah putus asa, serta memiliki motivasi yang kuat. Hal itu sesuai dengan nasehat Iman Syafi’i berikut ini.

Artinya :

Siapa yang berusaha dengan bersungguh – sungguh pasti akan mendapat.

Kemalasan akan menyebabkan kemiskinan dan bahkan kejahatan. Hal itu merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Islam sangat menentang hal itu. Menurut ajaran Islam, kegigihan menanggulangi kemelaratan, kebodohan, dan keterbelakangan merupakan refleksi keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Oleh karena itu, generasi muda Islam harus memiliki etos kerja yang tinggi dan memiliki akidah yang kuat supaya berhasil mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Simak pepatah Arab berikut ini.

Artinya :

Manusia harus berusaha, Allah-lah yang menganugerahkan hasilnya.

C. Berinisiatif

Berinisiatif adalah upaya untuk tidak tinggal diam, tidak berpangku tangan, dan terus berusaha disertai tawakal kepada Allah swt.

Islam menganjurkan manusia agar senantiasa berinisiatif dan terus berusaha serta tidak menggantungkan diri kepada takdir Allah swt berfirman dalam Surat At-Takwir Ayat 29 berikut ini.

ruBt$ @n±t$!äârbt )ÎwH &rb „o±t$!äu #$!ª ‘u> #$9øèy»=nJÏüúš ÈÒËÇ

Artinya :

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S At-Takwir : 29)

Berinisiatif akan memperbaiki kehidupan manusia. Orang yang tidak mau berinisiatif untuk memperjuangkan nasib keluarganya akan statis, tidak berkembang, dan tidak maju. Sebaliknya, orang yang memiliki inisiatif dan berusaha dengan kesungguhan jiwanya akan berkembang dan maju ke arah yang lebih baik.

Kreativitas merupakan sumber dari sikap berinisiatif. Adapun takarub kepada Allah swt akan membuka kejernihan berpikir dan bertindak. Tidak ada sejarah yang dibangun oleh oran gyang tidak berakhlak mulia dan tidak meiliki kedekatan dengan Sang Pencipta alam semesta ini. Orang yang tercatat dalam sejarah adalah orang yang memiliki keteguhan jiwa serta kebersihan hati. Oleh karena itu, apabila ingin mendaftarkan diri sebagai pemuda harapan bangsa, kita harus bersiap – siap sejak dini. Otak harus diasah untuk menumbuhkan inisiatif. Akal pikiran harus dibersihkan dari kekolotan dan kejumudan. Hal itu akan menimbulkan inisiatif untuk berusaha mengubah nasib walau banyak jalan terjal dan hambatan yang ada di depan kita.

D. Rela Berkorban

Segala kegiatan seorang mukmin hanyalah untuk mencari rida Allah swt, bukan mencari rida manusia. Hal itu harus terus dilakukan meskipun banyak manusia yang marah dan benci, bahkan menyakiti dan menganiaya. Dalam mencari rida Allah swt, janganlah dipusingkan oleh segala perbuatan manusia. Rasa percaya diri hendaknya ditanamkan kepada anak – anak sejak dini.

Mencari nafkah bukanlah hanya dengan menjadi pegawai atau buruh saja. Yang lebih penting untuk diajarkan kepada generasi muda Islam ialah membedakan antara yang halal dan haram. Menjadi pedagang kaki lima atau menjadi kuli pelabuhan dengan pendapatan yang hanya sekedar cukup untuk makan, lebih mulia daripada menjadi pegawai yang melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, dan menjual harga diri karena mengejar pangkat dan harta.

Tanah air merupakan tempat manusia dilahirkan, tempat manusia hidup, bernaung, dan berpijak. Oleh karena itu, manusia akan marah apabila ada orang lain yang berbuat sekehendaknya dan mengganggu tanah airnya tersebut. Lebih dari itu, manusia rela mengorbankan jiwa raga untuk membela tanah airnya.

Kita sekarang hidup pada zaman yang modern, maju, dan dinamik. Dunia hampir tidak mempunyai batas lagi karena canggihnya sarana komunikasi dan transportasi. Kita harus bergaul dengan sesama manusia dari berbagai bangsa dan agama. Dalam pergaulan masyarakat yang modern ini kita harus saling menghormati dan mengembangkan sikap toleransi untuk menjaga kerukunan. Setiap orang wajib mengesampingkan kepentingan sendiri dan mendahulukan kepentingan bersama. Hal itu di dalam agama Islam dinamakan tasamuh.

Akan tetapi, tasamuh bukan berarti orang boleh melakukan apa saja dan melanggar larangan agamanya masing – masing. Kita tidak boleh mengartikan tasamuh untuk melunturkan akidah masing – masing agama. Kita harus menyadari bahwa setiap orang harus bersepakat di dalam perbedaan atau istilahnya agree in disagreement. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt di dalam Surat Al-Kāfirūn Ayat 6 berikut ini.

9s3ä/ö ŠÏƒYã3ä/ö ru<Í’u ŠÏïûÈ ÈÏÇ

Artinya :

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. Al-Kāfirūn : 6)

E. Ikhlas

Ikhlas adalah mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran semata – mata mengharap keridaan Allah swt tanpa dicampuri tujuan yang lain. Ikhlas menjadi syarat utama diterimanya suatu amal perbuatan. Allah swt akan menerima amal perbuatan manusia harus dilandasi dengan niat yang benar dalam hati. Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang yang akan memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Barang siapa hijrah pada jalan Allah atau Rasul-Nya, hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrah karena ingin memperoleh keduniaan atau untuk mengawini wanita, hijrahnya ke arah yang dituju itu. (H.R. Bukhari – Muslim)

Allah swt akan menilai alam perbuatan sesuai dengan niatnya. Jika niatnya benar, amalnya akan diterima sebagai ibadah dan berpahala. Sebaliknya, jika niatnya salah, amalnya akan ditolak dan tidak berpahala.

Ikhlas merupakan cara untuk menghilangkan segala niat yang tidak dibenarkan oleh Allah swt. Bahkan, mereka yang ikhlas ini akan terhindar dari bujuk rayu setan. Allah swt berfirman di dalam Surat Al-Hijr Ayat 39 – 40 berikut ini.

%s$At ‘u>bÉ 3Ïÿo$! &rîøquƒ÷KoZÏ‘ {_—yƒiÎZu`£ 9sgßNö ûÎ’ #${F‘öÚÇ ru{_îøqȃt]¨kåNö &rdøHuèÏüût ÈÒÌÇ

)Îwž ãÏ6t$Šy‚š BÏ]÷kåNã #$9øJßÜø=nÁÅüúš ÈÉÍÇ

Artinya :

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (Q.S Al-Hijr : 39 – 40)

Orang yang ikhlas akan menjadi orang yang teguh pada pendirian yang benar (istikamah). Mereka juga senantiasa memiliki karakter tasamuh atau toleransi yang telah mendarah daging. Mereka senantiasa rindu kepada ibadah. Jiwa mereka tidak tenteram manakala belum beribadah secara khusyuk kepada Allah swt.

Orang yang ikhlas mempunyai prinsip untuk selalu memberikan manfaat kepada sesamanya. Hal itu disebabkan mereka menyadari bahwa seluruh aktivitas hidupnya selalu dikontrol oleh Allah swt. Oleh karena itu, mereka selalu berbuat kebajikan dan bertakwa kepada Allah swt.

F. Sikap terhadap Sesama Makhluk selain Manusia

Selain manusia, Allah swt juga menciptakan makhluk – makhluk lain untuk menghuni alam ini. Hubungan manusia dengan makhluk – makhluk tersebut akan diuraikan dalam pembahasan berikut ini.

1. Hubungan dengan Makhluk Gaib

Makhluk gaib adalah makhluk selain manusia dan diciptakan oleh Allah swt dengan memiliki kewajiban yang sama dengan manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. Makhluk gaib itu terdiri dari jin dan malaikat. Mereka diciptakan Allah swt untuk mendiami suatu alam yang berbeda dengan alam manusia. Manusia tidak dapat melihat alam dan kehidupan mereka. Dalam kaitannya dengan makhluk gaib, Allah swt mewajibkan manusia untuk mempercayai keberadaan mereka. Hubungan yang pertama kali terjadi adalah pada waktu Allah swt selesai menciptakan Nabi Adam. Allah swt kemudian memerintahkan kepada malaikat dan jin untuk bersujud kepada Nabi Adam. Hal itu menunjukkan bahwa kedudukan manusia lebih tinggi daripada malaikat dan jin.

Pada waktu itu, semua malaikat dan jin bersujud kepada Nabi Adam. Akan tetapi, iblis tidak mau melakukannya. Iblis merupakan makhluk dari golongan jin yang ingkar kepada Allah swt. Iblis merasa iri hati kepada Nabi Adam karena Nabi Adam diberi kedudukan yang lebih tinggi darinya, padahal ia merasa bahwa dirinya lebih baik. Oleh karena itu, iblis diusir Allah swt dari surga. Sejak itu iblis berjanji untuk menjatuhkan kedudukan manusia dan menggoda seluruh keturunan Nabi Adam.

Manusia wajib mengimani keberadaan malaikat dan jin, tetapi tidak boleh mengabdi kepada mereka. Manusia hanya boleh dan diwajibkan mengabdi kepada Allah swt yang menciptakan mereka.

2. Hubungan dengan Alam dan Lingkungan Sekitar

Alam merupakan ciptaan Allah swt yang disediakan bagi manusia untuk dikelola. Dalam mengelola alam ini, manusia mempunyai kewajiban sebagai berikut.

a. Manusia harus memanfaatkan serta memelihara alam ini dengan sebaik – baiknya. Allah swt berfirman di dalam Surat Luqmān Ayat 20 berikut ini.

&r9sOó ?str÷#( &rb¨ #$!© ™y‚¤t 9s3äN B¨$ ûÎ’ #$9¡¡Jy»quºNÏ ruBt$ ûÎ’ #${F‘öÚÇ ru&r™ó7t÷x æt=n‹ø3äNö RÏèyJymç¼ ßs»g΍toZ ru/t$ÛÏZupZ 3 ruBÏ`z #$9Z¨$¨Ä Bt` †ägp»‰ÏAã ûΆ #$!« /ÎótöŽÎ æÏ=ùO5 ruwŸ dè‰W“ ruwŸ .ÏGt»=5 B•ZύŽ9 ÈÉËÇ

Artinya :

Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S Luqmān : 20)

b. Manusia harus menjaga kelestarian alam ini, tidak menyia – nyiakan, dan merusaknya. Allah swt berfirman dalam Surat Al-Anbiyā’ Ayat : 107 berikut ini.

ruBt$! &r‘ö™y=ùYo»š )Îwž ‘yqôHtpZ 9jÏ=ùèy»=nJÏüúš ÈÐÉÊÇ

Artinya :

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al-Anbiyā’ : 107)

Semua hasil yang didapatkan dari pengelolaan alam harus dimanfaat untuk kemakmuran manusia. Dengan demikian Islam betul – betul menjadi rahmatan lil-‘ālamin. Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Tidak ada seorang muslim yang menancapkan atau menanam sebatang tanaman, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan tanaman tersebut menjadi sedekah baginya. (H.R. Bukhari)

3. Hubungan dengan Hewan Ciptaan Allah swt

Selain manusia, Allah swt juga menciptakan hewan untuk mengisi alam ini. Allah swt menciptakan semua itu untuk dimanfaatkan manusia. Dalam hubungannya dengan hewan, Allah swt juga mengajarkan adab atau etika yang harus dilaksanakan oleh manusia. Islam melarang manusia menganiaya hewan. Sebaliknya, manusia harus menyayangi hewan, lebih – lebih hewan piaraan, seperti burung, kambing, lembu, kerbau, dan kucing.

Rasulullah saw bersabda dalam hadis berikut ini.

Artinya :

Dan diazab seorang wanita yang mengurung kucing sehingga kucing itu mati kelaparan, lalu masuk neraka karenanya. (H.R. Bukhari – Muslim dari Ibnu Umar)

Ikhtisar

1. Akhlak merupakan keadaan yang melekat pada jiwa manusia serta melahirkan perbuatan – perbuatan dengan spontan tanpa melalui proses pemikiran dan pertimbangan.

Akhlak merupakan suatu upaya manusia untuk mempertahankan hidupnya. Akhlak pula yang membedakan manusia dari binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa disertai pendidikan akhlak yang baik, tidak akan bisa mempertahankan kehidupan manusia. Hal itu justru akan menyebabkan kepunahan dan kebinasaan.

2. Husnuzan berarti berbaik sangka. Sikap kita terhadap Allah swt harus husnuzan. Demikian pula di dalam interaksi dengan sesama manusia, kita harus husnuzan. Husnuzan terhadap Allah swt akan melahirkan sikap tawaduk dan takarub. Berbaik sangka terhadap semua ketentuan Allah swt merupakan cerminan watak dan karakter hamba Allah swt yang beriman.

3. Islam mengajak umatnya untuk bersungguh – sungguh di dalam melakukan pekerjaan dan tugas, baik yang berhubungan dengan kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Sifat malas akan menyebabkan kemiskinan dan bahkan memunculkan berbagai tindak kejahatan. Sikap malas sangat merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

4. Berinisiatif adalah upaya untuk tidak tinggal diam, berpangku tangan, tetapi tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah swt. Berinisiatif akan memperbaiki kehidupan manusia. Orang yang tidak mau berinisiatif untuk memperjuangkan nasib keluarganya, tidak akan maju dan berkembang.

5. Segala amalan seorang mukmin hanyalah untuk mencari rida Allah swt bukan mencari rida manusia. Hal itu merupakan keharusan bagi seorang mukmin meskipun akan banyak manusia yang menentang, membenci, atau bahkan menyakitinya.

6. Ikhlas adalah mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran semata – mata mengharap keridaan Allah swt tanpa mencampuri oleh tujuan yang lain. Oleh karena itu, setiap amal perbuatan harus berlandaskan pada niat yang benar. Keutamaan ikhlas di antaranya adalah menghindarkan manusia dari bujuk rayu setan.

7. Manusia wajib mengimani keberadaan makhluk gaib seperti malaikan dan jin. Akan tetapi, manusia tidak boleh mengabdi kepada mereka. Manusia haus memanfaatkan dan memelihara alam ini dengan sebaik – baiknya, tidak boleh menyia – nyiakan dan merusaknya. Islam melarang manusia menganiaya hewan. Sebaliknya, manusia harus menyayangi hewan, terutama hewan piaraan.

Integrasi Budi Pekerti

Pak Mudakir adalah seorang petani yang tekun beribadah. Ia mempunyai sawah yang luas. Dari hasil sawah itu, ia bisa hidup berkecukupan sehingga menjadi orang yang terpandang di kampungnya. Setiap azan dikumandangkan, ia selalu pergi ke masjid untuk melaksanakan salat berjamaah. Ia selalu membantu orang yang membutuhkan.

Suatu ketika ia tertimpa musibah. Sawahnya dilanda banjir. Padi yang siap dipanen musnah tanpa ada yang tersisa sedikit pun. Pak Mudakir merasa sangat sedih karena kejadian itu. Akibat kesedihan itu pula istri Pak Mudakir kambuh penyakit darah tingginya. Kesedihan Pak Mudakir belum berhenti sampai di situ. Selang beberapa bulan kemudian, anak sulungnya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga meninggal.

Peristiwa demi peristiwa menyedihkan yang menimpa Pak Mudakir membuat ia bertanya – tanya dalam hatinya. Bukankah ia telah rajin beribadah ? Mengapa Allah menyiksa dirinya begitu berat ? Pak Mudakir merasa bahwa ibadahnya selama ini tidak berguna. Ia menjadi jarang pergi ke masjid, jarang beribadah, dan malas bekerja. Akibatnya, anak – anaknya tak terurus, sawah ladangnya terbengkalai. Semangat hidup Pak Mudakir sudah tidak ada lagi.

Melihat hal itu, Pak Hasan yang menjadi ustadz di kampung tersebut merasa iba. Bersama beberapa tetangga yang lain, mereka berusaha menghibur Pak Mudakir. Mereka membantu merawat keluarga dan mengurus sawah ladangnya. Sedikit demi sedikit usaha mereka menampakkan hasil. Pak Mudakir akhirnya berhasil bangkit kembali. Ia kembali bekerja mengolah sawah ladangnya. Ia teringat nasihat Pak Hasan bahwa apabila orang mau berusaha, Allah pasti akan menunjukkan jalan.

Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Sikap husnuzan kepada Allah swt akan melahirkan sikap ….

a. mudah bergaul dengan orang lain

b. selalu mengeluh terhadap musibah yang dideritanya

c. selalu mempertanyakan tentang nasib jeleknya

d. tawaduk dan takarub kepada-Nya

e. selalu berpikir negatif kepada Allah swt

2.

Hadis riwayat Ibnu Majah tersebut mengajarkan kita untuk berperilaku dan bersikap ….

a. husnuzan d. menyayangi binatang

b. gigih e. ikhlas

c. suuzan

3. Berupaya tidak tinggal diam, tidak berpangku tangan adalah pengertian ….

a. tawakal d. statis

b. pasrah e. ikhlas

c. berinisiatif

4. Q.S. Al-Hijr Ayat 39 – 40 menjelaskan bahwa iblis akan senantiasa menyesatkan manusia kecuali ….

a. khusyuk d. berilmu

b. ikhlas e. tabah

c. beribadah

5. Di dalam Surat An-Naml Ayat 23 Allah swt berfirman bahwa Dia tidak menyukai orang – orang yang ….

a. takabur d. besar hati

b. congkak e. sombong

c. angkuh

6. Berikut ini yang tidak termasuk sikap rela berkorban karena Allah swt adalah ….

a. berangkat ke pengajian walaupun hari hujan

b. memberikan infak untuk pembangunan masjid

c. tetap bekerja di sawah walaupun hari panas

d. mengantarkan rombongan remaja masjid dengan mobil pribadi ke tempat pengajian

e. mengajar di TPA tanpa dibayar

7. Sikap toleransi disebut juga ….

a. tasamuh d. tawasuh

b. takarub e. tadabur

c. tawaduk

8. Kesediaan membantu setiap makhluk hidup yang pantas mendapat bantuan, serta menghindari sikap iri dan dengki merupakan perwujudan dari sikap ….

a. kasih sayang d. manusiawi

b. dinamis e. saling mencintai

c. kebersamaan

9. Q.S. Tahā Ayat 53 menjelaskan hubungan manusia dengan ….

a. Allah swt d. alam sekitar

b. sesama manusia e. binatang dan tumbuhan

c. lingkungan

10. Sikap dinamis tercermin dalam perilaku ….

a. peduli, belas kasih, dan berempati terhadap makhluk lain

b. berpikir cerdas, penuh kreasi, dan beradaptasi dengan lingkungan

c. selalu berbaik sangka dan berpikir positif dalam segala hal

d. percaya diri dan tak kenal lelah dalam perjuangan mencapai cita – cita

e. kesediaan membantu setiap makhluk hidup yang pantas mendapat bantuan, serta menghindari sifat iri dan dengki

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat !

1. Mengapa sikap husnuzan harus dimiliki oleh setiap umat yang beriman ?

2. Tuliskan ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa orang yang ikhlas akan selamat dari godaan iblis beserta terjemahannya !

3. Bagaimana sikap yang benar terhadap makhluk gaib ?

4. Bagaimana sikap yang benar terhadap binatang ?

5. Terangkan mengenai tasamuh dalam hubungannya dengan Q.S. Al-Kāfirūn Ayat 6

Lembar Portofolio

1. Diskusikan mengenai dekadensi moral yang terjadi di kalangan anak muda dewasa ini !

2. Bacalah kisah Nabi Muhammad saw dan ceritakan kembali secara tertulis kisah tersebut sebagai gambaran orang yang rela berkorban karena Allah swt !

3. Benarkan orang yang berinisiatif mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam mencapai sukses dibandingkan orang yang tidak berinisiatif ? Diskusikanlah !

4. Alam sekitar adalah benda mati yang tidak bisa berbuat apa – apa. Mengapa agama Islam mengajarkan adab dan etika terhadapnya ? Diskusikan alasannya !

5. Diskusikan mengenai untung rugi perilaku gigih dengan perilaku malas dengan menggunakan format berikut ini !

No.

Keuntungan Perilaku Gigih

Kerugian Perilaku Malas

     

Hikmah

Janganlah kamu menunda pekerjaanmu sampai besok jika kamu bisa mengerjakannya hari ini.

Read Full Post »

SEJARAH BANI UMAYAH

BAB V SEJARAH BANI UMAYYAH

A. Bani Umayyah

B. Bani Umayyah di Damaskus

C. Bani Umayyah di Spanyol

D. Kemajuan Ilmu dan Kebudayaan

Masa pemerintahan Bani Umayyah merupakan masa keemasan umat Islam. Wilayah kekuasaannya terbentang dari India di timur, sampai di Spanyol di barat, dan seluruh daratan Afrika Utara.

Ilmu pengetahuan juga berkembang pesat pada masa itu. Banyak ilmuwan muslim yang muncul pada rentang waktu tersebut. Sejarah kebesaran umat Islam itu harus bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam saat ini. Umat Islam harus bisa menjada kebesaran agama Islam agar tetap ada di muka bumi.

Kompetensi Dasar

Siswa menganalisis perkembangan Islam pada masa Bani Umayyah dan mengambil manfaatnya untuk kepentingan hidup sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu mendeskripsikan perkembangan Islam dan hikmahnya untuk kepentingan hidup sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu.

1. mengidentifikasi perkembangan kebudayaan Islam pada masa Bani Umayyah;

2. menguraikan manfaat yang dapat diambil dari sejarah perkembangan Islam pada masa Bani Umayyah.

Tadarus

Surat Hūd Ayat 36 – 48

..

Mukadimah

Ilmu tarikh atau ilmu sejarah adalah ilmu yang berusaha menggali peristiwa – peristiwa masa lalu agar tidak dilupakan. Tarikh pada mulanya berarti penetapan bulan, kemudian meluas menjadi kalender dalam pengertian umum.

Faktor – faktor yang mendorong perkembangan ilmu tarikh adalah sebagai berikut.

1. Perintah Al-Qur’an untuk memperhatikan tarikh (Surat Ar-Rūm Ayat 9 dan Surat Al-Hasyr Ayat 18).

2. Al-Qur’an juga banyak menyajikan kisah – kisah yang bertujuan untuk dijadikan contoh dan pelajaran bagi umat manusia.

3. Adanya kebutuhan untuk menghimpun hadis. Penulisan hadis merupakan perintis jalan menuju perkembangan ilmu tarikh.

4. Diterbitkannya buku berjudul as-Sirah (biografi Nabi Muhammad saw) oleh para ulama hadis agar keteladanan Nabi Muhammad saw diikuti oleh umat Islam. Sejak penulisan as-Sirah inilah, penulisan tarikh dalam Islam semakin berkembang dengan pesat.

Sepeninggal Ali bin Abi Talib, khalifah terakhir Khulafaurrasyidin, kepemimpinan Islam dipegang Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari Bani Umayyah. Mereka memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, Suriah. Mereka juga mengubah sistem pergantian kepemimpinan dari sistem musyawarah menjadi sistem turun temurun. Semua khalifah Bani Umayyah adalah keturunan atau keluarga dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

A. Bani Umayyah

Nama Bani Umayyah dalam bahasa Arab berarti anak turun Umayyah, yaitu Umayyah bin Abdul Syams, salah satu pemimpin dalam kabilah suku Quraisy. Abdul Syams adalah saudara dari Hasyim, sama – sama keturunan Abdul Manaf, yang menurunkan Bani Hasyim. Dari Bani Hasyim inilah lahir Nabi Muhammad saw.

Pada masa sebelum Islam, Bani Umayyah selalu bersaing dengan Bani Hasyim. Pada waktu itu, Bani Umayyah lebih berperan dalam masyarakat Mekah. Hal itu disebabkan mereka menguasai pemerintahan dan perdagangan yang banyak bergantung kepada pengunjung Kabah. Di pihak lain, Bani Hasyim adalah orang – orang yang berekonomi sederhana.

Keadaan mulai berubah pada waktu Nabi Muhammad saw, salah seorang dari Bani Hasyim, mendapatkan wahyu Allah swt untuk mengembangkan agama Islam. Dengan berkembangnya agama Islam, Bani Umayyah merasa bahwa kekuasaan dan perekonomiannya terancam. Oleh sebab itu, mereka menjadi penentang utama dalam perjuangan Nabi Muhammad saw. Abu Sufyan bin Harb, salah satu anggota Bani Umayyah, beberapa kali menjadi pemimpin suku Quraisy Mekah dalam peperangan melawan pihak Nabi Muhammad saw.

Setelah Islam menjadi kuat dan mampu merebut Mekah, Abu Sufyan bin Harb dan pihaknya menyerah. Peristiwa itu dinamakan Fathu Makkah dan terjadi pada tahun 8 Hijriah. Akhirnya, Abu Sufyan bin Harb dan anaknya Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagaimana sisa – sisa penduduk Mekah lainnya memeluk Islam. Peristiwa ini menjadi awal berperannya Bani Umayyah dalam sejarah Islam.

B. Bani Umayyah di Damaskus

1. Awal Berdirinya

Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, pemerintahan Islam dipegang oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Pada masa itu, Bani Umayyah merasa bahwa kelas mereka di bawah kelas kaum Ansar dan Muhajirin. Hal itu disebabkan, mereka masuk Islam pada gelombang yang akhir. Untuk dapat memiliki kelas yang setingkat, mereka harus menunjukkan perjuangan mereka dalam perang membela Islam. Ketika itu, Mu’awiyah bin Abu Sufyan berjasa karena keterlibatannya dalam Perang Riddah, untuk menumpas kaum murtad.

clip_image001

Takrif

Perang Riddah adalah perang yang terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq. Perang ini bertujuan untuk menumpas golongan yang murtad dari agama Islam setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw.

Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, mereka dikirim ke Suriah untuk berperang melawan Bizantium. Atas jasanya, Yazid bin Abu Sufyan diangkat menjadi gubernur di sana.

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Mu’awiyah bin Abu Sufyan diangkat menjadi gubernur di Suriah menggantikan saudaranya. Bani Umayyah juga mendapatkan ketetapan bahwa mereka menjadi penguasa di sana, sebagaimana orang Quraisy mendapatkan kekuasaan di Mekah. Hal itu juga disebabkan karena Usman bin Affan adalah salah seorang dari Bani Umayyah.

Masa pemerintahan Ali bin Abi Talib menjadi awal perpecahan umat Islam. Hal ini disebabkan oleh kematian Usman bin Affan yang terbunuh dalam suatu huru – hara. Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari pihak Bani Umayyah merasa tidak puas dengan kebijaksanaan Khalifah Ali bin Abi Talib dalam menangani kasus pembunuhan Usman bin Affan tersebut. Oleh karena itu, Ali bin Abi Talib juga berselisih dengan Talhah, Zubair, dan Aisyah. Golongan ini merasa kecewa dengan proses pemilihan Ali bin Abi Talib sebagai khalifah. Perselisihan ini memuncak menjadi Perang Jamal. Dalam perang ini, Ali bin Ali Talib berhasil mengalahkan Talhah, Zubair, dan Aisyah.

clip_image001[1]

Takrif

Perang Jamal adalah perang yang terjadi antara Khalifah Ali bin Abi Talib melawan golongan Taihah, Zubair, dan Aisyah.

Setelah berakhirnya Perang Jamal, perselisihan dengan pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan akhirnya meletus menjadi Perang Siffin, di perbatasan Suriah dan Irak. Sekali lagi terjadi persaingan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Dalam perang itu terjadi peristiwa tahkim atau arbitrase. Akan tetapi, peristiwa ini justru memunculkan satu golongan lagi, yaitu kaum Khawarij, yaitu orang dari pihak Ali bin Abi Talib yang kecewa dengan peristiwa tahkim tersebut. Sebelum selesainya persoalan dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Ali bin Abi Talib dibunuh oleh seorang dari kaum Khawarij pada tahun 661 M.

clip_image001[2]

Takrif

Perang Siffin adalah perang yang terjadi antara Khalifah Ali bin Abi Talib melawan kelompok Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Perang ini menandai pergantian kekuasaan dari Khulafaurrasyidin kepada Bani Umayyah.

Meninggalnya Ali bin Abi Talib membuat Mu’awiyah bin Abu Sufyan mengumumkan dirinya sebagainya khalifah yang baru dengan pusat di Damaskus, Suriah. Akan tetapi, Hasan bin Ali, putra Ali bin Abi Talib, tidak mau mengakuinya. Hal ini kembali menyulut pertentangan di kalangan umat Islam. Oleh karena tidak ingin menyaksikan pertentangan sesama umat Islam, akhirnya Hasan bin Ali membuat perjanjian damai dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Peristiwa penyatuan umat Islam ini dikenal amul jama’ah dan terjadi pada tahun 41 H atau 661 M.

2. Masa Pemerintahan

Mu’awiyah bin Abu Sufyan mengawali pemerintahan 90 tahun Bani Umayyah di Damaskus. Dalam peristiwa amul jama’ah yang menjadi titik awal pemerintahan Bani Umayyahh, Mu’awiyah bin Abu Sufyan membuat kesepakatan dengan Hasan bin Ali. Isi kesepakatan itu, antara lain mengenai pergantian kekuasaan yang akan diserahkan kepada musyawarah umat Islam. Umat Islam berhak menentukan siapa yang akan menjadi khalifah. Akan tetapi, Mu’awiyah bin Abu Sufyan melanggar kesepakatan itu. Ia mewariskan kekhalifahan secara turun – temurun kepada anggota Bani Umayyah. Hal inilah yang menyebabkan munculnya perlawanan dari masyarakat yang kecewa terhadapnya.

Adapun khalifah – khalifah yang memerintah pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut :

No

Khalifah

Tahun

No

Khalifah

Tahun

1.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Mu’awiyah I)

661-680 M

8.

Umar bin Abdul Aziz

(Umar II)

717-720 M

2.

Yazid bin Mu’awiyah (Yazid I)

680-683 M

9.

Yazid bin Abdul Malik

(Yazid II)

720-724 M

3.

Mu’awiyah bin Yazid (Mu’awiyah II)

683-684 M

10.

Hisyam bin Abdul Malik

724-743 M

4.

Marwan bin Hakam (Marwan I)

684-685 M

11.

Walid bin Yazid

(al – Walid II)

743-744 M

5.

Abdul Malik bin Marwan

685-705 M

12.

Yazid bin Walid (Yazid III)

744 M

6.

Al-Walid bin Abdul Malik (al-Malid I)

705-715 M

13.

Ibrahim bin Walid

744 M

7.

Sulaiman bin Abdul Malik

715-717 M

14.

Marwan bin Muhammad

(Marwan II)

744-750 M

Dari Damaskus, Bani Umayyah menyempurnakan perluasan Islam dengan menaklukkan seluruh Imperium Persia dan sebagian Imperium Bizantium. Pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan, umat Islam dengan panglimanya Uqbah bin Nafi dan dibantu suku Barbar, Afrika Utara, mengalahkan tentara Bizantium di Afrika Utara. Mereka juga mendirikan Qairawan, di negara Maroko sekarang, sebagai pusat pemerintahan Islam di Afrika pada tahun 670 M. Ke arah timur, umat Islam menguasai Khurasan dan Afganistan. Angkatan lautnya menyerang Bizantium di Konstantinopel.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, umat Islam menyeberangi sungai Oxus, menguasai daerah Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana, dan Samarkand. Umat Islam juga memasuki India dan menguasai Balukistan, Sind, Punjab, dan Multan.

Penyebaran Islam dilanjutkan pada masa al-Walid bin Abdul Malik. Pada tahun 711 M, Tariq bin Ziyad menaklukkan Aljazair dan Maroko. Ia bahkan menyeberang ke Spanyol dan menguasai Kordoba, Sevilla, Elvira, dan Toledo. Sebuah gunung batu tempat di mana Tariq bin Ziyad mendarat diabadikan dengan namanya, yaitu Jabal Tariq dan sekarang termasyur dengan nama Gibraltar. Selat tempat ia menyeberang juga dinamakan Gibraltar. Sejak saat itulah Islam mulai menyebar di Eropa serta mengembangkan berbagai macam ilmu pengetahuan dari sana.

Pada masa Umar bin Abdul Azis, umat Islam menyerang Bordeaux, Poitiers, dan Tours di Prancis selatan dengan dipimpin panglimanya Abdurahhman al-Gafiqi. Pada masa itu, pulau – pulau di Laut Tengah, seperti Kepulauan Balearik, Korsika, Sardinia dan sebagian Sisilian jatuh ke tangan Islam. Dengan demikian, daerah kekuasaan Islam membentang dari Spanyol, Afrika Utara, Suriah, Palestina, Jazirah Arab, Irak, Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan, sampai ke India.

Selain perluasan wilayah, Bani Umayyah juga mencatat kemajuan di bidang sosial dan ekonomi. Kemajuan itu, antara lain pendirian dinas pos, pencetakan mata uang, dan pemunculan profesi kadi yang dilembagakan secara resmi pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Bahasa Arab dijadikan bahasa resmi pada masa Abdul Malik bin Marwan. Pembangunan panti untuk orang cacat, jalan raya, pabrik, masjid, dan gedung – gedung pemerintah dilakukan pada masa al-Walid bin Abdul Malik. Pada masa Umar bin Abdul Azis pajak diperingan, kedudukan mawali, atau orang Islam yang bukan Arab, disamakan kedudukannya dengan orang Arab. Umar bin Abdul Azis juga menjalin hubungan kembali dengan golongan Syiah, serta memberi kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya.

3. Masa Kemunduran

Bibit perpecahan umat Islam mulai muncul pada tahun 680 M. Pada waktu itu, Husein bin Ali pindah dari Mekah ke Kufah atas permintaan kaum Syiah yang ada di sana. Mereka mengangkat Husein bin Ali sebagai khalifah. Hal itu memicu perselisihan dengan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah. Pertempuran akhirnya pecah di Karbala, sebuah daerah di dekat Kufah, di mana Husein bin Ali terbunuh oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Terbunuhnya Husein bin Ali tidak memadamkan semangat kaum Syiah. Mereka kembali mengobarkan perlawanan di bawah pimpinan Mukhtar pada tahun 685 – 687 M di Kufah. Akan tetapi, Mukhtar justru terbunuh oleh Abdullah bin Zubair, yang memimpin gerakan perlawanan lainnya di Mekah dalam waktu yang sama.

Di Mekah, Abdullah bin Zubair memulai gerakan perlawanannya. Ia juga tidak mengakui kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah. Setelah Husein bin Ali terbunuh, ia menyatakan dirinya sebagai khalifah. Tentara Yazid bin Mu’awiyah mengepung Mekah. Namun, sebelum perang ini usai, Yazid bin Mu’awiyah meninggal dunia. Gerakan Abdullah bin Zubair baru dapat dipadamkan pada masa Khalifah Abdul Malik. Tentara Bani Umayyah yang dipimpin oleh Panglima al-Hajjaj menyerbu Mekah. Abdullah bin Zubair akhirnya terbunuh pada tahun 692 M.

Gerakan perlawanan akhirnya semakin meluas. Gerakan ini dipimpin oleh kalangan Bani Hasyim dari keturunan al-Abbas (paman Nabi Muhammad saw) yang didukung oleh kalangan Syiah dan golongan mawali. Pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik (720 – 724 M) dan Hisyam bin Abdul Malik (724 – 743 M) kedudukan kaum oposisi ini semakin menguat. Puncaknya terjadi pada tahun 750 M ketika Abu Muslim al-Khurasani, pemimpin Bani Abbasiyah berhasil menggulingkan Khalifah Marwan II. Kemenangan itu terjadi dalam sebuah pertempuran di Zab Hulu, anak Sungai Tigris di Mosul. Semua anggota keluarga Bani Umayyah terbunuh dalam peristiwa itu. Khalifah Marwan II yang melarikan diri tertangkap di Mesir dan terbunuh di sana. Satu – satunya keluarga Bani Umayyah yang berhasil lolos adalah Abdurrahman yang melarikan diri ke Spanyol. Ia meneruskan kekuasaan Bani Umayyah di sana dan terkenal dengan julukan Abdurrahman ad-Dakhil.

C. Bani Umayyah di Spanyol

Seiring dengan tumbangnya Bani Umayyah pada tahun 750 M, kekhalifahan pindah ke tangan Bani Abbasiyah. Pada tahun 755 M, Abdurrahman ad-Dakhil yang lolos dari kejaran pasukan Bani Abbasiyah masuk ke Spanyol di mana sebagian besar umat Islam di sana adalah dari Bani Umayyah. Ia kemudian mendirikan pemerintahan sendiri di sana yang terpisah dari Bagdad dan mengangkat dirinya sebagai amir.

1. Awal Berdirinya

Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Bani Abbasiyah, Abdurrahman akhirnya masuk ke Spanyol. Di Spanyol yang penduduknya kebanyakan dari kalangan pendukung Bani Umayyah, ia merasa aman. Ia kemudian mendirikan pemerintahannya di sana. Keberhasilannya memasuki Spanyol itulah yang membuat dirinya mendapat julukan ad-Dakhil.

2. Masa Pemerintahan

Pada masa awal pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol kondisi belum stabil. Hal itu disebabkan adanya perselisihan di kalangan umat Islam sendiri. Perselisihan itu terjadi antara suku Barbar dan suku Arab. Di dalam suku Arab sendiri terjadi perselisihan klasik antara suku Qaisy (Arab Utara) dan suku Yamani (Arab selatan). Perselisihan tersebut membuat kehidupan masyarakat dan politik pada masa itu belum stabil. Para amir sesudah itu terus mencoba mengatasi persoalan tersebut.

Adapun amir – amir Bani Umayyah yang memerintah di Spanyol adalah sebagai berikut :

No

Amir

Tahun

No

Amir

Tahun

1.

Abdurrahman ad-Dakhil (Abdurrahman I)

756-788 M

8.

Abdurrahman an-Nasir

(Abdurrahman III)

912-961 M

2.

Hisyam bin Abdurrahman (Hisyam I)

788-796 M

9.

Hakam al-Muntasir

(al-Hakam II)

961-976 M

3.

Al-Hakam bin Hisyam

(al-Hakam I)

796-822 M

10.

11.

Hisyam II

Muhammad II

976-1009 M

1009-1010 M

4.

Abdurrahman al-Ausat (Abdurrahman II)

822-852 M

12.

13.

Sulaiman

Abdurrahman IV

1013-1016 M

1016-1018 M

5.

Muhammad bin Abdurrahman (Muhammad I)

852-886 M

14.

15.

Abdurrahman V

Muhammad III

1018-1023 M

1023-1025 M

6.

Munzir bin Muhammad

886-888 M

16.

Hisyam III

1027-1031 M

7.

Abdullah bin Muhammad

888-912 M

     

Pada masa pemerintahan Abdurrahman ad-Dakhil, masjid dan sekolah didirikan, baik di Kordoba maupun kota – kota besar lainnya. Pemerintahan Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam, sedangkan al-Hakam terkenal dengan pembaruannya dalam bidang militer. Al-Hakam adalah yang pertama memprakarsai dipergunakannya tentara bayaran di Spanyol. Abdurrahaman al-Ausat termasyur sebagai penguasa yang cinta ilmu.

Pada pertengahan abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang bernama martyrdom. Gangguan yang lebih serius datang dari pemberontak yang mendirikan negara kota Toledo pada tahun 852 M selama 80 tahun.

Masa pemerintahan Abdurrahman an-Nasir (Abdurrahman III) menjadi puncak kejayaan Bani Umayyah di Spanyol. Bersamaan dengan itu Khalifah al-Muktadir, penguasa Bani Abbasiyah di Bagdad meninggal dunia. Dengan alasan itu, Abdurrahman an-Nasir menyatakan dirinya sebagai khalifah dengan gelar Khalifah Kordoba dan Pemimpin Yang Setia. Ia berhasil membangun Kordoba menjadi pusat budaya dan perdagangan Eropa yang besar. Kebesarannya bisa dikatakan menyaingi Bagdad sebagai pusat kekuasaan Bani Abbasiyah.

Masa kejayaan itu juga ditandai dengan beberapa bangunan bersejarah yang masih bisa disaksikan sampai sekarang. Bangunan – bangunan itu, antara lain Masjid Kordoba, Istana Ja’fariyah di Zaragoza, Tembok Toledo, Istana al-Makmun, Masjid Sevilla, dan Istana al-Hambra di Granada. Setelah masa kejayaan itu, umat Islam mengalami kemunduran.

3. Masa Kemunduran

Awal kemunduran Bani Umayyah dimulai ketika Hisyam II naik takhta pada usia 11 tahun pada tahun 976 M. Oleh karena itu, kekuasaan yang sesungguhnya ada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibnu Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan mutlak. Ia meninggal pada tahun 1002 M dan digantikan oleh adiknya yang kurang cakap. Akibatnya, kondisi negara menjadi kacau. Spanyol pun terpecah menjadi kerajaan – kerajaan itu dipimpin oleh raja – raja yang terkenal dengan sebutan Mulukut Tawa’if.

Munculnya kerajaan – kerajaan itu membuat kekuasaan Bani Umayyah hanya berada di sekitar ibukota Kordoba. Khalifah terakhir Bani Umayyah adalah Hisyam III. Ia memerintah negara yang kecil dan kacau hingga tahun 1031 M. Sesudah itu wilayah Spanyol dikuasai oleh kerajaan – kerajaan kecil tersebut hingga tahun 1086 M. Pada tahun itu Dinasti Murabitun datang datang Maroko dan meneruskan kekuasaan Islam di sana. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah pemerintahan Islam.

D. Kemajuan Ilmu dan Kebudayaan

Kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam pada masa Bani Umayyah dimulai dengan adanya penerjemahan buku – buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia pada masa Khalifah Abdul Malik.

Di seberang lautan, kemajuan itu dimulai pada masa Abdurrahman ad-Dakhil di Spanyol. Ia mulai membangun masjid – masjid di Kordoba dan kota – kota lain. Kemajuan ini berlanjut pada masa pemerintahan Abdurrahman al-Ausat yang merupakan pecinta ilmu dan filsafat. Usahanya mengembangkan ilmu dilanjutkan oleh Abdurrahman an-Nasir. Ia mendirikan Universitas Kordoba yang memiliki perpustakaan dengan koleksi ratusan ribu buku.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan pada masa itu dapat dibagi dalam beberapa bidang berikut ini.

1. Ilmu Pengetahuan Umum

a. Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah

Beliau adalah orang pertama yang menerjemahkan buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia. Di samping itu Khalid bin Yazid merupakan seorang penyair dan orator yang terkenal.

b. Sibawah

Beliau adalah seorang ilmuwan bahasa yang menyusun kaidah – kaidah bahasa Arab. Kaidah – kaidah itu tersusun dalam bukunya yang berjudul al-Kitab.

c. Ibnu al-Muqaffa

Sebelum masuk Islam namanya Abu Amr. Beliau banyak menerjemahkan buku – buku dari India dan Persia. Karyanya yang termasyhur adalah Kalilah wa Dimnah.

2. Ilmu Pengetahuan Agama

Dalam bidang ini, muncul tokoh yang terkenal, seperti Ibnu Hazm (994-1064 M) di Kordoba. Bukunya yang terkenal adalah Risālah fi Fadā’il Ahl al-Andalus (risalah tentang keistimewaan orang Andalus). Ulama – ulama lain yang muncul, di antaranya, adalah Hasan al-Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, dan Wasil bin Ata.

clip_image001[3]

Takrif

Andalusia adalah sebuah wilayah yang sekarang meliputi tujuh propinsi di bagian selatan negara Spanyol. Tujuh propinsi itu adalah Almeria, Cadiz, Kordoba, Granada, Huelva, Jaen, Malaga, dan Sevilla.

clip_image002

Takrif

Gibraltar adalah nama sebuah bukit karang di selatan Spanyol yang berasal dari kata Arab Jabal Tariq. Bukit itu merupakan tempat pendaratan pasukan Islam yang dipimpin Tariq bin Ziyad untuk pertama kalinya di Spanyol. Gibraltar juga digunakan sebagai nama selat di mana Tariq bin Ziyad menyeberang.

3. Seni dan Kebudayaan

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, bidang seni terutama kesusastraan juga mulai berkembang. Pada masa ini muncul sastrawan – sastrawan Arab yang terkenal. Sastrawan – sastrawan itu, diantaranya, adalah Jamil al-Uzri (wafat 701 M), al-Akhtal (wafat 710 M), Umar bin Abu Rabi’ah (wafat 719 M), al-Farzdaq (wafat 732 M), Qays bin Mulawwah, yang terkenal dengan nama Laila Majnun (wafat 699 M), dan Jarir (wafat 792 M).

Demikianlah perkembangan ilmu pengertahuan pada masa Bani Umayyah. Munculnya tokoh – tokoh di atas menjadi bukti perkembangan itu. Ilmu – ilmu yang muncul dan berkembang pada waktu itu memberikan sumbangan yang sangat besar hingga kini.

Ikhtisar

1. Bani Umayyah berkuasa dalam dua periode. Periode pertama, pusat kekuasaan berada di Damaskus, Suriah, dan berlangsung selama 90 tahun. Adapun pada periode kedua, pusat kekuasaan berada di Kordoba, Spanyol, dan berlangsung selama 275 tahun.

2. Ilmuwan – ilmuwan yang terkenal pada masa Bani Umayyah adalah Khalid bin Yazid, Sibawaih, Ibnu Bajjah, Ibnu al-Muqaffa, dan Ibnu Rusyd.

3. Ulama – ulama yang terkenal pada masa Bani Umayyah adalah Ibnu Hazm, Hasan al-Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, dan Wasil bin Ata.

4. Sastrawan – sastrawan yang terkenal pada masa Bani Umayyah adalah Jamil al-Uzri, al-Akhtal, Umar bin Abu Rabi‘ah, al-Farazdaq, Qays bin Mulawwah, dan Jarir.

Integrasi Budi Pekerti

Seseorang yang menjadi tangan kanan seorang yang berkuasa, seperti raja atau sultan, kadang – kadang lebih berpengaruh dibanding raja atau sultan itu sendiri dalam menjalankan roda pemerintahannya. Oleh karena itu, seorang raja atau sultan yang berhasil biasanya memiliki pendamping yang baik. Apabila kita mencermati dalam sejarah, tentu kita akan mendapatkan hal itu.

Pada akhir masa pemerintan Khulafaur-rasyidin, terjadi perpecahan antara Ali bin Abi Talib dan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Setelah Ali bin Abi Talib meninggal, Hasan bin Ali meneruskan pemerintah ayahnya. Karena menginginkan kedamaian di kalangan umat Islam, Hasan bin Ali menyerahkan pemerintahan kepada Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Usaha itu berhasil membuat suasana umat Islam lebih tenang dan bergairah kembali.

Setelah Mu‘awiyah bin Abu Sufyan menggal dunia, jabatan khalifah diserahkan kepada putranya, Yazid bin Mu‘awiyah. Sejak saat itu sistem pemerintahan Islam bergesert ke sistem monarki. Hal itu tidak sesuai dengan sistem yang diajarkan Islam, yaitu pemerintahan yang berdasarkan musyawarah (kesepakatan bersama).

Pada tahun 60 H, saudara Hasan, yaitu Husein bin Ali, berangkat ke Irak bersama keluarganya karena menganggap keadaan politik telah normal dan damai. Namun, rupanya terdapat kelompok yang memfitnah Husein bin Ali. Mereka melaporkan kepada Yazid bin Ali sedang menggerakkan tentara untuk menyerang khalifah.

Mendengar laporan seperti itu, Yazid bin Mu‘awiyah memerintahkan Gubernur Irak dan Iran, Abdullah bin Zayad untuk memantau desas – desus itu. Abdullah bin Zayad menggerakkan 2000 tentara di bawah pimpinan al-Hurr bin Yazid at-Tamimi.

Pada hari Jumat tanggal 10 Muharram tahun 61 H, Husein bin Ali dicegat di Karbala. Keluarga Husein bin Ali dibantai habis oleh al-Hurr bin Yazidat at-Tamimi dan anak buahnya. Yang tersisa Cuma kaum perempuan dan anak – anak, diantaranya Ali Zainal Abidin. Husein bin Ali dipenggal kepalanya atas perintah Gubernur Abdullah bin Zayad. Kepalanya dikirim ke Damaskus.

Khalifah Yazid bin Mu‘awiyah pada saat mengetahui bahwa Husein bin Ali telah dipenggal kepalanya menangis tersedu – sedu. Ia meratap, “Terkutuklah Abdullah bin Zayad! Aku tidak pernah menghendaki kekjaman semacam ini. Seandainya aku berada di sana pasti akan kuhalangi dia jika perlu dengan pedangku. “Yazid bin Mu‘awiyah kemudian memerintahkan agar kepala Husein bin Ali diantarkan ke Madinah beserta jenazah keluarga dan anknya dengan upacara kehormatan. Tubuh Husein bin Ali dimakamkan di Karbala sementara kepalanya dikubur di Madinah bersebelahan dengan makam ayah dan ibunya.

(Dikutip dan disunting dari buku 30 Kisah Teladan Jilid 3, CV Rosda, Bandung tahun 1988).

Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Sistem pemerintahan pada masa Bani Umayyah adalah ….

a. demokrasi d. oligarki

b. monarki e. Aristokrasi

c. tirani

2. Pendiri kekahlifahan Bani Umayyah adalah ….

a. Ali bin Abi Talib d. Tariq bin Ziyad

b. Mu‘awiyah bin Abu Sufyan e. Abdurrahman ad-Dakhil

c. Umar bin Abdul Aziz

3. Berikut ini beberapa kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kecuali ….

a. perluasan wilayah Islam d. penemuan pembuatan kapal selam

b. penemuan ilmu geografi e. Penemuan arsitektur

c. penemuan ilmu strategi perang

4. Kerajaan Islam Andalusia (Spanyol) yang didirikan oleh keturunan Bani Umayyah beribukota di ….

a. Granada d. Toledo

b. Kordoba e. Gibraltar

c. Andalusia

5. Berikut ini beberapa peninggalan sejarah sebagai bukti kemajuan Kerajaan Islam Andalusia, kecuali ….

a. Masjid Kordoba d. Istana Seribu Satu Malam

b. Istana al-Hambra e. Universitas Kordoba

c. Istana az-Zahra

6. Perang yang diikuti Mu‘awiyah bin Abu Sufyan sebagai awal keterlibatannya dalam Islam adalah ….

a. Perang Siffin d. Perang Jamal

b. Perang Salib e. Perang Yarmuk

c. Perang Riddah

7. Peristiwa amul jama’ah adalah peristiwa penyatuan umat Islam yang ditandai dengan perjanjian damai antara Mu‘awiyah bin Abu Sufyan dan ….

a. Husein bin Ali d. Talhah bin Ubaidillah

b. Abdullah bin Ali e. Hasan bin Ali

c. Aisyah

8. Pendiri pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol adalah ….

a. Abdurrahman ad-Dakhil d. Abdurrahman al-Muntasir

b. Abdurrahman al-Ausat e. Abdurrahman al-Mansur

c. Abdurrahman an-Nasir

9. Seorang ilmuwan yang menyusun buku tentang kaidah bahasa Arab pada masa Bani Umayyah adalah ….

a. Ibnu Maskawaih d. Ibnu Rusyd

b. Ibnu al-Muqaffa e. Qays bin Mulawwah

c. Sibawaih

10. Buku yang termasyur berjudul Kalilah wa Dimnah merupakan buah karya ….

a. Ibnu Maskawaih d. Ibnu Rusyd

b. Ibnu al-Muqaffa e. Jamil al-Uzri

c. Sibawaih

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat!

1) Sektor apakah yang dipegang oleh Bani Umayyah dalam masyarakat Mekah sebelum dan pada saat datangnya Islam ?

2) Pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq, Bani Umayyah merasa bahwa kelasnya berada di bawah kaun Ansar dan Muhajirin. Apa yang menyebabkannya ?

3) Kebijakan apakah yang diambil oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk memajukan Islam pada waktu itu ?

4) Pada masa pemerintahan siapakah Bani Umayyah mencapai kejayaannya di Spanyol ? Sebutkan juga usaha – usaha yang dilaksanakannya !

5) Sebutkanlah tiga ilmuwan termasyhur yang muncul pada masa Bani Umayyah beserta bidang ilmu yang digelutinya !

Lembar Portofolio

1) Ceritakanlah secara singkat sejarah keluarga Bani Umayyah serta peranannya dalam masyarakat Mekah ?

2) Terangkan secara singkat apa yang dimaksud dengan peristiwa amul jama’ah serta apa yang menyebabkannya ?

3) Faktor – faktor apa yang menyebabkan runtuhnya pemerintahan Bani Umayyah di Damaskus ?

4) Mengapa Bani Umayyah berhasil mendirikan pemerintahan baru di Spanyol setelah runtuhnya pemerintahan di Damaskus !

5) Diskusikan dengan teman – temanmu ! Sikap apa yang diharapkan muncul sebagai hikmah

Hikmah

Barang siapa menghendaki (kebahagiaan) dunia, ia harus mencarinya dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, ia harus mencarinya dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya, ia harus mencarinya dengan ilmu.

Read Full Post »

IMAN KEPADA MALAIKAT

BAB VII IMAN KEPADA MALAIKAT

A. Pengertian

B. Perbedaan Manusia dengan Malaikat

C. Macam – macam Malaikat

D. Hikmah Beriman kepada Malaikat

Malaikat merupakan salah satu makhluk gaib ciptaan Allah swt. Sebagai makhluk gaib, keberadaannya tidak dapat ditangkap oleh indra manusia. Walaupun demikian, sebagai umat beriman kita wajib mempercayainya.

Sering kali kita tidak menyadari bahwa malaikat mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Untuk mengetahuinya kita harus banyak belajar memahami kitab suci Al-Qur’an serta kitab – kitab hadis. Hal itu akan memperdalam pemahaman kita terhadap agama Islam serta mempertebal keimanan kita.

Kompetensi Dasar

Siswa mampu mendeskripsikan fungsi keimanan kepada malaikat untuk kepentingan hidup sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu menerapkan akidah Islam dalam kehidupan sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu mengidentifikasi fungsi malaikat sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis.

Tadarus

1. Surat Al-Baqarah Ayat 177

* 9©Šø§} #$9ø9ÉŽ§ &rb ?èqu9—q#( rã_ãqdy3äNö %Ï6t@Ÿ #$9øJy³ôŽÎ-É ru#$9øJyóøÌ>É ru9s»3Å`£ #$9ø9ÉŽ§ Bt`ô äu#Bt`z /Î$$!« ru#$9ø‹uqöQÏ #$yFzÅÌ ru#$9øJy=n»¯´Í6xpÏ ru#$9ø3ÅGt»=É ru#$9Z¨;΋hÍ¿`z ruäu#At’ #$9øJy$At ãt?n’4 mã6mÎmϾ ŒsrÍ“ #$9ø)àö1n†4 ru#$9øŠuGt»Jy’4 ru#$9øJy¡|»3Åüût ru#$óøût #$9¡¡6΋@È ru#$9¡¡$!¬Í#Î,ût ruûÎ’ #$9hÌ%s$UÅ ru&r%s$Qu #$9Á¢=nq4on ruäu#At’ #$9“¨2Ÿq4on ru#$9øJßqùèqcš /Îèygô‰ÏdÏNö )ÎŒs# ãt»gy‰ßr#( ( ru#$9Á¢»9ÉŽÎïût ûÎ’ #$9ø7t’ù™y$!äÏ ru#$9ØœŽ§#!äÏ runÏüût #$9ø7t’ù¨Ä 3 &ér’9s»¯´Í7y #$!©%Ïïût ¹|‰y%èq#( ( ru&ér’9s»¯´Í7y dèNã #$9øJßG­)àqbt ÈÐÐÊÇ

2. Surat An-Nisā’ Ayat 136

ƒt»¯’r‰škp$ #$!©%Ïïût äu#BtYãqþ#( äu#BÏYãq#( /Î$$!« ru‘u™ßq!Î&Ͼ ru#$9ø3ÅFt»=É #$!©%Ï“ Rt“¨At ãt?n’4 ‘u™ßq!Î&Ͼ ru#$9ø6ÅFt»=É #$!©%Ï“ü &rR“tAt BÏ` %s6ö@ã 4 ruBt` ƒt3õÿàö /Î$$!« ruBt=n»¯´Í3sFÏmϾ ru.äFç7ÎmϾ ru‘â™ß#Î&Ͼ ru#$9ø‹uqöQÏ #$yFzÅÌ ùs)s‰ô Ê|@¨ Ê|=n»xK /tèÏ‹‰´# ÈÏÌÊÇ

3. Surat An-Nahl Ayat 49 – 50

ru!¬ „o¡ófà‰ß Bt$ ûÎ’ #$9¡¡Jy»quºNÏ ruBt$ ûΆ #${F‘öÚÇ BÏ` Šy#!/­p7 ru#$9øJy=n»¯´Í3spè rudèNö wŸ „o¡óGt3õ9ÉŽçrbt ÈÒÍÇ †sƒs$ùèqbt ‘u5®kåN BiÏ` ùsqö%ÏgÎOó ruƒtÿøèy=èqbt Bt$ ƒãs÷Btãrbt ) ÈÉÎÇ

4. Surat At-Tahrim Ayat 6

ƒt»¯’r‰škp$ #$!©%Ïïût äu#BtZãq#( %èqþ#( &rRÿà¡|3ä/ö ru&rd÷=΋3ä/ö Rt$‘Y# ru%èqŠßdy$ #$9Z¨$¨â ru#$:øtÏfy$‘uoä æt=nŽökp$ Bt=n»¯´Í3spî îÏxŸâÔ ©Ï‰y#Š× wž ƒtè÷ÁÝqbt #$!© Bt$! &rBttdèNö ruƒtÿøèy=èqbt Bt$ ƒãs÷Dsârbt ÈÏÇ

5. Surat Al-Hajj Ayat 75 – 77

#$!ª ƒtÁóÜs”Å’ BÏÆš #$9øJy=n»¯´Í6xpÏ ‘â™ßxW ruBÏÆš #$9Z¨$¨Ä 4 )Îcž #$!© ™yJÏ‹ì7 /tÁōŽ× ÈÎÐÇ ƒtè÷=nOÞ Bt$ /tü÷úš &rƒ÷‰ÏƒgÍNö ruBt$ zy=ùÿxgßNö 3 ru)Î<n’ #$!« ?èö_yìß #${WBãq‘â ÈÏÐÇ ƒt»¯’rƒ•gy$ #$!©%Ïïúš äu#BtZãq#( #$‘ö2Ÿèãq#( ru#$™ófà‰ßr#( ru#$ãô6ç‰ßr#( ‘u/­3äNö ru#$ùøèy=èq#( #$9ø‚yöŽu 9sèy=¯6àNö ?èÿø=Îsßqcš ) ÈÐÐÇ

Mukadimah

Iman berasal dari kata āmana – yu’minu – imānan, yang artinya percaya dan membenarkan. Menurut bahasa, iman adalah pengakuan kebenaran sesuatu dengan hati. Di dalam Islam, iman memiliki arti sebagai berikut.

Artinya :

Iman itu adalah membenarkan dengan hati, ikrar dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Iman mencakup tiga aspek, yaitu pembenaran dalam hati, ucapan dengan lisan, dan pembuktian dengan amal perbuatan. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ada empat hal pokok yang perlu diimani. Keempat hal pokok tersebut adalah sebagai berikut.

a. Ketuhanan adalah hal yang berkaitan dengan nama, sifat, kodrat, dan kekeuasaan Allah swt.

b. Kenabian/kerasulan adalah hal yang berkaitan dengan para nabi/rasul, sifat – sifatnya, tugasnya, dan kesucian pribadinya.

c. Ruhaniyyāt adalah hal yang berkaitan dengan alam lain seperti malaikat, jin, dan roh.

d. Sam’iyyāt adalah hal yang berkaitan dengan alam gaib, seperti alam barzakh, alam kubur, hari kiamat, dan alam akhirat.

Keimanan harus kita terapkan dalam kaitannya dengan empat hal pokok tersebut. Artinya, kita harus membenarkan empat hal tersebut dalam hati, mengucapkan keyakinan kita tersebut dengan lisan, mengamalkan amalan yang diperintahkan Allah swt, serta menjauhi segala larangan yang berkenaan dengan empat hal tersebut.

Salah satu aspek keimanan yang harus kita jalani adalah iman kepada hal – hal yang gaib. Di dalamnya termasuk makhluk yang bernama malaikat. Keharusan mengimani hal – hal gaib ini difirmankan Allah swt dalam Surat Al-Baqarah Ayat 3 berikut ini.

Œsº9Ï7y #$9ø6ÅGt»=Ü wŸ ‘uƒ÷=| ¡ ùÏ‹mÏ ¡ dè‰W“ 9jÏ=ùJßF­)ÉŠ`z ÈËÇ #$!©%Ïïût ƒãs÷BÏZãqbt /Î$$9øót‹ø=Í ruƒã)É‹Kãqbt #$9Á¢=nq4on ruEÊÿ®$ ‘u—y%øZu»gßNö ƒãZÿÏ)àqbt ÈÌÇ

Artinya :

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.S. Al-Baqarah 2 – 3)

Gaib merupakan segala sesuatu yang diyakini adanya, tetapi tidak bisa ditangkap oleh indra manusia. Sesuatu yang gaib itu hanya dapat diketahui dari dalil naqli, yaitu ayat – ayat Al-Qur’an dan hadis – hadis Nabi Muhammad saw.

clip_image001

Zikir & Pikir

Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S. Qāf : 17 – 18)

A. Pengertian

Kata malaikat adalah jamak dari kata malakun yang artinya utusan. Menurut istilah, malaikat adalah makhluk rohani yang bersifat gaib, diciptakan dari nur, selalu taat, tunduk serta patuh kepada Allah swt, dan tidak pernah ingkar kepada-Nya. Mereka tidak membutuhkan makan, minum, atau tidur. Mereka tidak mempunyai keinginan apapun secara fisik, serta menghabiskan waktunya siang dan malam hanya untuk mengabdi kepada Allah swt.

Beriman kepada malaikat berarti memercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah swt telah menciptakan makhluk dari nur yang bernama malaikat. Mengimani keberadaan malaikat merupakan hal yang sangat penting. Kepercayaan tersebut akan memurnikan amalan umat Islam dari segala bentuk kesyirikan.

Allah swt berfirman dalam ayat berikut ini.

* 9©Šø§} #$9ø9ÉŽ§ &rb ?èqu9—q#( rã_ãqdy3äNö %Ï6t@Ÿ #$9øJy³ôŽÎ-É ru#$9øJyóøÌ>É ru9s»3Å`£ #$9ø9ÉŽ§ Bt`ô äu#Bt`z /Î$$!« ru#$9ø‹uqöQÏ #$yFzÅÌ ru#$9øJy=n»¯´Í6xpÏ ru#$9ø3ÅGt»=É ru#$9Z¨;΋hÍ¿`z ruäu#At’ #$9øJy$At ãt?n’4 mã6mÎmϾ ŒsrÍ“ #$9ø)àö1n†4 ru#$9øŠuGt»Jy’4 ru#$9øJy¡|»3Åüût ru#$óøût #$9¡¡6΋@È ru#$9¡¡$!¬Í#Î,ût ruûÎ’ #$9hÌ%s$UÅ ru&r%s$Qu #$9Á¢=nq4on ruäu#At’ #$9“¨2Ÿq4on ru#$9øJßqùèqcš /Îèygô‰ÏdÏNö )ÎŒs# ãt»gy‰ßr#( ( ru#$9Á¢»9ÉŽÎïût ûÎ’ #$9ø7t’ù™y$!äÏ ru#$9ØœŽ§#!äÏ runÏüût #$9ø7t’ù¨Ä 3 &ér’9s»¯´Í7y #$!©%Ïïût ¹|‰y%èq#( ( ru&ér’9s»¯´Í7y dèNã #$9øJßG­)àqbt ÈÐÐÊÇ

Artinya :

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat – malaikat, kitab – kitab, dan nabi – nabi ……. (Q.S.Al-Baqarah : 177)

Secara tersirat, ayat tersebut menjelaskan bahwa beriman kepada malaikat itu adalah pangkal keimanan kepada wahyu yang diturunkan Allah swt kepada para rasul-Nya. Hal itu disebabkan, Allah swt menurunkan wahyu kepada para rasul-Nya melalui perantara. Perantara tersebut adalah salah satu malaikat, yakni Malaikat Jibril.

Demikian pula sebaliknya, jika ada orang yang mendustakan keberadaan malaikat berarti ia telah mendustakan wahyu atau kitab – kitab Allah swt dan mendustakan risalah para rasul. Oleh sebab itu, dalam redaksi ayat tersebut, Allah swt mendahulukan keimanan kepada malaikat di atas keimanan kepada kitab – kitab dan para nabi.

Adapun orang yang mengingkari keberadaan para malaikat beserta sifat – sifatnya adalah orang yang kafir dan akan tersesat sejauh – jauhnya. Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an Surat An-Nisā’ Ayat 136 berikut ini.

ƒt»¯’r‰škp$ #$!©%Ïïût äu#BtYãqþ#( äu#BÏYãq#( /Î$$!« ru‘u™ßq!Î&Ͼ ru#$9ø3ÅFt»=É #$!©%Ï“ Rt“¨At ãt?n’4 ‘u™ßq!Î&Ͼ ru#$9ø6ÅFt»=É #$!©%Ï“ü &rR“tAt BÏ` %s6ö@ã 4 ruBt` ƒt3õÿàö /Î$$!« ruBt=n»¯´Í3sFÏmϾ ru.äFç7ÎmϾ ru‘â™ß#Î&Ͼ ru#$9ø‹uqöQÏ #$yFzÅÌ ùs)s‰ô Ê|@¨ Ê|=n»xK /tèÏ‹‰´# ÈÏÌÊÇ

Artinya :

…. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat – malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, rasul – rasul-Nya, dan hari kemudian, sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh – jauhnya. (Q.S An-Nisā’ : 136)

clip_image002

Takrif

Ada 10 malaikat yang wajib dipercayai. Malaikat Jibril adalah malaikat yang mengepalai semua malaikat lainnya. Dalam menjalankan tugasnya, Malaikat Jibril kadang – kadang menampakkan dirinya dalam wujud aslinya di alam nyata. Nabi Muhammad saw selalu melihat bentuk Malaikat Jibril yang berbeda – beda ketika menyampaikan wahyu. Adakalanya Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai manusia yang bersayap. Suatu ketika, Malaikat Jibril menampakkan dirinya sebagai seorang laki – laki yang berpakaian putih dan berambut hitam. Ia mengajarkan sendi pokok agama Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan.

B. Perbedaan Manusia dengan Malaikat

Sebagai sesama makhluk ciptaan Allah swt, manusia dan malaikat mempunyai beberapa perbedaan. Perbedaan itu dapat dilihat dari beberapa aspek berikut ini.

1. Asal Kejadiannya

Manusia diciptakan Allah swt dari tanah, sedangkan malaikat diciptakan dari nur atau cahaya. Malaikat diciptakan Allah swt jauh sebelum Allah swt menciptakan manusia dalam rentang waktu yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah swt sendiri. Nabi Muhammad saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim berikut ini.

Artinya :

Malaikat diciptakan dari nur (cahaya), jin diciptakan dari api, sedangkan anak Adam sebagaimana yang telah diterangkan kepadamu. (H.R. Muslim)

clip_image003

Takrif

Umat Islam dilarang menyembah malaikat. Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa malaikat merupakan makhluk yang bebas dari dosa dan tidak pernah mengingkari perintah Allah swt. Walaupun demikian, malaikat tidak bisa menjadi perantara atau mencampuri hubungan manusia dengan Allah swt. Oleh karena itu, meminta pertolongan malaikat merupakan tindakan yang merendahkan harkat manusia.

2. Sifat – sifatnya

Ada beberapa sifat yang membedakan manusia dengan malaikat. Beberapa sifat tersebut adalah sebagai berikut :

a. Malaikat kesemuanya taat, berbakti, dan takwa kepada Allah swt. Mereka tidak pernah mengingkari, tidak pernah berbuat dosa, dan durhaka kepada-Nya. Ketakwaan para malaikat selalu dalam keadaan stabil dan tidak naik turun. Hal itu disebabkan malaikat hanya dibekali dengan nafsu sehingga mereka tidak akan terganggu dengan sesuatu yang ada disekelilingnya.

Di pihak lain, manusia adalah makhluk yang dibekali dengan akal dan nafsu. Kadangkala ia menjadi makhluk yang taat, berbakti, dan takwa kepada Allah swt. Akan tetapi, suatu ketika ia berbuat dosa dan durhaka kepada-Nya. Ketakwaannya tidak pernah stabil. Allah swt berfirman dalam Q.S. At-Tahrim Ayat 6 berikut ini.

ƒt»¯’r‰škp$ #$!©%Ïïût äu#BtZãq#( %èqþ#( &rRÿà¡|3ä/ö ru&rd÷=΋3ä/ö Rt$‘Y# ru%èqŠßdy$ #$9Z¨$¨â ru#$:øtÏfy$‘uoä æt=nŽökp$ Bt=n»¯´Í3spî îÏxŸâÔ ©Ï‰y#Š× wž ƒtè÷ÁÝqbt #$!© Bt$! &rBttdèNö ruƒtÿøèy=èqbt Bt$ ƒãs÷Dsârbt ÈÏÇ

Artinya :

…. malaikat – malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S At-Tahrim : 6)

b. Malaikat tidak mempunyai jenis kelamin, sedangkan manusia terdiri dari dua jenis kelamin, yaitu laki – laki dan perempuan. Oleh karena itu, malaikat tidak memiliki nafsu syahwat atau birahi serta tidak berkembang biak. Hal itu disebabkan, malaikat tidak akan mati sebelum hari kiamat sehingga jumlah mereka tetap, tidak bertambah ataupun berkurang. Adapun manusia memiliki nafsu syahwat terhadap lawan jenisnya. Hal itu disebabkan, manusia mengalami siklus kehidupan, dimana manusia akan mati dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, manusia harus berkembang biak untuk melestarikan jenisnya sampai hari kiamat kelak.

Allah swt berfirman dalam Q.S An-Najm Ayat 27 – 28 berikut ini.

)Îb¨ #$!©%Ïïût wŸ ƒãs÷BÏZãqbt /Î$$yFzōtoÍ 9sŠã¡|J‘qbt #$QùRp=n»¯´Í3sps @n¡óJÏ‹ups #${WR\sÓ4 ÈÐËÇ ruBt$ ;mlçM /ÎmϾ BÏ`ô æÏ=ùOA ( )Îb ƒtF­7Îèãqbt )Îwž #$9à©`£ ( ru)Îb¨ #$9à©`£ wŸ ƒãóø_ÍÓ BÏ`z #$:øtp,dÈ ©x‹ø«\$ ÈÑËÇ

Artinya :

Sesungguhnya orang – orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar – benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (Q.S An-Najm : 27 – 28)

c. Malaikat berbadan halus atau gaib (zat saja). Oleh karena itu, mereka tidak membutuhkan hal – hal yang sifatnya material, seperti makan, minum, atau tidur. Dengan keadaan yang seperti itu, malaikat dapat mengubah bentuknya dari bentuk asli ke bentuk yang diinginkannya. Contohnya, pada waktu Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad saw, ia datang dalam bentuk yang berbeda – beda. Kadangkala dalam bentuk aslinya, kadangkala berbentuk seorang laki – laki yang tampan dan gagah.

Adapun manusia selain mempunyai jiwa atau badan halus (zat) juga mempunyai badan kasar (materi). Oleh karena itu, menusia membutuhkan makan, minum, dan tidur, serta sesuatu yang lain yang bersifat kebendaan.

Allah swt berfirman dalam Surat Al-Fātir Ayat 1 berikut ini.

#$:øtpJô‰ß !¬ ùs$ÛÏÌ #$9¡¡Jy»quºNÏ ru#${F‘öÚÇ `y%ãÏ@È #$9øJy=n»¯´Í3spÏ ‘â™ßx¸ &ér'<Í’þ &r_ôZÏsyp7 B¨V÷Yo‘4 ruOè=n»]y ru‘â/t»ìy 4 ƒt“̃‰ß ûÎ’ #$:øƒs=ù,È Bt$ „o±t$!äâ 4 )Îb¨ #$!© ãt?n’4 .ä@eÈ «xÓóä& %s‰ÏƒÖ ÈÊÇ

Artinya :

Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan – utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing – masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S Al-Fātir : 1)

clip_image004

Takrif

Malaikat penjaga neraka adalah malaikat yang kasar, yaitu yang tabiatnya kasar. Allah swt mencabut dari hati mereka rasa kasih sayang terhadap orang – orang kafir. Yang keras adalah penampilan tubuh mereka yang keras dan mengerikan. Wajah mereka hitam dengan taring – taring yang menakutkan. Mereka itulah para malaikat Zabariah.

3. Tugas dan Kewajibannya

Manusia oleh Allah swt ditugaskan menjadi khalifah (pengganti) di bumi ini. Sebagai khalifah, manusia mempunyai kewajiban untuk mengelola bumi dan segala isinya. Kesemuanya itu untuk kemaslahatan semua penghuninya.

Dalam menjalankan tugasnya itu, manusia dibekali dengan akal dan nafsu, serta dibimbing oleh wahyu dari Allah swt. Tanpa mempunyai akal, manusia tentu tidak mungkin memikirkan bagaimana mengelola bumi itu. Tanpa nafsu, manusia tidak akan memiliki gairah untuk hidup. Namun, dengan akal dan nafsu semata, manusia bisa tersesat sehingga manusia membutuhkan bimbingan wahyu.

Allah swt berfirman dalam Q.S Al-Baqarah Ayat 30 berikut ini.

ru)ÎŒø %s$At ‘u/•š 9Ï=ùJy=n»¯´Í3spÏ )ÎToÎ’ `y%ãÏ@× ûÎ’ #${F‘öÚÇ zy=΋ÿxpZ ( %s$9äqþ#( &rBrgøèy@ã ùÏŽkp$ Bt` ƒãÿø¡Å‰ß ùÏŽkp$ ru„o¡óÿÏ7à #$!$eÏBt$!äu ruUwtø`ß Rç¡|7mÎxß 2¿tpJô‰Ï8x ruRç)s‰dϨâ 9s7y ( %s$At )ÎToÎ’þ &rãô=nNã Bt$ wŸ ?sè÷=nJßqbt ÈÉÌÇ

Artinya :

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi …. “ (Q.S. Al-Baqarah : 30)

clip_image005

Takrif

Menurut Syahr bin Hausy malaikat pemikul arsy ada delapan. Mereka selalu memohonkan ampun bagi orang – orang yang beriman. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami ! Rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, yaitu segala dosa dan kesalahan mereka, serta semua amalan dan perbuatan mereka. Berilah ampunan kepada orang – orang yang mengikuti jalan Engkau. Selamatkanlah mereka dari neraka dan masukkanlah mereka ke dalam surga.”

Adapun malaikat diciptakan oleh Allah swt dengan tugas dan kewajibannya masing – masing. Contohnya, sebagai pemikul arsy, sebagai penjaga dan pemelihara sesuatu, penulis kalam Allah swt, penyampai wahyu, penurun hujan, pencabut nyawa, dan sebagainya. Semua tugas itu memiliki kaitan yang sangat erat dengan kehidupan manusia.

Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Mu’min Ayat 7 berikut ini.

#$!©%Ïïût †støJÏ=èqbt #$9øèyö¸z ruBt`ô myqö9smç¼ „ç¡|7mÎsßqbt 2¿tpJô‰Ï ‘u5hÍkÍNö ruƒãs÷BÏZãqbt /ÎmϾ ru„o¡óGtóøÿύãrbt 9Ï#©%Ïïût äu#BtZãq#( ‘u/­Zu$ ru™Åè÷M| 2à@¨ «xÓóä& ‘§môJypZ ruãÏ=ùJV$ ùs$$îøÿύö 9Ï#©%Ïïût ?s$/çq#( ru#$?¨7tèãq#( ™y6΋=n7y ru%ÏgÎNö ãt‹x#>z #$:øgpsÅìLË ÈÐÇ

Artinya :

(Malaikat – malaikat) yang memikul arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya dan memintakan ampun kepada orang – orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, berilah ampun kepada orang – orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala – nyala.” (Q.S. Al-Mu’min : 7)

4. Derajat dan Kedudukannya

Dari semua makhluk yang diciptakan Allah swt, manusia merupakan makhluk yang paling mulia. Manusia diciptakan Allah swt memiliki badan halus dan badan kasar. Kematian yang menimpa manusia pada hakikatnya adalah perpisahan badan halus dan badan kasarnya, atau terpisahnya jiwa dari raganya. Meskipun raganya telah mati, jiwa manusia akan terus hidup abadi.

Apabila binatang diciptakan Allah swt dengan nafsu dan insting saja, manusia dilengkapi dengan akal. Hal itulah yang menyebabkan manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 34 berikut ini.

ru)ÎŒø %è=ùYo$ 9Ï=ùKu=n»¯´Í3spÏ #$™ófà‰ßr#( yKŠyPt ùs¡|fy‰ßrÿ#( )ÎwH )Î/ö=Ί§} &r1n’4 ru#$™óFt3õ9yŽu ru.x%bt BÏ`z #$9ø3s»ÿύÍïúš ÈÍÌÇ

Artinya :

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kau kepada Adam!” Sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang – orang yang kafir. (Q.S. Al-Baqarah : 34)

Allah swt juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isrā’ Ayat 70 berikut ini.

* ru9s)s‰ô .x§BøYo$ /t_ÍÓû äu#ŠyPt ruqxHu=ùYo»gßNö ûÎ’ #$9ø9yŽhÎ ru#$9ø7tsóÌ ru‘u—y%øYo»gßN BiÏÆš #$9Ü©ŠhÍ7t»MÏ ruùsÒž=ùZu»gßOó ãt?n’4 2ŸVύŽ9 BiÏJ£`ô zy=n)øYo$ ?sÿøÒÅŠxW ÈÉÐÇ

Artinya :

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak – anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik – baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al-Isrā’ : 70)

Di samping itu, manusia dijanjikan akan mendapatkan kebahagiaan berupa surga dengan segala kenikmatannya apabila ia mampu menjalankan tugas kekhalifahannya di bumi dengan baik. Allah swt juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Tin Ayat 4 – 6 berikut ini.

9s)s‰ô {y=n)øZu$ #$}MS¡|»`z ûÎ’þ &rmô¡|`Ç ?s)øqȃO5 ÈÍÇ OèO¢ ‘uŠyŠ÷Rt»mç &r™óÿx@Ÿ ™y»ÿÏ#Î,ût ÈÎÇ )Îwž #$!©%Ïïût äu#BtZãq#( ruåxHÏ=èq#( #$9Á¢»=Îsy»MÏ ùs=ngßOó &r_ôí îxöŽç ExÿøYãqb5 ÈÏÇ

Artinya :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik – baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah – rendahnya (neraka), kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka pahala yang tiada putus – putusnya. (Q.S. At-Tin : 4 – 6)

clip_image006

Takrif

1. Gaib adalah hal – hal yang tidak nyata, tidak kelihatan, dan tersembunyi dari panca indera manusia.

2. Arsy adalah singgasana. Beberapa malaikat memiliki tugas untuk memikul arsy Allah swt.

3. Iblis adalah makhluk dari golongan jin yang pertama kali mendurhakai Allah swt

C. Macam – macam Malaikat

Malaikat mempunyai jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mereka mempunyai tugas masing – masing yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Umat Islam diwajibkan mengetahui sepuluh malaikat yang utama. Sepuluh malaikat tersebut memiliki tugasnya masing – masing, yaitu sebagai berikut.

1. Jibril

Nama lainnya adalah Rūhul-Amin dan Rūhul Qudus. Tugasnya adalah sebagai pengantar wahyu kepada para nabi dan rasul. Hal itu dijelaskan Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syu’arā Ayat 193 – 195 berikut ini.

Rt“tAt /ÎmÏ #$9”ryß #${FBÏüûß ÈÌÒÊÇ ãt?n’4 %s=ù7Î7y 9ÏGt3äqbt BÏ`z #$9øJßZ‹É‘Íïût ÈÍÒÊÇ /Î=Ρ|$bA ãtt1Î’c< B•7Îüû& ÈÎÒÊÇ

Artinya :

Dia dibawa turun oleh Rūhul-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang – orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. Asy-Syu’arā : 193 – 195)

Allah swt juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 102 berikut ini.

%è@ö Rt“¨9smç¼ ‘âryß #$9ø)à‰ß¨Ä BÏ` ‘¢/i΁š /Î$$:øtp,dÈ 9Ï‹ã[s7mÎM| #$!©%Ïïúš äu#BtZãq#( rudè‰Y“ ru0ç±ôt”2 9Ï=ùJß¡ó=ÎJÏüût ÈËÉÊÇ

Artinya :

Katakanlah, “Rūhul-Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang – orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang – orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Q.S. An-Nahl : 102)

2. Mikail

Tugasnya adalah mengurusi kesejahteraan makhluk hidup. Misalnya, menurunkan dan mengalirkan hujan ke wilayah – wilayah yang diperintahkan Allah swt, serta mengantar angin dan awan. Tidak ada setetes air pun yang turun dari langit, kecuali pada saat itu ada malaikat yang menentukan tempat menetesnya di muka bumi ini.

Bt` .x%bt ãt‰ßrx# !° ruBt=n»¯´Í6xGÏmϾ ru‘â™ß#Î&Ͼ ru_Å9öŽÎƒ@Ÿ ruBÏ‹3s8@Ÿ ùs*Îc #$!© ãt‰ßrA 9jÏ=ù3s»ÿύ̃`z ÈÑÒÇ

Artinya :

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat – malaikat-Nya, rasul – rasul-Nya, Jibril, Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang – orang kafir. (Q.S. Al-Baqarah : 98)

3. Israfil

Tugasnya adalah meniup sangkakala (trompet) yang menandai datangnya hari kiamat. Israfil meniup trompet itu sebanyak tiga kali. Tiupan pertama mengejutkan seluruh makhluk, tiupan kedua mematikan seluruh makhluk, dan tiupan ketiga membangkitkan umat manusia untuk menghadap kepada Sang Pencipta. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yāsin Ayat 51 berikut ini.

ruRçÿχy ûÎ’ #$9Áq‘Í ùs*ÎŒs# dèN BiÏ`z #${F`÷‰y#^Ï )Î<n’4 ‘u/nÎgÎNö ƒtY¡Å=èqcš ÈÊÎÇ

Artinya :

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba – tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. (Q.S. Yāsin : 51)

4. Izrail

Malaikat Izrail mempunyai tugas mencabut nyawa manusia dan semua makhluk hidup lainnya. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 32 berikut ini.

#$!©%Ïïût ?sGtquù©9gßNã #$9øJy=n»¯´Í3spè Ûs‹hÍ6Îüût ƒt)àq9äqcš ™y=n»Oí æt=n‹ø3äNã #$Š÷zä=èq#( #$9øfyY¨ps /ÎJy$ .äYFçOó ?sè÷Jy=èqbt ÈËÌÇ

Artinya :

(Yaitu) orang – orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), “Salāmun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 32)

clip_image007

Takrif

Ketika mencabut nyawa orang yang beriman, Malaikat Israil berlaku lemah lembut. Ia mengucapkan salam lalu mengatakan, “Janganlah kamu bersedih ! Masuklah ke dalam surga! Kamu akan mendapatkan segala yang kamu inginkan.”

5. Munkar dan Nakir

Munkar dan Nakir adalah dua malaikat yang ditugaskan menanyai manusia di alam kubur.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis berikut ini.

Artinya :

Sesungguhnya seorang hamba (yang meninggal) apabila telah diletakkan di dalam kubur, dia mendengar suara sandal para pengantarnya yang pulang. Kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat. Mereka mendudukkannya dan bertanya kepadanya (yang meninggal), “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (Muhammad)? “Sesungguhnya orang mukmin akan menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya,” kemudian dikatakan kepadanya, “Lihat tempatmu di neraka, sungguh Allah telah menggantikan buat kamu tempat di surga.” Maka ia melihat keduanya (surga dan neraka). (H.R. Bukhari-Muslim)

6. Rakib dan Atid

Dua malaikat tersebut mempunyai tugas menuliskan amal pekerjaan manusia sehari – hari. Pekerjaan baik dicatat oleh Malaikat Rakib yang ada di sebelah kanan manusia dan amal buruk dicatat oleh Malaikat Atid yang berada di sebelah kiri manusia. Catatan dari kedua malaikat ini akan dikemukakan ketika menimbang dosa dan pahala sehingga tak satu pun perbuatan manusia yang hilang atau lepas dari perhitungan. Semuanya tercatat lengkap. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surat Qāf Ayat 17 – 18 berikut ini.

)ÎŒø ƒtGt=n+¤’ #$9øJßGt=n)eÉ‹u$bÈ ãt`Ç #$9ø‹uJÏüûÈ ruãt`Ç #$9±eÏKu$AÉ %sèÏ‹‰Ó ÈÐÊÇ B¨$ ƒt=ùÿÏáà BÏ` %sqöA@ )Îwž 9s‰yƒ÷mÏ ‘u%Ï‹=ë ãtGÏŠ‰Ó ÈÑÊÇ

Artinya :

(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.S Qāf : 17 – 18)

7. Malik

Malaikat Malik juga dikenal dengan nama Malaikat Zabaniyah. Ia bertugas menjaga neraka dan memimpin para malaikat penyiksa penghuni neraka. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Az-Zukhruf Ayat 77 berikut ini.

ruRt$Šyr÷#( ƒt»Jy»=Î7à 9Ï‹u)øÙÇ ãt=nŠøZu$ ‘u/•7y ( %s$At )ÎR¯3ä/ B¨»3ÅWèqcš ÈÐÐÇ

Artinya :

Mereka berseru, “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab, “Kamu akan tetap tinggal (di neraka itu).” (Q.S Az-Zukhruf : 77)

8. Ridwan

Malaikat ini bertugas menjaga surga dan memimpin para malaikat pelayan surga. Di tempat ini, orang yang beriman dijanjikan Allah swt untuk hidup dengan penuh damai dan kenikmatan Allah swt, berfirman dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 73 berikut ini.

ru™Å‹,t #$!©%Ïïúš #$?¨)sqö#( ‘u5®kåNö )Î<n’ #$9øfyZ¨pÏ —ãBt·# ( myL¨Ó# )ÎŒs# `y%!äârdy$ ruùèGÏsyMô &r/öquº/çgy$ ru%s$At ;mlçOó zy“tRtJçkp$ ™y=n»Ní æt=n‹ø6àNö ÛÏ7öFçOó ùs$$Š÷zä=èqdy$ zy»#Î$Ïïût ÈÌÐÇ

Artinya :

Dan orang – orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong – rombongan (pula) sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedangkan pintu – pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga – penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu, masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.“ (Q.S. Az-Zumar : 73)

clip_image008

Takrif

1. Rūhul-Amin adalah nama lain dari Malaikat Jibril. Di samping itu, Malaikat Jibril juga disebut Rūhul-Qudus.

2. Malaikat Maut adalah nama lain dari Malaikat Izrail.

3. Malaikat Zabaniyah adalah nama lain dari Malaikat Malik.

D. Hikmah Beriman kepada Malaikat

Menurut Abu A ‘la ak-Maudadi, seorang tokoh pembaru dari Pakistan, beriman kepada malaikat akan memurnikan dan membebaskan konsep tauhid dari perbuatan – perbuatan syirik. Hal itu juga sejalan dengan beberapa hadis Nabi Muhammad saw yang melarang umat Islam untuk menyembah malaikat.

Beriman kepada malaikat dengan meyakini bahwa malaikat juga makhluk ciptaan Allah swt akan membawa kesadaran kepada umat Islam bahwa yang Mahakuasa semata – mata adalah Allah swt. Tidak ada makhluk apapun yang mampu menandingi kekuasaan Allah swt termasuk malaikat dan jin. Dengan meyakini keberadaan mereka sebagai makhluk Allah swt, umat Islam hanya akan meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah swt semata.

Dengan mengimani keberadaan malaikat, umat Islam juga menyadari bahwa tugas – tugas dan kewajiban yang dijalankan malaikat sangat dekat dan berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Dengan memahami hal itu, umat Islam akan terdorong untuk mengerjakan amalan – amalan yang dihadiri dan didoakan malaikat atas perintah Allah swt. Amalan – amalan tersebut, di antaranya, adalah

1. mengerjakan ibadah pada malam lailatulkadar;

2. membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah swt;

3. mengajarkan kebajikan;

4. menuntut ilmu yang bermanfaat;

5. berjalan menuju masjid;

6. mengerjakan salat berjamaah pada saf yang pertama;

7. hadir lebih awal ketika mengerjakan salat Jumat;

8. memberikan sedekah dan infak dalam kebaikan;

9. mengerjakan ibadah haji dan wukuf di Arafah;

10. mengucapkan selawat kepada Nabi Muhammad saw;

11. mengunjungi orang yang sakit;

12. tidur dalam keadaan berwudu.

Demikian pula sebaliknya, dengan beriman kepada malaikat, umat Islam akan menjauhi amalan – amalan yang dilaknat dan dijauhi oleh malaikat atas perintah Allah swt. Amalan – amalan tersebut, diantaranya adalah :

1. hidup dalam kekafiran;

2. melindungi orang yang mendustakan ajaran agama;

3. mencaci maki sahabat Nabi Muhammad saw;

4. mengacung – acungkan besi kepada saudarnya dengan tujuan menakut – nakuti;

5. mengerjakan kemaksiatan di dalam rumah, seperti mabuk – mabukan;

6. meletakkan anjing dan patung di dalam rumah.

Dengan mengerjakan dan menjauhi dua macam perbuatan di atas, umat Islam akan semakin bertambah tebal keimanannya kepada Allah swt. Pada akhirnya, hal itu mengangkat dan meninggikan derajat manusia itu sendiri.

clip_image009

Takrif

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dan Ahmad, Rasulullah saw berkata, “Aku akan datang menuju pintu surga di hari kiamat nanti. Kemudian aku minta agar pintu itu dibukakan. Maka berkatalah penjaga pintu, ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab, ‘Aku Muhammad. ‘Berkatalah penjaga pintu surga, ‘Karena engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi seseorang sebelum kamu.’ Setelah Rasulullah saw masuk surga, orang – orang beriman lainnya segera mengikutinya.

Ikhtisar

1. Malaikat adalah salah satu makhluk gaib yang diciptakan dari nur (cahaya), keseluruhan hidupnya digunakan untuk berbakti, beribadah, serta menaati semua perintah Allah swt.

2. Malaikat memiliki perbedaan dengan manusia dalam beberapa aspek. Beberapa aspek itu adalah sebagai berikut :

a. Menurut kejadiannya, malaikat diciptakan dari nur (cahaya) jauh sebelum Allah swt menciptakan manusia dari tanah.

b. Menurut beberapa sifat yang dimiliki keduanya. Beberapa sifat itu adalah sebagai berikut.

1) Malaikat kesemuannya berbakti kepada Allah swt, sedangkan manusia ada yang berbakti dan ada yang durhaka kepada Allah swt.

2) Malaikat tidak mempunyai jenis kelamin, sedangkan manusia terdiri dari dua jenis kelamin, yaitu laki – laki dan perempuan.

3) Malaikat berbadan halus saja, sedangkan manusia mempunyai badan halus dan badan kasar (jiwa dan raga).

c. Menurut tugas dan kewajibannya, Allah swt menciptakan malaikat semata – mata untuk beribadah kepada-Nya, sedangkan manusia diciptakan Allah swt untuk menunaikan bermacam – macam tugas sebagai khalifah di muka bumi.

d. Menurut derajat dan kedudukannya, manusia menduduki derajat yang paling mulia di antara semua makhluk Allah swt. Manusia dijanjikan untuk mendapatkan kebahagiaan di surga apabila mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Sebaliknya, malaikat tidak dijanjikan untuk memperoleh sesuatu, walaupun sepanjang hidupnya digunakan untuk beribadah kepada Allah swt.

3. Jumlah malaikat sangatlah banyak, namun ada sepuluh malaikat utama yang harus diketahui oleh umat Islam. Kesepuluh malaikat itu adalah Malaikat Jibril, Malaikat Mikail, Malaikat Israfil, Malaikat Izrail, Malaikat Munkar, Malaikat Nakir, Malaikat Rakib, Malaikat Atid, Malaikat Malik, dan Malaikat Ridwan.

4. Hikmah beriman kepada malaikat adalah memurnikan amalan umat Islam dari kesyirikan. Dengan mengimani malaikat, umat Islam akan mengerjakan amalan yang didoakan oleh malaikat, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir kepada Allah swt, dan mengunjungi orang sakit. Dengan mengimani malaikat, umat Islam juga akan menjauhi amalan yang dilaknat oleh malaikat, seperti meletakkan anjing dan patung dalam rumah, mencaci maki sesama umat Islam, dan hidup dalam kekafiran.

Integrasi Budi Pekerti

Dalam sebuah hikayat diceritakan ada seorang kyai yang mempunyai banyak santri. Setiap hari sang kyai memberi pelajaran agama dengan ikhlas dan istikamah kepada para santrinya. Para santri mendapatkan pelajaran keislaman, seperti Al-Qur’an, tauhid, fikih, ilmu alat (nahwu saraf), dan lain sebagainya.

Setelah beberapa saat lamanya, kyai merasa telah memberikan banyak pelajaran, terutama dalam masalah akidah. Oleh karena itu, pada suatu hari kyai ingin menguji santrinya.

“Anak – anakku ! Aku minta bantuan kalian!” kata kyai.

“Baik, Kyai,” puluhan santri menjawab dengan serempak.

“Aku minta tolong kalian untuk menyembelih ayam – ayam ini,” sambung Kyai, “Masing – masing santri menyembelih satu ekor ayam,” tambah Kyai.

“Tapi ada syaratnya!” Kyai berkata lagi.

“Apa syaratnya Kyai!” salah seorang santri bertanya dengan penuh penasaran.

Kyai melanjutkan, “Syaratnya adalah, kalian harus menyembelih ayam tersebut di tempat yang sepi, dan tidak ada seorang pun yang melihat atau menyaksikan kalian ! Sanggupkah kalian ?”

“Sanggup Kyai !” jawab para santri. Para santri dalam hatinya berpikir bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mudah. Hanya menyembelih seekor ayam tanpa dilihat orang lain, apa susahnya?

Akhirnya, para santri tersebut membawa ayam masing – masing menuju ke tempat yang sepi. Ada yang menyembelihnya di kebun, di dalam rumah, di kamar, di bawah tempat tidur, di sawah, dan lain sebagainya. Ia merasa tidak bisa menyembelih ayam di tempat yang sepi tanpa dilihat orang lain sesuai pesan kyai.

Ia mencoba masuk ke tengah kebun. Namun, sesampainya di sana ia bingung dan tidak jadi menyembelihnya. Kemudian ia masuk ke kamar lalu mengunci pintu rapat – rapat. Namun, ia tetap kebingungan sehingga gagal menyembelihnya. Lalu, ia ke sana kemari untuk mencari tempat yang sepi. Akan tetapi, ia tetap tidak mendapatkan tempat tersebut. Tempat yang tidak bisa dilihat orang lain. Waktu yang disediakan telah habis. Dengan langkah mantap, satu per satu para santri maju dan menyerahkan hasil sembelihannya kepada sang Kyai.

Setelah semua santri maju, tinggallah seorang santri yang maju dengan ragu. Santri tersebut tidak bisa menyembelih ayamnya sehingga ia membawa ayam yang masih hidup. Teman – temannya semua heran, kenapa santri yang satu ini tidak taat pada Kyai. Ia maju dengan wajah yang pucat pasi karena merasa takut.

“Maaf Kyai, saya tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan Kyai,” ia melaporkan.

“Kenapa ayam itu tidak kamu sembelih ? Padahal, teman – temanmu telah menyembelihnya semua?” tanya Kyai. “Maaf Kyai ! Saya ternyata tidak dapat menemukan tempat yang sepi yang tidak dapat dilihat orang lain,” santri itu menjelaskan. “Mengapa?” tanya Kyai.

Santri itu berkata, “Bukankah Kyai sendiri yang menjelaskan bahwa di mana pun kita berada, Malaikat Rakib dan Atid selalu menyertai kita. Bukanka Kyai sendiri yang menerangkan bahwa tidak ada tempat yang lepas dari pengawasan Allah swt?”

Kyai menganggukkan kepala sambil tersenyum seraya berkat, “Benar kamu Nak! Itulah sebenarnya yang aku inginkan. Sayangnya, di antara semua muridku hanya kamulah yang mengerti maksudku.”

Kyai kemudian memberikan wejangan kepada para santrinya mengenai maksud ujian yang dilaksanakannya tadi.

Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Dalam ilmu tauhid ada empat hal yang harus diimani oleh seorang mukmin, yaitu ketuhanan, kenabian, ruhaniyyāt, dan sam’iyyāt. Beriman kepada malaikat termasuk kategori ….

a. ketuhanan d. sam’iyyāt

b. kenabian e. malakutiyah

c. ruhaniyyāt

2.

Menurut Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 177 tersebut, menghadapkan wajah ke barat dan ke timur bukanlah suatu kebajikan. Akan tetapi, kebajikan itu adalah beriman kepada hal – hal yang berikut ini, kecuali ….

a. Allah swt d. para nabi

b. yang gaib e. hari akhir

c. malaikat

3. Orang yang menduskan keberadaan malaikat menurut Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 17 termasuk golongan orang ….

a. munafik d. zalim

b. fasik e. berdosa

c. kafir

4.

Hadis riwayat Imam Muslim tersebut menjelaskan tentang ….

a. sifat – sifat malaikat d. ketaatan malaikat

b. kejadian malaikat, jin, dan manusia e. kedudukan malaikat

c. keutamaan atau kelebihan malaikat

5. Malaikat adalah makhluk yang paling taat. Ketaatan malaikat itu berjalan stabil. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena malaikat ….

a. senantiasa beribadah d. memiliki akal yang sempurna

b. tidak memiliki hawa nafsu e. senantiasa bertasbih dan menyucikannya

c. banyak memiliki kelebihan

6. Ciri – ciri fisik malaikat diterangkan Allah swt dalam Al-Qur’an Surat ….

a. Fātri Ayat 1 d. Al-Mu’min Ayat 7

b. Fussilat Ayat 11 e. Al-Baqarah Ayat 34

c. Al-Baqarah Ayat 30

7. Malaikat yang bertugas mencabut nyawa adalah Malaikat ….

a. Atid d. Izrail

b. Israfil e. Ridwan

c. Rakib

8. Nama lain Malaikat Malik adalah ….

a. Zabaniyah d. Kiraman Katibin

b. Ruhul Karim e. Ruhul Amin

c. Maut

9.

Al-Qur’an Surat Qāf Ayat 18 tersebut menjelaskan tentang tugas dari Malaikat ….

a. Rakib – Atid d. Izrail – Israfil

b. Munkar – Nakir e. Jibril – Mikail

c. Malik – Ridwan

10. Berikut ini adalah beberapa fungsi iman kepada malaikat, kecuali ….

a. memurnikan akidah dari kemusyrikan

b. mendorong manusia untuk melakukan kebaikan

c. membuat manusia waspada dan hati – hati dalam bertindak

d. membuat manusia semakin akrab dengan para malaikat

e. sadar bahwa meminta pertolongan kepada malaikat akan merendahkan martabat manusia

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat!

1) Sebutkan tiga aspek keimanan !

2) Sebutkan perbedaan manusia dengan malaikat dilihat dari asal kejadiannya !

3) Bagaimanakah kedudukan manusia dibandingkan makhluk lain menurut Al-Qur’an Surat Al-Isrā’ Ayat 70 ?

4) Kemukakan lima amalan yang dihadiri dan didoakan oleh malaikat !

5) Sebutkan alasan mengapa manusia memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding malaikat !

Lembar Portofolio

1) Diskusikan mengapa manusia yang taat lebih mulia dibandingkan dengan malaikat yang taat sekalipun !

2) Tulislah beberapa dalil naqli dari Al-Qur’an mengenai kewajiban beriman kepada malaikat !

3) Jelaskan hubungan antara jin dan malaikat !

4) Sebagai makhluk hidup, manusia membutuhkan makan, minum, dan berkembang biak. Akan tetapi, malaikat tidak membutuhkannya. Diskusikan sebabnya !

5) Sebutkan nama – nama malaikat yang wajib kita ketahui beserta tugasnya dengan menggunakan format sebagai berikut !

No.

Nama Malaikat

Nama Lain (kalau ada)

Tugas

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

     

Hikmah

Sebaik – baik teman adalah orang yang dapat menunjukkan kamu kepada kebaikan.

Read Full Post »

zakat, haji, umrah dan wakaf

BAB VIII ZAKAT, HAJI, UMRAH, DAN WAKAF

A. Zakat

B. Haji dan Umrah

C. Wakaf

Dalam kehidupan bermasyarakat, semua orang pasti menginginkan kehidupan yang tenang, damai, dan sejahtera. Agama Islam memberikan tuntunan untuk dapat mewujudkan semua itu.

Tuntunan melaksanakan zakat bertujuan untuk membantu sesama muslim agar terlepas dari himpitan kemiskinan. Demikian juga dengan wakaf. Kesemuannya bertujuan memperbaiki kehidupan umat muslim

Adapun menunaikan ibadah haji akan menyadarkan umat Islam bahwa dirinya merupakan bagian kecil dari keseluruhan umat manusia. Hal itu akan memberikan kesadaran kepada umat manusia untuk saling menolong.

Kompetensi Dasar

1. Siswa mampu mendeskripsikan tentang zakat dan hikmahnya serta menerapkannya dalam perilaku sehari – hari.

2. Siswa mampu mendeskripsikan tentang haji dan umrah serta hikmahnya dan menerapkannya dalam perilaku sehari – hari.

3. Siswa mampu mendeskripsikan tentang wakaf dan hikmahnya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Standar Kompetensi

Siswa mampu melaksanakan syariat Islam dalam kehidupan sehari – hari.

Indikator

Setelah proses pembelajaran, siswa mampu :

1. mengidentifikasi hikmah zakat dan pajak;

2. membiasakan diri untuk memberi kepada orang yang tidak mampu;

3. mengidentifikasi hikmah haji dan umrah;

4. menunjukkan perilaku yang sesuai dengan hikmah haji dan umrah (persamaan, kebersamaan, dan persatuan);

5. mengidentifikasi hikmah wakaf;

6. membiasakan diri untuk memberikan infak dan bersedekah.

Tadarus

1. Surat Al-An’ām Ayat 141 – 142

* rudèqu #$!©%Ï“ü &rS±t’r _yY¨»M; B¨è÷ár©x»M; ruîxöŽu Btê÷âr©x»M; ru#$9Z¨‚÷@Ÿ ru#$9“¨‘öít CèƒøFt=Îÿ¸$ &é2à#é&ã¼ ru#$9“¨ƒ÷Gçqcš ru#$9”B¨$cš BãFt±t»:Èk\$ ruîxöŽu BãFt±t»7Îm7 4 2à=èq#( BÏ` OrJyÌn;ÿ )ÎŒs#! &rOøJyt ruäu#?èq#( my)¤mç¼ ƒtqöQu myÁ|$ŠÏn; ( ruwŸ @è£ôŽÎùèqþ#( 4 )ÎR¯mç¼ wŸ †ätÏ= #$9øJߣôŽÎùÏüúš ÈÊÍÊÇ ruBÏÆš #${FR÷èy»OÉ myJßq!s’\ ruùsó©V$ 4 2à=èq#( BÏJ£$ ‘u—y%x3äNã #$!ª ruwŸ ?sF­7Îèãq#( zäÜäquºNÏ #$9±¤‹øÜs»`Ç 4 )ÎR¯mç¼ 9s3äNö ãt‰ßrA B•7Îüû× ÈËÍÊÇ

2. Surat Al – Baqarah Ayat 196 – 202

ru&r?ÏJ‘q#( #$:øtpk¢ ru#$9øèãK÷ton !¬ 4 ùs*Îb÷ &émôÇÅŽ÷?èNö ùsJy$ #$™óGtŠø£yŽu BÏ`z #$;ùlo‰ô“Ä ( ruwŸ Brtø=Î)àq#( ‘âäâr™y3äOó myL®Ó4 ƒt7ö=è÷x #$;ùlo‰ô“ß CxtÏ#©&ã¼ 4 ùsKu` .x%bt BÏZ3äN D£ÍƒÒ³$ &rr÷ /ÎmϾÿ &rŒ]“ BiÏ` ‘§&ù™ÅmϾ ùsÿωôƒtp× BiÏ` ¹ÏŠu$QB &rr÷ ¹|‰y%sp> &rr÷ Sè¡Ý77 4 ùs*ÎŒs#! &rBÏYêäL÷ ùsJy` ?sJyG­ìy /Î$$9øèãK÷toÍ )Î<n’ #$:øtpkdÆ ùsJy$ #$™óGtŠø£yŽu BÏ`z #$;ùlo‰ô“Ä 4 ùsJy` 9©Nö †sgʼnô ùsÁÅ‹u$Pã Or=n»WspÏ &rƒ­$Q5 ûÎ’ #$:øtpkdÆ ru™y7öèyp> )ÎŒs# ‘u_yè÷FçNö 3 ?Ï=ù7y ãt³|Žuo× .x%BÏ#s’× 3 Œsº9Ï7y 9ÏJy` 9©Nö ƒt3ä`ô &rd÷#é&ã¼ my$ÑŎΓ #$9øJy¡ófÉ‰Ï #$:øtpt#QÏ 4 ru#$?¨)àq#( #$!© ru#$ãô=nJßqþ#( &rb¨ #$!© ©x‰Ïƒ‰ß #$9øèÏ)s$>É ÈÏÒÊÇ #$:øtpk &r©ôgßÖ B¨è÷=èqBt»M× 4 ùsJy` ùstÚu ùÏŠgÎÆ #$:øtpk¢ ùsxŸ ‘uùs]y ruwŸ ùè¡ÝqXš ruwŸ _ʼny#At ûÎ’ #$9øsykdÆ 3 ruBt$ ?sÿøèy=èq#( BÏ`ô zyöŽ9 ƒtè÷=nJômç #$!ª 3 ru?s“tr¨Šßr#( ùs*Îc zyöŽu #$9“¨#ŠÏ #$9G­)øqu“3 4 ru#$?¨)àqbÈ ƒt»¯’ér'<Í’ #${F9ø6t»=É ÈÐÒÊÇ 9sŠø§} ãt=n‹ø6àNö _ãYo$yî &rb ?s;öGtóäq#( ùsÒôxW BiÏ` ‘§/nÎ6àNö 4 ùs*ÎŒs#! &rùsÒôFçO BiÏÆï ãttùs»M; ùs$$Œø2àãr#( #$!© ãÏY‰y #$9øJy±ôèyÌ #$9øsyt#QÏ ( ru#$Œø2àãrnç .xJy$ dy‰y16àNö ru)Îb 2àZFçO BiÏ` %s7ö#Î&Ͼ 9sJÏ`z #$9Òž$!!kÎ,ût ÈÑÒÊÇ OèO¢ &rùÏ‹Òàq#( BÏ`ô my‹ø]ß &rùs$Úu #$9Y¨$¨â ru#$™óGtóøÿύãr#( #$!© 4 )Îcž #$!© îxÿàq‘Ö ‘§mÏ‹OÒ ÈÒÒÊÇ ùs*ÎŒs# %sÒŸŠøGçO B¨Yo»¡Å3s6àNö ùs$$Œø2àãr#( #$!© .x‹É.øÌ.ä/ö äu#/t$!äu2àNö &rr÷ &r©x‰£ ŒÏ2ò\# 3 ùsJÏÆš #$9Y¨$¨Ä Bt` ƒt)àqAã ‘u/­Yo$! äu#?ÏYo$ ûÎ’ #$9‰‘R÷‹u$ ruBt$ !s&ã¼ ûΆ #$yFzōtoÍ BÏ`ô zy=n»,9 ÈÉÉËÇ ruBÏY÷gßO B¨` ƒt)àqAã ‘u/­Yo$! äu#?ÏYo$ ûÎ’ #$9‰‘R÷‹u$ my¡|ZupZ ruûÎ’ #$yFzōtoÍ my¡|ZupZ ru%ÏYo$ ãt‹x#>z #$9Z¨$‘Í ÈÊÉËÇ &ér’9s»¯´Í7y 9sgßOó RtÁÅŠ=Ò BiÏJ£$ .x¡|7çq#( 4 ru#$!ª |ŽÎƒìß #$:øtÏ¡|$>É ÈËÉËÇ

Mukadimah

Syariat adalah hukum dalam agama Islam yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah swt, serta hubungan manusia dengan alam sekitar berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Syariat Islam mempunyai beberapa tujuan. Beberapa tujuan itu adalah sebagai berikut :

1. Allah swt ingin menunjukkan bahwa ketentuan dan ajaran-Nya lebih tinggi dan lebih luhur nilainya dibandingkan dengan ketentuan dan ajaran manusia. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 67.

2. Syariat ditetapkan untuk dilaksanakan oleh seluruh umat manusia. Allah swt telah menetapkan bagi setiap umat syariatnya masing – masing. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 67.

3. Syariat ditetapkan untuk mempersatukan pandangan hidup manusia. Dengan demikian, manusia diharapkan tetap berada pada jalan yang benar dalam sikap dan perbuatan. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an Surat Al-An’ām Ayat 153.

clip_image001

Zikir & Pikir

Umrah satu ke umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara dua umrah itu. Haji mabrur tidak ada balasan baginya, kecuali surga.

(H.R. Bukhari – Muslim)

Di samping itu, syariat menjamin terwujudnya tiga hal yang merupakan kebutuhan hidup manusia. Tiga hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Syariat melindungi lima hal yang sangat pokok bagi manusia. Kelima hal tersebut adalah

a. agama (hifzud-din);

b. jiwa (hifzun-nafsi);

c. akal (hifzul-‘agli);

d. kehormatan (hifzun-nasli);

e. harta kekayaan (hifzul-māli).

2. Syariat memberikan jalan keluar dari suatu kesulitan dalam melaksanakan kewajiban agama. Contohnya, rukhsah dalam melaksanakan ibadah salat.

3. Syariat memberikan kesempatan kepada manusia untuk menyempurnakan kehidupannya. Contohnya, amalan – amalan sunah yang dapat menambah pahala manusia.

Demikianlah, Allah swt menetapkan syariat bukan untuk memberatkan manusia. Di balik itu, orang – orang yang mampu melaksanakan syariat dengan baik akan mencapai kebahagiaan dan kemuliaan hidup.

Ibadah merupakan kewajiban manusia yang paling pokok di muka bumi ini. Menurut ulama, ibadah merupakan semua pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridaan Allah swt serta mendambakan pahala dari-Nya di akhirat kelak.

Dari segi pelaksanaannya ibadah dibagi menjadi tiga macam. Pertama, ibadah yang menggunakan unsur jasmani dan rohani, seperti salat dan puasa. Kedua, ibadah yang menggunakan perpaduan unsur rohani dan harta, seperti zakat dan wakaf. Ketiga, ibadah yang melibatkan unsur jasmani, rohani, dan harta sekaligus.

Contoh dari ibadah ini adalah ibadah haji dan umrah.

Dalam bab ini akan dibahas ibadah – ibadah yang menggunakan unsur harta, yaitu zakat, haji, umrah, dan wakaf. Ibadah yang menggunakan unsur harta merupakan ibadah yang berat karena membutuhkan kerelaan dari orang yang melaksanakannya. Oleh karena itu, umat Islam harus mempelajari dan memahaminya dengan baik sehingga mampu melaksanakannya dengan baik pula.

A. Zakat

Beberapa hal yang perlu diketahui mengenai zakat adalah sebagai berikut.

1. Pengertian Zakat

Zakat merupakan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt supaya diserahkan kepada orang – orang yang berhak menerimanya (mustahik). Hal itu diperintahkan Allah swt dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 103 berikut ini.

{è‹õ BÏ`ô &rBøquº;ÎlÏNö ¹|‰y%spZ ?èÜsgd΍ãdèNö ru?è“t.jÏŽkÍN 5Íkp$ ru¹|@eÈ æt=n‹øgÎNö ( )Îb¨ ¹|=nq4?s7y ™y3s`Ö ;°lçNö 3 ru#$!ª ™yJÏ‹ìì æt=ΊOí ÈÌÉÊÇ

Artinya :

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka ….. (Q.S. At-Taubah : 103)

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa zakat bertujuan membersihkan jiwa dan harta. Zakat akan membersihkan hati dari sifat rakus dan kikir. Zakat juga membersihkan harta dari sebagian harta yang sesungguhnya menjadi hak orang lain. Dengan demikian, zakat juga memiliki fungsi sosial.

Zakat merupakan ibadah yang penting di dalam Islam. Hal itu ditunjukkan dengan dikaitkannya ayat – ayat tentang zakat dengan ayat – ayat tentang salat dalam Al-Qur’an Surat An-Nisā’ Ayat 77 berikut ini.

&r9sOó ?st )Î<n’ #$!©%Ïïût %ÏŠ@Ÿ ;mlçNö .äÿ’qþ#( &rƒ÷‰Ïƒt3äNö ru&r%ÏŠJßq#( #$9Á¢=nq4on ruäu#?èq#( #$9•¢.xq4on ùs>sH¬$ .äGÏ=| ãt=nŽökÍNã #$9ø)ÉFt$Aã )ÎŒs# ùsÌƒ,× BiÏ]÷kåNö †sƒø±tqöbt #$9Z¨$¨} .x‚y±ô‹upÏ #$!« &rr÷ &r©x‰£ zy±ô‹upZ 4 ru%s$9äq#( ‘u/­Yo$ 9ÏOz .xGt6öM| ãt=nŠøZu$ #$9ø)ÉFt$At 9sqöwI &rz¨ö?sYo$! )Î<n’# &r_y@9 %sÌƒ=5 3 %è@ö BtFt»ìß #$9‰‘R÷‹u$ %s=΋@× ru#$yFzōtoä zyöŽ× 9jÏJy`Ç #$?¨+s’4 ruwŸ ?èàô=nJßqbt ùsGÏ‹x¸ ÈÐÐÇ

Artinya :

…. dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat ….. (Q.S. An-Nisā’ : 77)

clip_image002

Takrif

Zakat merupakan ibadah yang menyangkut harta benda dan berfungsi sosial. Zakat merupakan ibadah yang tua umurnya karena telah dilaksanakan sejak zaman rasul terdahulu. Namun, perintah zakat bagi kaum muslim secara tegas dan jelas diberikan dalam ayat – ayat yang turun di Madinah.

2. Macam – macam Zakat

Zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat mal dan zakat fitrah.

a. Zakat mal

Zakat mal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada orang – orang tertentu dalam jangka waktu tertentu pula.

Harta yang wajib dizakat adalah

1) emas dan perak;

2) hewan ternak;

3) harta perdagangan;

4) hasil tanaman dan buah – buahan;

5) hasil laut;

6) harta rikaz dan ma’din;

7) harta profesi;

8) harta investasi.

b. Zakat Fitrah

Zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari ucapan dan perbuatan kotor. Selain itu, zakat fitrah juga bertujuan untuk memberi makan orang – orang miskin serta mencukupi kebutuhan mereka pada Hari Raya Idulfitri.

Zakat fitrah diberikan berupa gandum, kurma, padi, atau makanan pokok daerah setempat dengan jumlah 1 sak, yaitu takaran seberat 2,304 kg. Waktu penyerahannya adalah sebelum salat Idulfitri. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut ini.

Artinya :

Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari hal – hal yang tidak bermanfaat, kata – kata kotor, dan memberi makan kepada orang – orang miskin. Barang siapa mengeluarkannya sebelum salat Idulfitri, zakat itu diterima. Dan barang siapa mengeluarkannya setelah salat Idulfitri hal itu merupakan salah satu dari sedekah. (H.R. Ibnu Abbas)

clip_image003

Takrif

Zakat fitrah mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, tahun diwajibkannya puasa Ramadan. Zakat fitrah bertujuan menyucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak berguna dan memberi makan pada orang miskin.

3. Penerima Zakat

Zakat merupakan ibadah yang mengandung unsur amal kemanusiaan. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan agar zakat betul – betul bisa diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Orang – orang yang berhak menerima zakat adalah sebagai berikut.

a. Fakir miskin, yaitu orang – orang yang secara umum tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari.

b. Amil zakat, yaitu orang yang melaksanakan atau mengurusi segala sesuatu tentang zakat.

c. Mualaf, yaitu orang yang diharapkan kecenderungan hatinya bertambah terhadap Islam. Di dalamnya termasuk orang – orang yang baru masuk Islam.

d. Budak atau hamba sahaya, yaitu orang yang diperjualbelikan di antara orang – orang kaya untuk membantunya bekerja, tetapi tidak mendapatkan upah. Budak ini dianggap sama dengan hak milik. Pemberian zakat diharapkan dapat menebusnya hingga ia merdeka dan terlepas dari perbudakan.

e. Al-Garim, yaitu orang yang terlilit utang sampai ia tidak mampu membayarnya. Dengan diberikan zakat diharapkan ia terlepas dari utangnya.

f. Sabilillah, artinya adalah jalan Allah swt. Maksudnya, zakat digunakan untuk kepentingan atau kemaslahatan umat. Contohnya, untuk pendidikan, pembangunan masjid, dan sebagainya.

g. Ibnu sabil atau musafir, yaitu orang – orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal.

4. Hikmah Zakat

Beberapa hikmah zakat adalah sebagai berikut.

a. Zakat membersihkan jiwa manusia dari sifat kikir dan rakus.

b. Zakat membantu orang – orang miskin dan memenuhi kebutuhan orang – orang yang berada dalam kesulitan dan penderitaan.

c. Zakat menegakkan kemaslahatan umum yang berkait erat dengan kesejahteraan dan kebahagiaan umat.

d. Zakat membatasi pembengkakaan kekayaan di tangan orang – orang kaya serta mengusahakan agar kekayaan bisa beredar di semua lapisan masyarakat.

5. Pengelolaan Zakat di Indonesia

Salah satu lembaga yang mengurusi masalah zakat di Indonesia adalah BAZIS. BAZIS adalah singkatan dari Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah. Lembaga ini merupakan lembaga resmi yang didirikan oleh pemerintah pada tahun 1968. Berdirinya BAZIS telah memberikan harapan kepada umat Islam Indonesia terhadap profesionalisme dalam pengelolaan ZIS yang profesional akan memberikan beberapa keuntungan kepada umat Islam, diantaranya sebagai berikut.

a. Pendistribusian ZIS akan lebih terorganisasi dan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh syariat. Dengan demikian, diharapkan ZIS akan benar – benar sampai kepada pihak yang menurut inventarisasi pihak BAZIS berhak menerimanya.

b. Secara tidak langsung, masyarakat, dan pemerintah akan dapat melihat berbagai potensi penduduknya tanpa harus mengerahkan tenaganya ke daerah – daerah yang memiliki potensi sebagai penerima atau pembayar ZIS.

c. Warga masyarakat yang kekurangan akan terbantu dengan adanya perhatian dari BAZIS ini.

Dewasa ini, banyak bermunculan yayasan yang dikelola oleh swasta yang mengurusi dan menyalurkan zakat. Di samping mengelola zakat, yayasan – yayasan tersebut bersedia memberikan pengetahuan mengenai zakat, seperti cara menghitung zakat, dan sebagainya. Hal ini mempermudah umat Islam di Indonesia untuk menjalankan ibadah zakat sesuai dengan syariat Islam. Umat Islam dipersilakan untuk memilih lembaga atau yayasan mana yang cocok dengannya untuk bisa melaksanakan ibadah zakat tersebut.

clip_image003[1]

Takrif

1. BAZIS adalah singkatan dari Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah. Badan ini didirikan oleh pemerintah untuk mengelola zakat, infak, dan sedekah umat Islam.

2. Nisab adalah jumlah minimal harta yang harus dizakati.

6. Hubungan Zakat dengan Pajak

Dalam hubungannya dengan pajak, zakat memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Beberapa persamaan dan perbedaan zakat dengan pajak, di antaranya, adalah sebagai berikut.

a. Adanya unsur keharusan dalam zakat dan pajak. Unsur keharusan ini membuat wajib zakat atau wajib pajak menanggung sanksi apabila tidak bersedia mengerjakannya. Perbedaannya terletak pada sanksi tersebut. Tidak membayar zakat akan membawa sanksi yang sifatnya ukhrawi yang berkaitan dengan dosa atau pahala. Di lain pihak, tidak membayar pajak akan mendapat sanksi yang sifatnya keduniaan, yaitu sanksi yang bersifat administrasi pemerintahan.

b. Pajak dan zakat diserahkan kepada sebuah lembaga khusus yang mengelolannya. Pajak negara dikelola oleh Dirjen Pajak di bawah Departemen Keuangan, sedangkan zakat diserahkan kepada BAZIS yang merupakan lembaga resmi pemerintah atau lembaga – lembaga amil zakat lain yang dikelola oleh swasta. Hal ini mengandung arti bahwa pajak merupakan kewajiban warga negara terhadap negaranya, sedangkan zakat merupakan kewajiban umat Islam terhadap agamanya.

c. Zakat dan pajak sama – sama bertujuan untuk memutar roda perekonomian. Dengan adanya zakat dan pajak diharapkan perekonomian umat akan berjalan dengan baik. Dibandingkan pajak, zakat memiliki tujuan yang lebih dari itu. Zakat memiliki dimensi spiritual yang meliputi aspek kehidupan pribadi dan masyarakat.

Di samping adanya beberapa perbedaan tersebut, para ulama memperbolehkan pemerintah menarik pajak dari warganya. Hal itu juga diikuti dengan kewajiban membayar zakat bagi umat Islam. Kesemuanya digunakan untuk kemaslahatan umat.

Namun, tetap timbul pertanyaan, apakah pembayaran pajak dapat dianggap sebagai pembayaran zakat sehingga menggugurkan kewajiban zakat ? Mengenai hal itu ada perbedaan pendapat dari beberapa ulama. Beberapa pendapat tersebut adalah sebagai berikut.

a. Menurut Imam an-Nawawi dan Imam Hanbali, apabila pemerintah bertindak zalim, pembayaran pajak itu sudah dianggap sebagai pembayaran zakat sekaligus.

b. Menurut jumhur ulama fikih, posisi pajak tidak dapat menggantikan zakat dalam posisi apapun walaupun pembayaran pajak itu dibarengi dengan niat zakat. Alasannya, pajak tidak memiliki nilai – nilai khusus yang dapat memberikan jaminan sosial. Hal itu bertolak belakang dengan zakat yang bertujuan untuk menanggulangi kebutuhan sosial sebagaimana terbukti dalam sejarah Islam. Zakat bisa memenuhi tuntutan pajak, sedangkan pajak tidak bisa memenuhi tuntutan zakat.

clip_image004

Takrif

1. Haul adalah jangka waktu tertentu dalam kepemimpinan sejumlah harta sebagai batas kewajiban membayar zakat.

2. Kadar adalah persentase dari harta yang wajib dizakati yang harus diserahkan sebagai zakat.

B. Haji dan Umrah

Ibadah haji dan umrah merupakan ibadah yang melibatkan unsur jasmani, rohani, dan harta sekaligus. Oleh karena itu, di antara rukun Islam yang lain, ibadah ini merupakan ibadah yang paling berat. Dalam pembahasan ini akan dikemukakan mengenai kedua macam ibadah tersebut secara lebih rinci.

1. Haji

Beberapa hal yang harus diketahui mengenai ibadah haji adalah sebagai berikut.

a. Pengertian

Secara harfiah, haji berarti menyengaja atau menuju. Maksudnya, sengaja mengunjungi Kakbah di Mekah untuk melakukan ibadah kepada Allah swt. pada waktu tertentu dan dengan cara yang tertentu pula.

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima dan dilaksanakan pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Setiap muslim yang mampu diwajibkan untuk mengerjakan haji sekurang – kurangnya sekali seumur hidup. Kewajiban itu tercermin dalam firman Allah swt. dalam Al-Qur’an Surat Āli ‘Imrān Ayat 97 berikut ini.

ùÏŠmÏ äu#ƒt»M7 /tiÉZu»M× B¨)s$Pã )Î/ötºdÏŠOz ( ruBt` Šyzy#s&ã¼ .x%bt äu#BÏYY$ 3 ru!¬ ãt?n’ #$9Z¨$¨Ä mÏk #$9ø7tøMÏ Bt`Ç #$™óGtÜs$ít )Î9s‹ømÏ ™y6΋xW 4 ruBt` .xÿxt ùs*Îb¨ #$!© îx_ÍÓ; ãt`Ç #$9øèy»=nJÏüût ÈÐÒÇ

Artinya :

Padanya terdapat tanda – tanda yang nyata, yaitu (di antaranya) makam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta. (Q.S. Āli ‘Imrān : 97)

clip_image005

Takrif

Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Hukumnya wajib bagi orang yang mempunyai kesanggupan serta dilakukan sekali seumur hidup. Pelaksanaan haji jatuh pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.

b. Syarat – syarat Haji

Untuk dapat melaksanakan ibadah haji, seseorang harus

1) beragama Islam;

2) berusia dewasa (akil balig);

3) berakal (tidak gila);

4) merdeka, bukan budak;

5) memiliki kemampuan dalam hal biaya perjalanannya ke tanah suci, kesehatannya, keamanannya, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan.

c. Rukun Haji

Rukun haji adalah perbuatan – perbuatan yang harus dilaksanakan dalam ibadah haji. Apabila salah satu rukun ini tidak dilaksanakan, ibadah hajinya menjadi tidak sah. Rukun – rukun haji tersebut adalah sebagai berikut :

1) ihram;

2) wukuf di Padang Arafah;

3) tawaf ifādah;

4) sa’i antara Safa dan Marwah;

5) mencukur rambut kepala atau memotongnya sebagian (tahalul);

6) tertib.

d. Wajib Haji

Wajib haji adalah perbuatan – perbuatan yang wajib dilakukan dalam melaksanakan ibadah haji. Apabila salah satu wajib haji ditinggalkan, haji tetap sah, tetapi orang yang melaksanakan wajib membayar dam atau denda. Wajib haji tersebut adalah sebagai berikut :

1) memulai ihram dari miqāt;

2) melempar jamrah;

3) menginap atau mabit di Muzdalifah;

4) menginap atau mabit di Mina;

5) tawaf wadak.

e. Tata Cara Melaksanakan Ibadah Haji

Tata cara melaksanakan ibadah haji adalah sebagai berikut.

1) Memulai Ihram dari Miqāt yang Telah Ditentukan

Miqāt adalah batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji serta umrah. Miqāt ini terdiri atas miqāt zamāni (batas waktu) dan miqāt makāni (batas tempat). Batas waktu untuk melaksanakan ibadah haji adalah pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Adapun batas tempat untuk memulai ibadah haji terletak di beberapa kota dan tergantung dari arah kedatangan jamaah haji.

clip_image006

Takrif

1. Miqāt adalah batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan umrah. Batas waktu disebut miqāt zamāni, sedangkan batas tempat disebut miqāt makāni.

2. Ihram ialah niat melakukan ibadah haji atau umrah atau kedua – duanya bersama – sama dengan memakai pakaian ihram.

Cara melaksanakan ihram adalah sebagai berikut :

b) mengerjakan mandi sunah;

c) mengerjakan wudu;

d) memakai pakaian ihram;

e) mengerjakan salat sunah ihram;

f) mengucapkan niat haji;

g) berangkat menuju Arafah dengan membaca talbiah.

Ucapan niat haji adalah labbaik allāhumma hajjan, yang artinya adalah aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.

Adapun bacaan talbiah adalah labbaik allahumma labbaik, labbaik lā syarika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk la syarika laka. Arti bacaan talbiah tersebut adalah, aku di sini wahai Allah, aku di sini di hadapan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji adalah kepunyaan-Mu, segala kenikmatan adalah kepunyaan-Mu, kerajaan adalah kepunyaan-Mu, dan tak ada sekutu bagi-Mu.

2) Wukuf di Arafah pada Tanggal 9 Zulhijah

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah. Wukuf dimulai setelah matahari tergelincir hingga terbit fajar pada tanggal 10 Zulhijah atau Hari Raya Iduladha. Beberapa amalan yang dikerjakan pada waktu wukuf adalah sebagai berikut :

a) mengerjakan salat Zuhur dan Asar dengan cara qasar dan jamak di awal waktu;

b) mengerjakan khotbah wukuf;

c) memperbanyak doa;

d) memperbanyak zikir;

e) membaca Al-Qur’an;

f) mengerjakan salat Magrib dan Isya dengan cara qasar dan jamak di awal waktu.

clip_image007

Takrif

1. Ucapan niat haji adalah labbaik allahumma hajjan, yang artinya aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.

2. Wukuf ialah berdiam di Padang Arafah. Wukuf dimulai pada saat matahari tergelincir pada tanggal 9 Zulhijah hingga terbit fajar pada tanggal 10 Zulhijah.

3) Menginap atau Mabit di Muzdalifah

Muzdalifah adalah sebuah tempat yang terletak antara Arafah dan Mina. Sesaat setelah tengah malam, jamaah haji berangkat dari Arafah menuju Mina. Sesampainya di Muzdalifah, jamaah haji berhenti walaupun sebentar. Amalan inilah yang disebut dengan mabit. Bagi jamaah haji yang datang sebelum tengah malam diwajibkan menunggu sampai tengah malam sebab waktu pelaksanaan mabit adalah dari tengah malam sampai terbit fajar.

Di Muzdalifah jamaah haji mengerjakan beberapa hal, yaitu

a) membaca talbiah;

b) berzikir, beristigfar, dan berdoa;

c) membaca Al-Qur’an;

d) mencari kerikil sebanyak 7 atau 49 atau 70 butir.

Kerikil untuk melempar jamrah tersebut dapat diambil di mana saja, tetapi disunahkan mengambilnya di Muzdalifah. Berdasarkan fatwa MUI mabit di Muzdalifah hukumnya wajib, kecuali bagi jamaah haji yang uzur atau petugas tertentu. Jamaah haji yang tidak melakukan mabit di Muzdalifah harus membayar dam sesuai dengan ketentuan.

4) Melontar Jamrah ‘Aqabah

Melontar jamrah ‘aqabah dilakukan setelah fajar menyingsing atau siang hari pada tanggal 10 Zulhijah dengan 7 butir kerikil. Jamrah ‘aqabah adalah sebuah tugu batu yang terletak di Bukit Aqabah di Mina. Setelah itu jamaah haji menyembelih kurban.

5) Tahalul

Tahalul adalah melepaskan diri dari ihram haji setelah mengerjakan amalan – amalan haji. Tahalul dilakukan dalam dua tahap berikut ini.

a) Tahalul pertama, dilaksanakan setelah selesai melontar jamrah ‘aqabah dengan cara mencukur sekurang – kurangnya tiga helai rambut. Setelah tahalul pertama ini, jamaah haji boleh mengerjakan semua hal yang dilarang pada waktu ihram, kecuali melakukan hubungan seks (suami isteri).

Setelah melakukan tahalul pertama, bagi jamaah haji yang akan melaksanakan tawaf ifādah dapat langsung berangkat menuju Mekah pada hari itu juga. Beberapa hal yang dikerjakan jamaah haji di Mekah adalah

(1) masuk ke Masjidilharam melalui pintu bābussalām;

(2) mengerjakan tawaf ifādah dengan membaca talbiah;

(3) selesai tawaf disunahkan mencium Hajar Aswad;

(4) mengerjakan salat sunah dua rakaat di dekat Makam Ibrahim;

(5) berdoa di Multazam;

(6) mengerjakan salat sunah dua rakaat di Hijr Ismail;

(7) mengerjakan sa’i antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

b) Tahalul kedua, dilaksanakan setelah selesai mengerjakan sa’i. Caranya ialah dengan menggunting sekurang – kurangnya tiga helai rambut. Setelah tahalul kedua, jamaah haji sudah diperbolehkan mengerjakan semua larangan ihram, termasuk berhubungan seks (suami isteri).

6) Menginap atau Mabit di Mina

Setelah mengerjakan tahalul kedua, jamaah haji kemudian kembali menuju Mina untuk mabit selama hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Setelah matahari tergelincir pada setiap siang hari Tasyrik, jamaah haji melontar tiga jamrah masing – masing sebanyak tujuh kali. Tiga jamrah tersebut adalah jamrah ulā, wustā, dan ‘aqabah.

Bagi jamaah haji yang menghendaki, diperbolehkan untuk meninggalkan Mina pada tanggal 12 Zulhijah setelah melempar jamrah. Hal ini disebut dengan nafar awwal. Dengan demikian, jamaah haji tersebut melontar jamrah selama tiga hari dalam hari Tasyrik.

Adapun bagi jamaah haji yang meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijah, hal itu lebih sempurna. Dengan demikian, jamaah haji tersebut melontar jamrah selama tiga hari dalam hari Tasyrik. Hal ini disebut dengan nafar sāni.

Setelah itu, jamaah haji kembali ke Mekah dan seluruh rangkaian ibadah haji sudah selesai.

7) Tawaf Wadak

Tawaf wadak adalah tawaf perpisahan. Setelah selesai mengerjakan semua rangkaian ibadah haji, jamaah haji kemudian mengerjakan tawaf wadak. Setelah itu, jamaah haji diperbolehkan pulang ke kampung halamannya atau ke Madinah bagi yang belum melakukan ziarah nabi.

2. Umrah

Beberapa hal yang harus diketahui mengenai umrah adalah sebagai berikut.

a. Pengertian

Umrah berarti berziarah atau berkunjung. Umrah merupakan ibadah yang menjadi satu kesatuan dengan ibadah haji. Melaksanakan ibadah haji berarti juga melaksanakan umrah. Akan tetapi, melaksanakan umrah belum tentu atau tidak harus melaksanakan ibadah haji.

Kewajiban melaksanakan umrah difirmankan Allah swt. dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 196 berikut ini.

ru&r?ÏJ‘q#( #$:øtpk¢ ru#$9øèãK÷ton !¬ 4 ùs*Îb÷ &émôÇÅŽ÷?èNö ùsJy$ #$™óGtŠø£yŽu BÏ`z #$;ùlo‰ô“Ä ( ruwŸ Brtø=Î)àq#( ‘âäâr™y3äOó myL®Ó4 ƒt7ö=è÷x #$;ùlo‰ô“ß CxtÏ#©&ã¼ 4 ùsKu` .x%bt BÏZ3äN D£ÍƒÒ³$ &rr÷ /ÎmϾÿ &rŒ]“ BiÏ` ‘§&ù™ÅmϾ ùsÿωôƒtp× BiÏ` ¹ÏŠu$QB &rr÷ ¹|‰y%sp> &rr÷ Sè¡Ý77 4 ùs*ÎŒs#! &rBÏYêäL÷ ùsJy` ?sJyG­ìy /Î$$9øèãK÷toÍ )Î<n’ #$:øtpkdÆ ùsJy$ #$™óGtŠø£yŽu BÏ`z #$;ùlo‰ô“Ä 4 ùsJy` 9©Nö †sgʼnô ùsÁÅ‹u$Pã Or=n»WspÏ &rƒ­$Q5 ûÎ’ #$:øtpkdÆ ru™y7öèyp> )ÎŒs# ‘u_yè÷FçNö 3 ?Ï=ù7y ãt³|Žuo× .x%BÏ#s’× 3 Œsº9Ï7y 9ÏJy` 9©Nö ƒt3ä`ô &rd÷#é&ã¼ my$ÑŎΓ #$9øJy¡ófÉ‰Ï #$:øtpt#QÏ 4 ru#$?¨)àq#( #$!© ru#$ãô=nJßqþ#( &rb¨ #$!© ©x‰Ïƒ‰ß #$9øèÏ)s$>É ÈÏÒÊÇ

Artinya :

Dan sempurnakanlah ibadah haji dengan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), sembelihlah kurban yang mudah didapat dan kamu jangan mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya sehingga ia bercukur, ia wajib memberikan fidiah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah merasa aman bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), ia wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Apabila ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), ia wajib berpuasa selama tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari ketika sudah pulang kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidiah) bagi orang – orang yang keluarganya tidak berada di (sekitar) Masjidilharam (orang – orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah, ketahuilah, sesungguhnya Allah sangat keras siksaannya. (Q.S Al-Baqarah : 196)

clip_image008

Takrif

Perwakilan haji diperbolehkan bagi orang yang mampu melaksanakan ibadah haji dan umrah dari segi harta, tetapi dari segi kesehatannya tidak mampu karena sakit atau usia tua.

Syarat orang yang mewakilinya adalah sudah pernah mengerjakan haji untuk dirinya sendiri sebelumnya.

b. Syarat, Wajib, dan Rukun Umrah

Syarat untuk mengerjakan umrah sama dengan syarat untuk mengerjakan haji, sedangkan rukun umrah adalah sebagai berikut :

(1) ihram;

(2) tawaf;

(3) sa’i;

(4) mencukur rambut kepala atau memotongnya sebagian (tahalul);

(5) tertib.

Adapun wajib umrah hanya satu, yaitu memulai ihram dari miqāt.

clip_image009

Takrif

Dalam riwayat, sa’i merupakan ibadah yang mengikuti perbuatan Hajar, istri Nabi Ibrahim, ketika mencari air untuk anaknya, Ismail. Ia berlari – lari dari Bukit Safa ke Bukit Marwah karena melihat seakan – akan ada air di sana. Hal itu juga ia lakukan sebaliknya. Akhirnya, Allah memberi pertolongan dengan memancarkan air dari sebuah sumber di dekat kaki Ismail. Sumber itu disebut mata air Zamzam.

c. Tata Cara Pelaksanaan Umrah

Tata cara melaksanakan umrah adalah sebagai berikut :

(1) mandi;

(2) berwudu;

(3) memakai pakaian ihram dari miqāt.

(4) membaca niat umrah, yaitu labbaik allāhumma ‘umratan;

(5) membaca talbiah serta berdoa;

(6) tawaf;

(7) sa’i antara Safa dan Marwah;

(8) tahalul.

3. Larangan dalam Haji dan Umrah

Dalam mengerjakan haji dan umrah, jamaah dilarang mengerjakan beberapa hal. Larangan tersebut berlaku sejak memulai ihram sampai dengan tahalul. Beberapa larangan tersebut adalah :

a. melakukan hubungan seks atau segala perbuatan yang menyebabkannya;

b. melakukan perbuatan yang maksiat atau tercela;

c. bertengkar dengan orang lain;

d. memakai pakaian berjahit bagi laki – laki;

e. memakai khuff (kaos kaki atau sepat yang menutup mata kaki);

f. menikah (melaksanakan akad nikah);

g. memotong kuku;

h. mencukur atau mencabut rambut;

i. memakai pakaian yang dicelup dan berbau harum;

j. membunuh binatang;

k. memakan daging binatang buruan.

4. Hikmah Mengerjakan Ibadah Haji dan Umrah

Hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji ada yang bersifat pribadi dan ada yang bersifat kemasyarakatan. Beberapa hikmah yang bersifat pribadi adalah sebagai berikut.

a. Haji dan umrah membersihkan jiwa orang yang melaksanakannya. Sebelum melaksanakan ibadah haji, seseorang pasti memiliki banyak dosa. Dalam melaksanakan ibadah haji, seseorang mempergunakan hampir seluruh waktu untuk beribadah. Nuansa haji juga memberikan dorongan seseorang untuk bisa beribadah dengan tekun dan khusyuk. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis berikut ini.

Artinya :

Barang siapa mengerjakan haji ke rumah ini (Baitullah), kemudian ia tidak mengucapkan kata – kata kotor dan tidak fasik, ia akan keluar dari dosa – dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya. (Muttafaq Alaih)

b. Haji dan umrah mempertebal dan memperteguh keimanan. Dengan melaksanakan ibadah haji, seseorang akan mengetahui kondisi sesungguhnya di mana Rasulullah saw berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Mereka akan bisa membayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah saw pada waktu itu. Seseorang juga memerlukan perjuangan yang berat untuk melaksanakan ibadah haji, baik dari segi biaya, fisik, maupun mentalnya. Hal ini akan melatih kesabaran serta kesyukuran kepada Allah swt.

Adapun hikmah yang berkaitan dengan masyarakat adalah mempertebal rasa persatuan dan menggalang kebersamaan di antara sesama umat Islam. Ibadah haji mempertemukan jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Mereka datang haji dengan segala keberagaman untuk mengerjakan ibadah yang sama di tempat yang sama. Hal ini akan menumbuhkan rasa solidaritas, senasib, dan sepenanggungan.

Orang yang menunaikan ibadah haji semuanya menjadi tamu Allah swt. Tidak ada lagi perbedaan antara presiden atau jenderal dengan buruh atau pedagang. Kesemuanya memakai pakaian yang sama serta mengerjakan hal yang sama. Dengan berkumpulnya umat Islam yang sedemikian banyaknya, ibadah haji akan menyebarkan kemaslahatan ke seluruh penjuru dunia.

C. Wakaf

Wakaf merupakan salah satu dari tiga amalan yang akan terus mengalirkan pahala wakaupun orang yang mengerjakannya telah meninggal dunia. Amalan ini disebut dengan amal jariah. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis berikut ini.

Artinya :

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Apabila seorang manusia mati terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (H.R. Jamaah Ahli Hadis)

clip_image010

Takrif

1. Wakaf adalah menyerahkan harta yang bermanfaat dan tahan lama kepada pengelola yang bersifat perorangan, keluarga, atau lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah swt.

2. Orang yang berwakaf harus merupakan pemilik yang sah dari harta yang diwakafkan, sudah dewasa, dan tidak mempunyai utang.

Dalam pembahasan berikut ini akan dikemukakan beberapa hal penting mengenai wakaf. Beberapa hal itu adalah sebagai berikut.

1. Pengertian

Wakaf berarti menahan atau menghentikan. Maksudnya adalah menghentikan pemindahan hak milik dari suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola. Pengelola itu bisa berupa perorangan, keluarga, atau lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah swt. Wakaf hukumnya sunah, berdasarkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an Surat Āli ‘Imrān Ayat 92 berikut ini.

9s` ?sYo$9äq#( #$9ø9ÉŽ§ myL®Ó4 ?èZÿÏ)àq#( BÏJ£$ BétÏ6™qcš 4 ruBt$ ?èZÿÏ)àq#( BÏ` «xÓóä& ùs*Îb¨ #$!© /ÎmϾ æt=ΊOÒ ÈËÒÇ

Artinya :

Kamu sekali – kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Q.S. Āli ‘Imrān : 92)

2. Rukun Wakaf

Rukun wakaf ada lima macam. Lima macam rukun wakaf itu adalah sebagai berikut.

a. Wāqif adalah orang yang berwakaf. Wāqif harus memenuhi syarat – syarat berikut ini.

1) Wāqif adalah pemilik sah dari harta yang diwakafkan. Kepemilikian itu dibuktikan dengan bukti – bukti yang sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2) Wāqif telah berusia dewasa sehingga mampu menyadari dan mengetahui tujuan melepas hak miliknya kepada orang lain.

3) Wāqif tidak boleh mempunyai utang apabila seluruh harta yang diwakafkan

b. Mauqūf adalah harta yang diwakafkan. Harta yang diwakafkan ini harus tahan lama dan bermanfaat.

c. Mauqūf ‘alaih adalah tujuan wakaf. Harta yang diwakafkan harus ditujukan untuk kepentingan umum dalam rangka mencari keridaan Allah swt.

d. Sigat wakaf adalah ucapan atau pernyataan ditulis dan disaksikan oleh saksi.

e. Penerima wakaf adalah orang yang menerima harta wakaf itu serta mengelolanya. Orang ini biasa disebut nāzir. Apabila nāzir tidak ada, penerima ikrar wakaf adalah hakim.

clip_image010[1]

Takrif

1. Nāzir adalah orang yang menerima wakaf. Nāzir wajib menerima ikrar penyerahan wakaf dari orang yang berwakaf.

2. Mauqūf ‘alaih adalah tujuan wakaf. Wakaf harus bertujuan untuk kepentingan umum dalam rangka mencari keridaan Allah swt. Misalnya, untuk kepentingan ibadah kaum muslimin, untuk kegiatan dakwah, dan pendidikan agama Islam.

3. Syarat – syarat Wakaf

Syarat – syarat wakaf adalah sebagai berikut.

a. Harta wakaf harus diserahkan untuk selama – lamanya.

b. Harta wakaf tidak boleh ditarik kembali, baik oleh pelaku maupun ahli warisnya.

c. Harta wakaf tidak boleh dipindahtangankan untuk kepentingan yang bertentangan dengan tujuan wakaf itu sendiri.

d. Harta wakaf harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf pada umumnya.

4. Hikmah Wakaf

Beberapa hikmah wakaf di antaranya sebagai berikut.

a. Wakaf menumbuhkan solidaritas sosial pada sesama masyarakat.

b. Wakaf membantu program pengentasan kemiskinan.

c. Wakaf akan menumbuhkembangkan organisasi – organisasi yang bergerak di bidang sosial, seperti lembaga pendidikan, panti asuhan, panti jompo, serta tempat ibadah.

5. Persoalan Wakaf di Indonesia

Persoalan wakaf di Indonesia banyak berkaitan dengan masalah kepemilikan tanah. Penerima wakaf banyak yang bersengketa dengan ahli waris dari tanah yang telah diwakafkan. Padahal, di atas tanah tersebut sudah didirikan bangunan untuk lembaga – lembaga sosial. Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah Indonesia membuat beberapa peraturan, yaitu :

a. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977;

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1977;

c. Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978;

d. Kompilasi Hukum Islam dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991.

Kompilasi Hukum Islam tersebut mengatur persoalan wakaf dalam Pasal 215 – 229. Pasal – pasal tersebut memuat hal – hal, yaitu

1) ketentuan umum tentang wakaf;

2) fungsi wakaf;

3) unsur – unsur wakaf;

4) syarat – syarat wakaf;

5) tata cara perwakafan dan pendaftaran benda wakaf;

6) perubahan;

7) penyelesaian;

8) pengawasan benda wakaf;

9) ketentuan peralihan;

10) penutup.

Beberapa peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah itu diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan wakaf.

Ikhtisar

A. Zakat

1. Zakat merupakan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah swt. untuk diserahkan kepada orang – orang yang berhak menerimanya (mustahik).

2. Zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat mal dan zakat fitrah.

a. Zakat mal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada orang – orang tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Contoh harta yang wajib dizakati adalah emas, perak, harta perdagangan, dan harta hasil pertanian.

b. Zakat fitrah adalah zakat yang berupa makanan pokok, seperti gandum, kurma, atau padi yang diberikan sebelum salat Hari Raya Idulfitri. Zakat fitrah bertujuan untuk menyucikan orang – orang yang berpuasa dari ucapan dan perbuatan kotor. Selain itu, zakat fitrah juga bertujuan untuk memberi makan orang – orang miskin serta mencukupi kebutuhan mereka pada Hari Raya Idulfitri.

3. Penerima zakat adalah

a. fakir miskin;

b. amil zakat;

c. mualaf;

d. budak atau hamba sahaya;

e. al-garim atau orang yang terlilit utang;

f. sabilillah;

g. ibnu sabil atau musafir.

4. Hikmah zakat adalah sebagai berikut.

a. Zakat membersihkan jiwa manusia dari sifat kikir dan rakus.

b. Zakat membantu orang – orang miskin yang berada dalam kesulitan dan penderitaan dalam memenuhi kebutuhannya.

c. Zakat menegakkan kemaslahatan umum yang terkait erat dengan kesejahteraan dan kebahagiaan umat.

d. Zakat membatasi pembengkakan kekayaan di tangan orang – orang kaya serta mengusahakan agar kekayaan bisa beredar di semua lapisan masyarakat.

B. Haji dan Umrah

1. Secara harfiah, haji berarti menyengaja atau menuju. Maksudnya adalah sengaja mengunjungi Kakbah di Mekah untuk melakukan ibadah kepada Allah swt. pada waktu tertentu dengan cara yang tertentu pula.

2. Syarat – syarat mengerjakan haji adalah

a. beragama Islam;

b. dewasa (akil balig);

c. berakal (tidak gila);

d. merdeka (bukan budak);

e. memiliki kemampuan dalam hal biaya perjalanannya ke tanah suci, kesehatannya, keamanannya, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan.

3. Rukun haji adalah

a. ihram;

b. wukuf di Padang Arah;

c. tawaf ifādah;

d. sa’i antara Safa dan Marwah;

e. mencukur rambut kepala atau memotongnya sebagian;

f. tertib.

4. Wajib haji adalah

a. memulai ihram dari miqāt;

b. melempar jamrah;

c. menginap atau mabit di Muzdalifah;

d. menginap atau mabit di Mina;

e. tawaf wadak.

5. Tata cara melaksanakan ibadah haji adalah

a. memulai ihram dari miqāt;

b. wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah;

c. menginap atau mabit di Muzdalifah;

d. melontar jamrah ‘aqabah;

e. tahalul;

f. menginap atau mabit di Mina;

g. tawaf wadak.

6. Umrah berarti berziarah atau berkunjung. Umrah merupakan ibadah yang menjadi satu kesatuan dengan ibadah haji.

7. Syarat untuk mengerjakan umrah sama dengan syarat untuk mengerjakan haji, sedangkan wajib umrah hanya satu, yaitu memulai ihram dari miqāt. Rukun mengerjakan umrah adalah

a. ihram;

b. tawaf;

c. sa’i;

d. mencukur rambut kepala atau memotongnya sebagian;

e. tertib.

8. Tata cara pelaksanaan umrah adalah

a. mandi;

b. berwudu;

c. memakai pakaian ihram dari miqāt;

d. mengerjakan salat sunah umrah dua rakaat;

e. membaca niat umrah, yaitu labbaik allāhumma ‘umratan;

f. membaca talbiah serta berdoa;

g. tawaf;

h. sa’i antara Safa dan Marwah;

i. tahalul.

9. Larangan dalam haji dan umrah adalah

a. melakukan hubungan seks atau segala perbuatan yang menyebabkannya;

b. melakukan perbuatan yang maksiat atau tercela;

c. bertengkar dengan orang lain;

d. memakai pakaian berjahit bagi laki – laki;

e. memakai khuff (kaos kaki atau sepatu yang menutup mata kaki);

f. menikah (melaksanakan akad nikah);

g. memotong kuku;

h. mencukur atau mencabut rambut;

i. memakai pakaian yang dicelup dan berbau harum;

j. membunuh binatang;

k. memakan daging binatang buruan.

10. Hikmah mengerjakan haji dan umrah adalah membersihkan jiwa dan mempertebal keimanan.

11. Wakaf

a. Wakaf adalah menghentikan pemindahan hak milik dari suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola. Pengelola itu bisa berupa perorangan, keluarga, atau lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah swt. Wakaf hukumnya sunah.

b. Rukun wakaf adalah

1) wāqif atau orang yang berwakaf;

2) mauqūf atau harta yang diwakafkan;

3) mauqūf ‘alaih atau tujuan wakaf;

4) sigat wakaf yaitu pernyataan orang yang berwakaf;

5) penerima wakaf.

c. Syarat – syarat wakaf adalah

1) harta wakaf harus diserahkan selama – lamanya;

2) harta wakaf tidak boleh ditarik kembali;

3) harta wakaf tidak boleh dipindahtangankan;

4) harta wakaf harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan wakaf tersebut.

d. Hikmah wakaf adalah

1) menumbuhkan solidaritas sosial sesama masyarakat;

2) membantu program pengentasan kemiskinan;

3) menumbuhkembangkan organisasi – organisasi yang bergerak di bidang sosial.

Integrasi Budi Pekerti

Dalam sebuah hikayat diceritakan ada seorang kyai yang mempunyai banyak santri. Setiap hari sang kyai memberi pelajaran agama dengan ikhlas dan istikamah kepada para santrinya. Para santri mendapatkan pelajaran keislaman, seperti Al-Qur’an, tauhid, fikih, ilmu alat (nahwu saraf), dan lain sebagainya.

Setelah beberapa saat lamanya, kyai merasa telah memberikan banyak pelajaran, terutama dalam masalah akidah. Oleh karena itu, pada suatu hari kyai ingin menguji santrinya.

“Anak – anakku ! Aku minta bantuan kalian!” kata kyai.

“Baik, Kyai,” puluhan santri menjawab dengan serempak.

“Aku minta tolong kalian untuk menyembelih ayam – ayam ini,” sambung Kyai, “Masing – masing santri menyembelih satu ekor ayam,” tambah Kyai.

“Tapi ada syaratnya!” Kyai berkata lagi.

“Apa syaratnya Kyai!” salah seorang santri bertanya dengan penuh penasaran.

Kyai melanjutkan, “Syaratnya adalah, kalian harus menyembelih ayam tersebut di tempat yang sepi, dan tidak ada seorang pun yang melihat atau menyaksikan kalian ! Sanggupkah kalian ?”

“Sanggup Kyai !” jawab para santri. Para santri dalam hatinya berpikir bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mudah. Hanya menyembelih seekor ayam tanpa dilihat orang lain, apa susahnya?

Akhirnya, para santri tersebut membawa ayam masing – masing menuju ke tempat yang sepi. Ada yang menyembelihnya di kebun, di dalam rumah, di kamar, di bawah tempat tidur, di sawah, dan lain sebagainya. Ia merasa tidak bisa menyembelih ayam di tempat yang sepi tanpa dilihat orang lain sesuai pesan kyai.

Ia mencoba masuk ke tengah kebun. Namun, sesampainya di sana ia bingung dan tidak jadi menyembelihnya. Kemudian ia masuk ke kamar lalu mengunci pintu rapat – rapat. Namun, ia tetap kebingungan sehingga gagal menyembelihnya. Lalu, ia ke sana kemari untuk mencari tempat yang sepi. Akan tetapi, ia tetap tidak mendapatkan tempat tersebut. Tempat yang tidak bisa dilihat orang lain. Waktu yang disediakan telah habis. Dengan langkah mantap, satu per satu para santri maju dan menyerahkan hasil sembelihannya kepada sang Kyai.

Setelah semua santri maju, tinggallah seorang santri yang maju dengan ragu. Santri tersebut tidak bisa menyembelih ayamnya sehingga ia membawa ayam yang masih hidup. Teman – temannya semua heran, kenapa santri yang satu ini tidak taat pada Kyai. Ia maju dengan wajah yang pucat pasi karena merasa takut.

“Maaf Kyai, saya tidak bisa melaksanakan tugas yang diberikan Kyai,” ia melaporkan.

“Kenapa ayam itu tidak kamu sembelih ? Padahal, teman – temanmu telah menyembelihnya semua?” tanya Kyai. “Maaf Kyai ! Saya ternyata tidak dapat menemukan tempat yang sepi yang tidak dapat dilihat orang lain,” santri itu menjelaskan. “Mengapa?” tanya Kyai.

Santri itu berkata, “Bukankah Kyai sendiri yang menjelaskan bahwa di mana pun kita berada, Malaikat Rakib dan Atid selalu menyertai kita. Bukanka Kyai sendiri yang menerangkan bahwa tidak ada tempat yang lepas dari pengawasan Allah swt?”

Kyai menganggukkan kepala sambil tersenyum seraya berkat, “Benar kamu Nak! Itulah sebenarnya yang aku inginkan. Sayangnya, di antara semua muridku hanya kamulah yang mengerti maksudku.”

Kyai kemudian memberikan wejangan kepada para santrinya mengenai maksud ujian yang dilaksanakannya tadi.

Latihan

A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !

1. Dalam ilmu tauhid ada empat hal yang harus diimani oleh seorang mukmin, yaitu ketuhanan, kenabian, ruhaniyyāt, dan sam’iyyāt. Beriman kepada malaikat termasuk kategori ….

a. ketuhanan d. sam’iyyāt

b. kenabian e. malakutiyah

c. ruhaniyyāt

2.

Menurut Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 177 tersebut, menghadapkan wajah ke barat dan ke timur bukanlah suatu kebajikan. Akan tetapi, kebajikan itu adalah beriman kepada hal – hal yang berikut ini, kecuali ….

a. Allah swt d. para nabi

b. yang gaib e. hari akhir

c. malaikat

3. Orang yang menduskan keberadaan malaikat menurut Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 17 termasuk golongan orang ….

a. munafik d. zalim

b. fasik e. berdosa

c. kafir

4.

Hadis riwayat Imam Muslim tersebut menjelaskan tentang ….

a. sifat – sifat malaikat d. ketaatan malaikat

b. kejadian malaikat, jin, dan manusia e. kedudukan malaikat

c. keutamaan atau kelebihan malaikat

5. Malaikat adalah makhluk yang paling taat. Ketaatan malaikat itu berjalan stabil. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena malaikat ….

a. senantiasa beribadah d. memiliki akal yang sempurna

b. tidak memiliki hawa nafsu e. senantiasa bertasbih dan menyucikannya

c. banyak memiliki kelebihan

6. Ciri – ciri fisik malaikat diterangkan Allah swt dalam Al-Qur’an Surat ….

a. Fātri Ayat 1 d. Al-Mu’min Ayat 7

b. Fussilat Ayat 11 e. Al-Baqarah Ayat 34

c. Al-Baqarah Ayat 30

7. Malaikat yang bertugas mencabut nyawa adalah Malaikat ….

a. Atid d. Izrail

b. Israfil e. Ridwan

c. Rakib

8. Nama lain Malaikat Malik adalah ….

a. Zabaniyah d. Kiraman Katibin

b. Ruhul Karim e. Ruhul Amin

c. Maut

9.

Al-Qur’an Surat Qāf Ayat 18 tersebut menjelaskan tentang tugas dari Malaikat ….

a. Rakib – Atid d. Izrail – Israfil

b. Munkar – Nakir e. Jibril – Mikail

c. Malik – Ridwan

10. Berikut ini adalah beberapa fungsi iman kepada malaikat, kecuali ….

a. memurnikan akidah dari kemusyrikan

b. mendorong manusia untuk melakukan kebaikan

c. membuat manusia waspada dan hati – hati dalam bertindak

d. membuat manusia semakin akrab dengan para malaikat

e. sadar bahwa meminta pertolongan kepada malaikat akan merendahkan martabat manusia

B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat!

1) Sebutkan tiga aspek keimanan !

2) Sebutkan perbedaan manusia dengan malaikat dilihat dari asal kejadiannya !

3) Bagaimanakah kedudukan manusia dibandingkan makhluk lain menurut Al-Qur’an Surat Al-Isrā’ Ayat 70 ?

4) Kemukakan lima amalan yang dihadiri dan didoakan oleh malaikat !

5) Sebutkan alasan mengapa manusia memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding malaikat !

Lembar Portofolio

1) Diskusikan mengapa banyak orang Islam yang belum mau mengeluarkan zakat mal!

2) Diskusikan mengenai pengelolaan zakat sehingga membawa manfaat pada pengentasan kemiskinan !

Hikmah

Temanmu yang sejati adalah yang bisa membuatmu menangis bukan yang bisa membuatmu tertawa.

Read Full Post »

semesteran

ULANGAN AKHIR SEMESTER 1

TAHUN PELAJARAN 2006/ 2007

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam

Kelas : X

Hari/ Tanggal : Kamis, 7 Desember 2006

Waktu : 10.00-11.30

Jangan lupa “berdoalah”, semoga diberi kemudahaan Allah SWT.

I. TES OBYEKTIF

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat dan berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada lembar jawab yang tersedia.

  1. Menurut surat al-Mukmin : 67, manusia diciptakan dari ‘alaqah artinya ….

a. segumpal daging d. air mani

b. segumpal darah e. sperma

c. tanah

  1. Nun mati bertemu dengan ta’ dalam مِّن تُرَابٍ dibaca dengung dan samar-samar karena merupakan bacaan …..

a. izhar d. iqlab

b. idgham e. qalqalah

c. ikhfa’

  1. Hukum bacaan pada potongan ayat مَن يُفْسِدُ adalah ….

a. idgham bigunnah d. izhar

b. ikhfa’ e. mad thabi’i

c. idgham bilagunnah

  1. Arti y“$u‹øtxCur dalam surat al-An’am : 162 adalah ….

a. ibadahku d. amal baikku

b. dan hidupku e. hidupku

c. dan hidup-matiku

  1. Makna secara utuh مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ dalam QS. Al-Bayinah : 5 adalah …..

a. mendirikan salat untuk Allah d. supaya menyembah Allah

b. menunaikan zakat e. beramal dengan ikhlas

c. menjalankan agama Islam

  1. Perhatikan soal nomor 5. Hukum bacaan kata bergarisbawah adalah …..

a. al qamariyah b. al syamsiyah c. izhar d. ikhfa’ e. idgham

  1. Alam ini ada yang menciptakan yaitu Allah. Dia ada walaupun tidak kelihatan dan kita wajib mengimaninya, karena bagi-Nya sifat ….

a. baqa’ b. qidam c. wujud d. qudrat e. wahdaniyah

  1. Allah maha melihat karena bersifat bashar dan mustahil bersifat ….

a. maut b. jahlu c. shamam d. ‘ama e. abkam

  1. Allah tidak memerlukan bantuan hamba-Nya dalam memelihara alam ini. Pernyataan tersebut sesuai dengan sifat Allah …

a. wujud d. qiyamuhu binafsihi

b. qidam e. mukhalafatuhu lil hawaditsi

c. baqa’

  1. Allah maha menghitung amal hamba-Nya, karena Dia punya asma’…..

a. al-ghaffar b. al-hasib c. al-hakim d. al-malik e. al-‘adl

  1. Perasaan yang tidak baik pada seseorang, termasuk dalam perbuatan ….

a. su’udzan d. akhlakul hasanah

b. husnudzan e. husnul khatimah

c. akhlakul mazmumah

12. Ayat 12 surat al-Hujurat berikut

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qç7Ï^tGô_$# #ZŽÏWx. z`ÏiB Çd`©à9$# žcÎ) uÙ÷èt/ Çd`©à9$# ÒOøOÎ) (

melarang kita untuk …..

a. mencari kesalahan orang d. menjelek-jelekkan orang lain

b. berburuk sangka e. memfitnah

c. menggunjing orang lain

  1. Perilaku yang menunjukkan berbaik sangka kepada Allah adalah ….

a. tidak menganiaya diri d. menjaga hati dan perbuatan

b. proporsional kepada orang e. positive thinking pada orang

c. optimis dan tidak berkeluh kesah

  1. Mengkonsumsi putaw menurut hukum taklifi termasuk perbuatan ….

a. al-karahah d. at-tahrim

b. al-ijab e. an-nadb

c. al-ibahah

  1. Merawat jenazah kaum muslim hukumnya …..

a. fardhu ‘ain d. makruh

b. sunnah muakad e. fardhu kifayah

c. mubah

  1. Kitab suci kita “al-Qur’an” secara bahasa, berarti ……

a. bacaan b. firman Allah c. kitab suci d. kalamullah e. mukjizat

  1. Ibunda Aisyah ra. pernah melihat Nabi SAW salat tarawih dengan rakaat 4-4-3. Riwayat hadis ini termasuk hadis …..

a. fi’liyah d. kauniyah

b. taqririyah e. hammiyah

c. qauliyah

  1. Ayat berikut مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ merupakan dalil ….

a. keharusan menjalankan ajaran para rasul Allah

b. jika mentaati rasul berarti taat pada Allah

c. keharusan menjadi hadis sebagai sumber hukum kedua

d. taat pada Allah berarti mempercayai adanya rasul Allah

e. rasulullah sebagai pesuruh Allah

  1. Hadis riwayat Imam Bukhari-Muslim termasuk kategori ….

a. hadis dhaif d. hadis hasan

b. hadis sahih e. hadis munkar

c. hadis maudhu’

  1. Salah satu fungsi hadis terhadap Quran adalah Bayan wat-Tasyri, artinya ..

a. menjelaskan ayat-ayat Quran yang masih global

b. menghapus suatu hukum yang tidak berlaku lagi

c. mewujudkan hukum yang tidak ada dalam Quran

d. mempertegas hukum-hukum dalam Quran

e. menjelaskan hukum yang belum detail

  1. Aborsi disamakan dengan membunuh sehingga haram hukumnya bagi orang yang melakukannya. Hal ini termasuk ijtihad dengan cara …..

a. ijma’ b. qiyas c. istishab d. maslahah mursalah e. ‘urf

  1. Amal apakah yang pertama kali dihitung pada hari qiyamat?

a. puasa yang wajib dan sunah d. syahadatain

b. amalan kebaikan semasa hidup e. shalat

c. zakat dan sedekah

  1. Membaca doa iftitah dalam shalat hukumnya …..

a. wajib b. sunah c. makruh d. haram e. mubah

  1. Di bawah ini yang tidak termasuk shalat sunah adalah ……

a. shalat jenazah d. shalat tarawih

b. shalat tahiyatul masjid e. shalat tahajud

c. shalat istisqa’

  1. Yang bukan hikmah shalat adalah ….

a. dapat mencegah dari keji dan munkar

b. menumbuhkan perasaan malu membuka aurat

c. membina kedisplinan dalam banyak hal

d. menumbuhkan sifat sabar

e. menghapuskan dosa besar

  1. Di bawah ini yang bukan puasa sunah adalah puasa …..

a. senin-kamis d. dawud

b. arafah e. jumat

c. syawal

  1. Puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah disebut puasa …..

a. syawal b. dawud c. mutlak d. arafah e. putih

  1. Perbuatan yang tidak merusak nilai puasa adalah, kecuali ….

a. mimpi basah d. syahwat karena melihat pornografi

b. tidak sengaja makan e. tidak shalat tarawih

c. tidak sengaja muntah

  1. Raja yang menyerang Kakbah dengan bala tentara gajah ………

a. Abraham b. Ababil c. Abrahah d. Fir’aun e. Negus

  1. Firman Allah yang kedua turun kepada Nabi SAW adalah surat …..

a. al-Mudatsir : 1-7 d. al-Mudatsir : 1-5

b. al-Alaq : 1-5 e. al-Alaq : 1-4

c. al-Muzamil : 1-5

  1. Berikut ini nama-nama sahabat ra. yang awal masuk Islam, kecuali ….

a. Abu Hurairah d. Abdurrahman bin ‘Auf

b. Ali bin Abi Thalib e. Thalhah bin Ubaidillah

c. Ustman bin Affan

  1. Berikut ini faktor yang membuat kaum kafir sangat gencar menghalangi dakwah Nabi SAW, kecuali …..

a. kaum kafir menyamakan kenabian dengan ketundukan mutlak

b. kebencian terhadap Nabi sejak lama

c. produsen dan distributor berhala kehilangan omzet

d. kaum kafir memegang teguh penyembahan berhala

e. ajaran tentang kiamat dan kebangkitan kembali ditolak kaum kafir

  1. Raja Habsyah yang melindungi kaum muslimin yang hijrah adalah ……

a. Aus d. Pontius

b. Khazraj e. Aqabah

c. Negus

  1. Tahun kesedihan terjadi setelah meninggalnya …..

a. Abdullah dan Khadijah d. Abu Thalib dan Khadijah

b. Abu Thalib dan Abu Jahal e. Abu Thalib dan Fatimah

c. Khadijah dan Abdul Muthalib

  1. Perjalanan Nabi SAW dari masjidil aqsha menuju Sidratul Muntaha disebut:

a. isra’ d. hijratun nabiy

b. mi’raj e. rihlatul lail

c. isra’-mi’raj

  1. Ketika Nabi SAW berdakwah di Thaif, respon masyarakat dan pemuka ….

a. mengejek, mencaci, diusir, dan melempari dengan batu

b. diterima dengan baik

c. dielu-elukan dan dirindukan

d. dicaci dan diusir, tanpa disakiti tubuh beliau

e. disambut raja setempat dengan upacara kenegaraan

  1. Bai’at yang dilakukan wakil penduduk Yatsrib pada tahun 11 kenabian …..

a. Bai’at Aqabah I d. Bai’at Aqabah II

b. Bai’at Aqabah III e. Bai’at Yatsrib

c. Bai’at ar-Ridwan

  1. Gua tempat nabi bersembunyi dengan Abu Bakar ra. ketika hijrah ……..

a. Tsur d. Jabal Nur

b. Hira e. Jabal Rahmah

c. Thaif

  1. Masjid yang pertama kali dibangun Nabi SAW ada di ……

a. Yatsrib d. Thaif

b. Makkah e. Quba

c. Madinah

  1. Yatsrib adalah nama lain kota …..

a. Jeddah d. Maghrib

b. Madinah e. Syam

c. Makkah

II. TES ESSAI

JAWABLAH SOAL-SOAL BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN BENAR

  1. Bagaimana proses kejadian manusia hingga mati menurut surat al-Mukmin ayat 67?
  2. Apakah arti :

a). asma’ul husna b). qiyamuhu bi nafsihi c). mukhalafatuhu lil hawaditsi

  1. Apakah : a). husnuzan itu, b). keuntungan orang yang husnuzan pada Allah
  2. Apa arti : a). ijtihad b). ijma’
  3. Apa keuntungan salat berjamaah?

JAWABLAH SOAL-SOAL BERIKUT DENGAN BENAR

  1. Apa : a). fungsi al-Quran b). fungsi hadis terhadap al-Quran
  2. Apa keuntungan membayar zakat, baik bagi kita atau orang yang menerima?
  3. Siapa nama :

a). ibu yang menyusui Nabi SAW, b) pendeta yang bertemu dengan Nabi

c). dua suku yang bertempur dan akhirnya damai dan memeluk Islam

  1. Di manakah :

a) kaum muslim pertama kali hijrah b) masjid pertama kali dibangun Nabi

c) rute perjalanan isra’ dan mi’raj Nabi SAW

  1. Bagaimanakah :

a) cara dakwah nabi b) rintangan yang dihadapi Nabi SAW dalam dakwah

c) sambutan penduduk Thaif terhadap dakwah Nabi SAW

KERJAKAN SESUAI PERINTAH DENGAN TULISAN YANG TERBACA JELAS

Ó Selamat mengerjakan Ô

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.